Argenta menepati janjinya.
Menjelang dini hari, mereka semua dapat membawa jenazah Frans pulang ke Jakarta. Dengan menggunakan pesawat keluarganya maka semuanya menjadi lebih mudah.
Sebelumnya, Argenta sudah lebih dulu mengabari keluarga mertuanya. Ia menceritakan semua yang terjadi terhadap putri mereka satu-satunya. Karena itu tak heran, setibanya mereka di bandara, keluarga mertuanya sudah berkumpul menyambut kedatangan mereka.
Isak tangis kembali lagi terdengar saat Joana turun dari pesawat. Satu persatu anggota keluarganya bergantian memeluknya. Hati orangtua mana yang tidak hancur melihat putrinya berduka. Sesalah apapun buah hatinya itu, tetap saja orangtua tidak ingin anaknya terluka dan bersedih. Luruh sudah kemarahan mereka terhadap Joana.
Tak ada yang bicara saat itu, air mata cukup menggambarkan perasaan mereka semua.
"Ikhlaskan suamimu, nak. Papa yakin Frans pasti tidak suka kamu menangis terus," Papanya Joana berusaha menghentikan tangisan putrinya yang tak juga berhenti. Dengan penuh kasih sayang ia mengusap air mata di pipi putrinya itu dengan lembut.
Tak ada jawaban, namun Joana berusaha untuk mengendalikan tangisannya. Tapi semakin ia berusaha, dadanya semakin terasa sesak.
"Maafkan Frans ya, Pa..." mohon Joana dalam tangisnya. "Maafkan Frans, Ma, Mbak, Mas..." dengan sesenggukan Joana mengucapkan kata maaf kepada satu persatu keluarganya, seperti yang dipesankan almarhum suaminya sebelum menutup mata.
Papa Joana menganggukkan kepalanya. Dengan tulus ia memaafkan semua kesalahan suami putrinya itu. Walaupun ia tidak menyukainya, namun bukan berarti ia mengiinginkan kejadian seperti ini. Sama seperti orang tua lainnya, ia juga berharap putrinya bahagia. Begitu juga dengan Mama, mbak dan juga mas nya.
Sesuai kesepakatan bersama, mengingat Frans tidak memiliki keluarga lagi, Joana dan Arman setuju agar Frans tidak usah lagi dibawa ke rumah duka, melainkan langsung dimakamkan saja.
Argenta mempersiapkan semua dengan sempurna. Bahkan untuk baju hitam yang dikenakan Joana, Laura dan Arman, ia juga yang menyediakan. Sebelum berangkat, ia menyuruh orang suruhannya untuk mengantarkan baju tersebut ke rumah sakit.
Pagi itu langit tampak mendung. Iring-iringan mobil berjejer mengantarkan jenazah Frans sampai ke tempat pemakaman.
Joana memilih tetap mendampingi Frans di mobil ambulance. Ia ingin menikmati kebersamaan bersama suami tercintanya itu hingga di detik-detik terakhir.
Selama proses pemakaman, Joana terus didampingi Mamanya dan Laura. Kedua wania itu terus berada di sampingnya sambil membisikinya agar dia tetap kuat.
Kali ini, tangis Joana sudah tidak sekeras tadi lagi. Yang tersisa tinggal isakan kecil yang terdengar sesekali. Namun ketika peti jenazah diturunkan ke liang lahat, tangisnya kembali pecah. Ia sampai jatuh terduduk saat melihat perlahan-lahan gumpalan tanah dijatuhkan untuk menutupi peti, hingga tak terlihat lagi.
Artinya, mereka telah benar-benar berpisah untuk selamanya.
"Frans..." lirihnya pedih. Joana berharap ini semua hanya mimpi.
Usai pemakaman, satu persatu para pelayat berdatangan untuk menyalami Joana, sekaligus mengucapkan kalimat belasungkawa. Tidak banyak yang hadir, cuma beberapa kenalan dekat Frans yang sempat dihubungi oleh Arman.
Di antara pelayat yang ada, terlihat keluarga Argenta turut hadir. Kedua orangtua Argenta tersebut ikut mengucapkan belasungkawa kepada Joana dengan tulus. Mereka tidak menyangka mantan calon menantunya itu harus mengalami menjadi janda dalam waktu yang begitu singkat. Bahkan Josan yang turut dibawa serta, memberikan pelukan kepada bunda tersayangnya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Untukmu Segalanya
AcakSekuel 'Terukir indah namamu' "Aku akan memberikan segalanya kepadamu. Hatiku, pikiranku, bahkan jiwa ini akan kuberikan untukmu. Agar kamu mengetahui bukti kesungguhan cintaku." -Argenta Gunawan- Karena kesalahannya di masa lalu, Argenta harus keh...