10

9.4K 1K 91
                                    

"Ayah, Josan rindu Bunda. Kapan kita ke tempat Bunda lagi, Ayah?" Pertanyaan yang diajukan Josan berhasil menghentikan gerakan Argenta Argenta sedang bersiap-siap mengantar Josan ke sekolah dipagi hari.

Mencoba tetap tenang, Argenta menatap putranya dengan lembut. "Nanti kalau Bunda sudah sehat, kita akan menemui Bunda." Argenta mencoba menutupi kenyataan dari putranya. Sedari awal, Argenta tidak memberitahu putranya bahwa keluarga Joana melarang mereka untuk bertemu. Ia tidak ingin membuat hati Josan merasa terluka.

"Kenapa Bunda lama sekali sembuh, Ayah?" tanya Josan polos. Pikiran anak-anaknya, tidak bisa membedakan keadaan seperti apa yang sedang dialami bunda tersayangnya tersebut. "Ayah, bagaimana kalau kita bawa saja Bunda ke rumah sakit? Biar diobati dokter, jadi Bunda gak sakit lagi," ujar Josan antusias. Ia belum tahu bahwa masalah orang dewasa tidak sesederhana itu.

Tidak ingin mengecewakan putranya, Argenta mengangguk pura-pura tertarik dengan ide putranya tersebut. "Baiklah, kalau begitu akan Ayah sampaikan sama Bunda biar mau berobat ke dokter. Nanti Ayah bilang, Josan yang suruh, setuju?"

"Setuju!" Josan mengangguk semangat.

Melihat keceriaan putranya tersebut, membuat Argenta tidak tahan untuk segera membawa Josan ke dalam pelukannya. "Putra kesayangan Ayah," ucapnya penuh sayang.

"Josan juga sayang sama Ayah. Sayang....banget..." balasnya tak mau kalah, juga tak lupa memberikan kecupan cepat di pipi Argenta. Tak ayal tindakan kecil putranya itu membuat hati Argenta menghangat. Di antara sekian banyak masalah yang dihadapinya, Argenta bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat kecilnya itu untuk menemaninya. Hal yang dulu sempat disesalinya, kini menjadi anugrah terindah untuknya.

Setelah mengantarkan putranya sampai ke sekolah, entah kenapa Argenta memutuskan untuk melewati kediaman Joana. Pembicaraan tadi pagi dengan putranya, berhasil membuat Argenta kembali memikirkan wanita yang dicintainya itu.

Tidak, Argenta tidak berniat untuk mengingkari janjinya kepada Maminya. Argenta hanya ingin melihat keadaan Joana dari dalam mobil untuk mengobati kerinduannya. Ia menyadari tindakannya itu persis pengecut, namun Argenta berpikir bahwa itu lebih baik, agar tidak ada lagi yang merasa tersakiti.

Tidak ingin terlihat, Argenta sengaja memarkirkan mobilnya di seberang rumah Joana. Persis di bawah pohon rindang sehingga membuatnya sedikit sulit terlihat.

Rumah Joana terlihat sepi. Bahkan hingga hampir setengah jam Argenta menunggu, tak ada satu orang pun terlihat keluar dari rumah. Argenta nyaris menduga bahwa Joana dan keluarganya tidak ada di rumah. Namun dugaannya tersebut segera sirna saat ia melihat papa mertuanya keluar dari dalam rumah dengan panik. Terlihat jelas bahwa pria paruh baya itu seperti mencari orang untuk membantunya.

Tanpa pikir panjang, Argenta segera keluar dari dalam mobilnya. Setengah berlari, pria itu menyeberangi jalan untuk menemui ayah dari wanita yang masih dicintainya itu. Ia tidak peduli risiko apa yang akan dihadapinya nanti. Yang ada di kepalanya saat ini adalah ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam sana hingga membuat papa mertuanya sampai sepanik itu.

"Pa!" Argenta mendatangi mertuanya itu dengan wajah cemas.

"Genta?" Barata-Papanya Joana- terlihat terkejut dengan kemunculan menantunya tersebut

"Ada apa, Pa? Apa yang terjadi?" selidik Argenta. Ia yakin pasti ada sesuatu yang buruk terjadi.

"Joana, Gen! Joana pingsan di dalam kamar. Papa butuh orang untuk membantu mengangkatnya ke mobil!" beritahu Barata dengan panik. Sesaat dilupakannya pertikaian keluarganya dengan Argenta.

Argenta yang terkejut dengan info yang disampaikan mertuanya langsung ikutan panik. Dengan cepat pria itu langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi Joana.

Untukmu SegalanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang