17

7K 951 111
                                    

"Mami tidak mau ikut!" Indri menunjukkan kekesalannya kepada suaminya. Semua itu karena malam ini mereka diminta Argenta untuk melamar Joana secara resmi. Awalnya Indri menolak dengan keras, namun ia tidak bisa bersikeras saat suaminya malah terlihat mendukung rencana putranya tersebut.

"Tidak boleh seperti itu, Mi." Danu mencoba memberi pengertian kepada sang istri.

"Argenta keterlaluan, kenapa harus Ana lagi?  Belum lagi ia sudah mengandung anak orang. Kenapa harus gini sih Pi, nasib kita..." sungut Indri kepada suaminya. "Padahal ada jelas-jelas Marinka di depan mata. Kok bisa ya, anak kita sebodoh itu, Pi?" lanjut Indri mengeluarkan isi hatinya.

"Sudahlah, Mami. Kita sebagai orangtua hanya bisa mendoakan kebahagiaan anak kita. Kalau Joana adalah kebahagiaan Argenta, kita bisa apa?" ucap Danu bijak.

"Tapi kan Pi, gak harus istri orang. Apa gak malu nanti kita dibicarakan sama semua orang?"

"Jadi, kita mau bagaimana?" Danu menatap istrinya itu dengan lekat. "Takutnya, kalau tidak kita turuti, putra kita itu akan bertindak sendiri. Bertindak sendiri sama saja artinya dia akan menjauh dari kita. Mau Mami seperti itu?"

Indri langsung menggeleng cepat. Jangan sampai itu terjadi. Demi Tuhan, ia tidak sanggup harus dijauhi oleh Argenta.

"Ya sudah, kalau tidak mau, berarti kita harus menuruti permintaannya. Sekarang ayo kita ke luar, Genta dan Josan sudah menunggu kita dari tadi."

Dengan terpaksa, akhirnya Indri mengikuti suaminya keluar dari dalam kamar. Tapi tetap saja hatinya masih tidak ikhlas untuk menjadikan Joana sebagai menantunya.

"Eyang!" Josan yang pertama kali melihat kedua kakek neneknya segera berlari menghampiri mereka. Malam ini penampilan Josan terlihat lebih rapi dari hari biasanya.
"Lama sekali Eyang keluar dari kamar, Josan pikir kita gak jadi pergi ke rumah Bunda?" tanyanya polos.

Mau Eyang juga gitu. Ingin rasanya Indri mengatakan hal itu. Namun ia tidak sampai hati melihat binar di mata anak dan cucunya itu redup akibat perkatannya.

Argenta yang malam ini mengenakan batik berwarna biru segera bangkit dari duduknya. Berbeda dengan putranya yang semangat, pria itu malah gugup setengah mati. Tapi dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak menampilkannya. "Papi, bisa kita berangkat sekarang?" tanya Argenta tidak sabar.

"Sudah, sudah. Ayo kita segera berangkat," Danu yang mengerti akan kegelisahan Argenta tersenyum maklum. Sedangkan Indri masih tetap memasang wajah cemberut. Untungnya Argenta sama sekali tidak begitu memperhatikannya.

Di dalam mobil menuju kediaman Joana, hanya Josan yang terus asik berceloteh riang. Bocah kecil itu belum bisa memahami kemelut orang dewasa yang duduk di dekatnya. Sedangkan Argenta dan Indri, larut dalam pikirannya masing-masing. Hanya Danu yang sesekali terlihat mengajak Josan bicara.

Setibanya di rumah Joana, Josan lebih dulu turun dari dalam mobil meninggalkan ketiganya. Bocah itu tak sabar untuk menemui Bunda Ananya. Bunda yang sebentar lagi akan tinggal bersamanya.

"Gen, ini rumah siapa?" Indri yang baru pertama kali datang ke rumah tersebut, bertanya dengan penasaran.

"Rumah Ana, Mi." Beritahu Argenta singkat.

"Oh, maksud kamu rumah baru mereka, gitu?" tanya Indri memastikan sambil mengamati sekeliling bangunan rumah tersebut. Cukup nyaman, hanya ukurannya jauh lebih kecil dari kediamannya.

"Bukan. Ini rumah Ana sendiri." Jawab Argenta menjelaskan.

"Maksud kamu, dia beli rumah baru?" Danu yang dari tadi ikut menyimak pembicaraan, ikut penasaran juga.

Untukmu SegalanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang