Barata sendirian saat Joana memutuskan untuk membuka kedua matanya . Sedangkan Astri dan anak menantunya lagi pergi turun ke kantin bawah untuk mencari makan siang
Awalnya Indra menawarkan diri untuk menjaga Joana, agar ayahnya itu bisa mengisi perutnya. Namun Barata menolak tawaran baik putranya tersebut. Dirinya merasa tidak akan bisa memasukkan apapun kedalam perutnya sebelum memastikan putrinya itu sadar.
"Joana, Sayang...syukurlah kamu sudah sadar!" Barata tidak dapat menutupi kebahagiaannya saat melihat Joana sudah sadar. "Mana yang sakit? Bilang sama papa, biar papa panggil dokter," tanyanya bertubi-tubi.
Joana menggelengkan kepalanya pelan. Tenggorokannya terlalu kering sehingga membuatnya sulit untuk mengeluarkan suara. "Pa...air..."pintanya pelan dengan wajah meringis menahan sakit.
Dengan cepat Barata langsung mengambil botol minuman di atas nakas, kemudian membantu Joana untuk minum. "Sudah?" tanyanya lembut ketika mata Joana mengisyaratkan ia sudah cukup minum.
"Sudah, Pa..." kali ini Joana sudah bisa mengeluarkan suaranya, walaupun terdengar cukup pelan.
"Apa lagi yang kamu inginkan, sayang?" Barata kembali bertanya dengan penuh kelembutan. Tangan tuanya tak lepas mengelus puncak kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Tolong bantu Ana duduk, Pa,"
"Apa tidak masalah?" Barata terlihat ragu menyanggupi permintaan putrinya tersebut.
"Ana masih bisa kalau hanya untuk duduk, Pa." Joana mengatakan itu sambil mencoba tersenyum tipis. Ia ingin menunjukkan bahwa kondisinya baik-baik saja.
Mau tak mau akhirnya Barata menurutinya juga. "Mama, Mas dan mbakmu sedang pergi ke kantin," beritahu Barata agar Joana tidak mencari keberadaan yang lainnya.
Joana sudah tahu itu, tapi ia hanya mengangukkan kepalanya pelan. "Ana sakit apa, Pa?" tanyanya langsung.
Barata yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu langsung sedikit gelagapan. Ia merasa dilema. Takutnya Joana tidak siap menerima berita yang akan disampaikannya.
"Kata dokter kamu hanya kelelahan." Barata memilih memberi jawaban aman.
Mendengar jawaban yang diberikan ayahnya, Joana sedikit merasa kecewa. Ia menyayangkan ketidakjujuran ayahnya tersebut.
"Tapi aku sempat mendengar bahwa aku hamil. Benarkah itu, Pa?" Joana menatap ayahnya dengan penuh tuntutan.
Mendapat serangan seperti itu membuat Barata kalang kabut. Ia tidak menduga Joana mengetahui kebenarannya. "Sayang..." tak bisa mengelak lagi, Barata memutuskan untuk mengulur waktu. "Kamu perlu istirahat. Jadi jangan pikirkan yang berat dulu."
"Tapi aku harus berpikir Pa, ketika mendengar Mama berencana ingin menggugurkan kandungan Ana." Pernyataan Ana bagaikan guntur di pendengaran Barata. Ia tidak menyangka putrinya tersebut mengetahui rencana tidak masuk akal istrinya. "Kenapa kalian harus sekejam itu kepada Ana?" Emosi yang dirasakan Joana membuat air matanya jatuh.
Melihat air mata Joana membuat Barata terdiam seribu bahasa. Ia tahu kali ini tindakan sudah sangat keterlaluan menyakiti putrinya. "Sampai dimana kamu mengetahuinya?" Barata ingin memastikan apa yang diketahui oleh Joana.
Joana mengusap pipinya kasar. "Ana mendengar semuanya mulai dari awal, tanpa ada yang terlewat."
Barata menarik nafas dalam. Kali ini tidak ada lagi celah baginya untuk mengelak. "Mamamu hanya mengkhawatirkan dirimu. Baginya mungkin itu yang terbaik. Tapi semua keputusan ada di tanganmu." Barata mencoba bersikap bijak. Sebagai kepala keluarga ia tidak memanasi hubungan antara anak dan istrinya. Bagaimana salahnya pun istrinya, Barata wajib menutupi aibnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Untukmu Segalanya
RandomSekuel 'Terukir indah namamu' "Aku akan memberikan segalanya kepadamu. Hatiku, pikiranku, bahkan jiwa ini akan kuberikan untukmu. Agar kamu mengetahui bukti kesungguhan cintaku." -Argenta Gunawan- Karena kesalahannya di masa lalu, Argenta harus keh...