24

12.1K 1.2K 176
                                    

"Saranghae..."

Joana bukannya tidak memahami arti dari perkataan yang keluar dari mulut Argenta barusan. Tidak perlu diulangi ia benar-benar tahu arti dari kata berbahasa korea itu. Joana juga dapat melihat bahwa Argenta tulus mengatakannya. Hanya saja hatinya sudah lama berhenti berdetak terhadap pria yang kini telah menjadi suaminya itu. Frans dengan kejam telah merampas seluruh rasa cinta yang dimilikinya hingga tak bersisa.

Sedari awal Joana telah memberitahukan hal itu kepada Argenta sebelum mereka sepakat untuk menikah. Dimana tanpa ada cinta dalam pernikahan mereka. Hubungan ini murni hanya karena untuk melindungi anak Frans yang sedang dikandungnya saat ini. Lalu kenapa sekarang suaminya itu malah berbalik mengingkari kesepakatan mereka dulu?

Sedangkan Argenta, begitu melihat keterdiaman Joana, perlahan senyum di wajahnya memudar. Ayah satu anak itu langsung tahu bahwa istrinya itu lagi-lagi menolak perasaannya untuk kesekian kalinya.

"Aku mau kembali ke sana," Joana mencoba menghindar dari Argenta.

Belum sempat Joana melangkah, Argenta sudah lebih dulu menahan pergelangannya. "Kenapa kamu selalu menolakku, Joana?" desisnya menuntut. Kalau sebelumnya Argenta bersikap mengalah, kali ini pria itu mengeraskan hatinya untuk tidak menuruti kemauan Joana.

"Sedari awal aku sudah mengatakan jawabannya kepadamu, Genta. Aku mau menjadi istrimu murni hanya karena ingin melindungi anakku. Jadi masalah perasaanmu sama sekali bukan urusanku." Dengan sengaja Joana kembali menyakiti perasaan Argenta.

"Tapi aku suamimu saat ini," sahut Argenta tak terima.

"Kalau begitu ceraikan aku. Jadi kamu tidak akan terbeban lagi dengan perasaanmu." Ujar Joana santai, namun berhasil memukul Argenta dengan telak.

"Semudah itu bagimu mengatakan itu?" ucap Argenta tak percaya. Ia tidak menyangka Joana berani sekali menggampangkan pernikahan mereka yang telah berjalan beberapa bulan ini. Meskipun diawali dengan tidak baik, namun Argenta telah berjanji akan tetap mempertahankan istrinya itu di sisinya hingga maut memisahkan.

Joana mengangukkan kepalanya cepat. "Aku tidak ingin bersamamu lagi, bila kamu terus menuntutku untuk membalas cintamu. Itu tidak akan pernah terjadi, Genta."

"Dan aku juga tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun. Jadi hentikan omong kosongmu itu sekarang!"

Joana menatap Argenta berang. Sejak kapan pria yang menjadi suaminya itu mulai berani membentaknya? Apakah ini memang sifat aslinya? Oh Tuhan, betapa menyesalnya dia menikahi pria pemarah seperti Argenta.

"Hentikan berpikir buruk tentangku, Ana." Argenta seolah dapat menebak pikiran negatif Joana.

"Siapa yang mau memikirkan dirimu?" dengus Joana kesal tak mau mengakui kekalahannya. "Rugi sekali aku harus membuang tenagaku hanya untuk memikirkanmu. Hatiku dan pikiranku semuanya sudah terisi penuh oleh Frans. Jadi tidak ada lagi tempat untukmu sampai kapan pun," ucap Joana berapi-api demi melindungi harga dirinya.

Dan terbukti yang Joana lakukan barusan berhasil menghancurkan harga diri Argenta sebagai seorang suami. Namun Argenta tahu dirinya tidak berhak marah. Perkataan Joana memang benar adanya. Tapi sebagai suami yang mencintainya, tidak bisakah Joana menghargai perasaannya sedikit saja? Apakah memang sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk meraih hati istrinya itu?

***

Semenjak itu, kondisi rumah tangga Joana dan Argenta kembali mendingin seperti di awal-awal pernikahan. Tak terdengar lagi candaan atau godaan Argenta yang biasanya selalu menghidupkan suasana rumah. Hanya sesekali mereka terlihat bicara, itu pun bila menyangkut kebutuhan Josan. Selebihnya keduanya terlihat saling menjauh enggan berdekatan. Khususnya Argenta.

Untukmu SegalanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang