22

3.6K 203 1
                                        

        Maaf typo bertebaran!!!



     Happy reading :-)





       Dini dan Revan baru saja sampai di apartemen.sejak dalam perjalanan tadi Revan melihat dini murung.Tak ada percakapan apapun yang keluar dari bibirnya.Revan tak suka dengan keadaan sekarang ini,jadi dia mencoba untuk membuka pembicaraan.

      "Kenapa murung,hmmm?"Revan duduk disebelah dini.

      Dini belum juga mengeluarkan suaranya.dia hanya melihat Revan sambil tersenyum kecil.

     "Apa kamu menyesal karena ikut mas pindah?"tanya Revan lagi karena masih penasaran dengan dini yang masih betah dalam diam.

     "Bukan itu mas,"dini baru membuka bibirnya,mendengar suara dini Revan tersenyum samar."sebenarnya dini gak tega ngeliat mama tadi,mama keliatan sedih kita pindah.tapi dini gak bisa berbuat apa-apa."Dini masih teringat wajah mamanya yang terlihat berkaca-kaca menahan airmata.

      "Sayang dengerin mas,kamu sekarang sudah bersuami,jadi mama gak bisa melarang kamu untuk ikut pindah bersama mas.kamu tau saat mas mengutarakan niat mas untuk pindah ke apartemen,mama langsung setuju,mama bilang tempat istri adalah di dekat suaminya.mungkin tadi mama bersedih karena putri kesayangannya telah diambil orang."jelas Revan dengan sedikit candaan di kalimat terakhirnya.

     Dini tertawa kecil mendengar candaan Revan."rupanya mas Revan yang dingin ini bisa bercanda juga."olok dini  masih sambil tertawa.

      "Apapun untukmu sayang,mas akan ngelakuin apapun untuk membuat mu tersenyum bahagia,"

     "Baiklah..karna Sekarang dini sudah kelelahan,bagaimana kalau mas bantu dini ngeberesin barang dini.Dini bingung mau mulai beresin apa" ujar dini memperhatikan barang pindahan yang berserakan di sekelilingnya.

     Melihat itu Revan terkekeh pelan,dia lupa kalau dia menikahi seorang gadis putri kerajaan yang tak bisa mengerjakan apapun."tenang sayang,besok barangnya di beresin sama bibi.sekarang kita makan malam dulu,tadi mas udah pesan go food.yuk!!"

       Sambil makan,dini melihat Revan dengan rasa tak enaknya."maaf mas,dini gak bisa ngerjain apa-apa.mas sampai harus pesan diluar kalau makan."Dini pun menunduk sedih.

     "Gak perlu sedih sayang,mas ngerti kok.mas juga udah terbiasa hidup dilayani sama bibi.jadi kamu gak perlu khawatir."

     "Tapi aku juga pengen bisa masak buat kamu mas,kayak istri orang."

      Revan menepuk kepala dini lembut dan berkata"kamu bisa belajar perlahan untuk itu,mas gak pernah memaksa kamu untuk menjadi seperti orang lain.jadi kamu gak perlu memaksakan diri,mas gak mau kamu kepikiran dan berakhir sakit nantinya,paham kan."jelas Revan panjang lebar.

     Dini menganggukkan kepalanya tanda dia sudah paham.betapa beruntungnya dia mempunyai seorang suami yang super pengertian seperti mas Revan.andai dia menolak perjodohan kemarin,pasti dia akan menyesal seumur hidupnya.



       Revan baru saja selesai mandi,badannya yang tadinya terasa lelah,kini kembali bertenaga.malam ini dia akan memeriksa beberapa tugas muridnya.tak lama dini masuk dengan secangkir teh hangat.

    "Diminum mas,tadinya dini mau buat kopi tapi yang ada hanya teh,ini pertama kalinya dini buat teh sendiri,semoga mas suka."ucap dini dengan wajah yang berbinar.

     "Terima kasih sayang"tanpa menunggu lagi Revan meminum teh pertama buatan dini,saat ditegukan pertama Revan langsung terdiam,matanya terpejam apa ini....rasanya sangat manis.Apa dini ingin gue terkena penyakit diabetes.pikirnya.

My Husband,my Teachers (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang