Tidak terasa usia pernikahan Argenta dan Joana sudah berjalan satu bulan. Tidak banyak yang berubah dalam sikap Joana kepada suaminya itu, namun sebagai ibu, Joana telah melakukan tugasnya dengan baik. Tapi bagi Argenta itu sudah lebih dari cukup.
Memasuki usia kehamilan yang ketiga, kondisi kesehatan Joana berangsur-angsur semakin membaik. Hanya saja perutnya masih terlihat rata, sehingga kalau sekilas tidak ada yang menyadari bahwa dirinya sedang berbadan dua.
"Josan, mana?" Argenta yang baru saja pulang kerja bertanya kepada Joana yang kebetulan berpapasan dengannya di dapur. Malam itu ia pulang lebih lama dibandingkan hari-hari biasanya. Tampilannya yang tidak serapi tadi pagi ditambah dengan wajah letih, membuat Joana tahu bahwa Argenta pasti telah melalui hari yang berat.
"Sudah tidur." Jawab Joana singkat. Sedikit pun tidak ada niatnya untuk menerangkan keadaan Josan seharian ini lebih lanjut. Seperti biasa, komunikasi mereka sama sekali tidak ada perkembangan.
"Maaf, tadi aku ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan." Argenta masih berusaha membuka pembicaraan dengan menjelaskan alasannya pulang terlambat. Masalah yang dialami perusahaannya membuatnya harus menemui beberapa orang hingga tengah malam.
Sayangnya Joana sama sekali tidak peduli. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Tentu saja reaksi yang ditunjukkan oleh Joana lantas membuat Argenta sedikit kecewa. Sejujurnya, ia berharap istrinya itu sedikit mengkhawatirkannya. Atau paling tidak menunjukkan kekesalan karena membiarkan dirinya mengurus Josan sendirian. Tapi sepertinya itu hanya khayalannya saja. Mana mungkin istrinya itu repot-repot mau memikirkan dirinya?
Melihat keterdiaman Argenta, Joana merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Karena itu ia memutuskan untuk segera pergi meninggalkan Argenta sendirian. Namun belum jauh ia melangkah, telinganya mendengar suara berisik dari arah dapur. Ia menebak sepertinya Argenta sedang mencari-cari makanan untuk dimakan.
Sesaat Joana merasa ragu. Setengah hatinya tak tega membiarkan suaminya itu terlihat kebingungan, namun di sisi lain Joana merasa itu bukan tugasnya. Hatinya yang keras mengingatkan bahwa Argenta bukanlah anak-anak yang tidak tahu apa-apa.
Tapi hati kecil tidak bisa dibohongi. Sekeras apapun Joana menyangkal, tetap saja nurani wanita itu yang bertindak. Mengambil nafas dalam, akhirnya Joana berbalik menghampiri Argenta.
"Ada yang bisa kubantu?"
Pertanyaan Joana berhasil membuat Argenta terkejut. Ia pikir istrinya itu sudah masuk ke dalam kamarnya, karena itu ia berani beraksi di dapur demi mencari sesuatu yang bisa dimakan. Argenta jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah perbuatannya barusan membuat istrinya terganggu?
Tak dapat mengelak lagi, Argenta memutuskan untuk berbalik menghadap istrinya itu sambil menggaruk keningnya pelan. Ia masih berpikir untuk memberikan jawaban apa kepada Joana atas tindakannya barusan. Tentu saja ia malu bila harus mengatakan bahwa dirinya sedang mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Masalah di perusahannya sangat menyita perhatian Argenta, sehingga membuatnya lupa mengisi perutnya dari tadi siang.
"Mm...aku sedang mencari..." Argenta mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia mencoba mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikannya alasan."
"Kamu sudah makan?" potong Joana cepat.
Argenta terdiam sesaat. Kemudian dengan malu-malu ia menggeleng pelan. "Tadi aku sedang mencari makanan yang bisa dimakan. Maaf, kalau itu mengganggumu." Argenta akhirnya menjawab jujur sambil menampilkan wajah bersalah. Dengan itu ia berharap Joana tidak marah kepadanya.
Joana menarik nafasnya pelan, kemudian tanpa mengatakan apapun ia melangkah melewati Argenta yang masih berdiri di didepannya. "Pergilah ke meja makan, biar kupanaskan makanan untukmu sebentar," ucapnya tanpa melihat Argenta.

KAMU SEDANG MEMBACA
Untukmu Segalanya
RandomSekuel 'Terukir indah namamu' "Aku akan memberikan segalanya kepadamu. Hatiku, pikiranku, bahkan jiwa ini akan kuberikan untukmu. Agar kamu mengetahui bukti kesungguhan cintaku." -Argenta Gunawan- Karena kesalahannya di masa lalu, Argenta harus keh...