Tersandung dan jatuh disebuah masalah, yang membuatku belajar akan banyak hal. Rasa memiliki rekan, teman, sahabat, dan keluarga. Mengharuskan ku membuka rahasia yang sudah kusembunyikan rapat-rapat. Menguak beberapa kisah kelam dan kenangan yang me...
Memasuki sebuah banguan tinggi, berisi buku-buku yang melapisi setiap sisi tembok. Rakyat Kerajaan Clover biasa menyebutnya menara Grimoire.
Yui datang untuk mendapatkan buku sihir itu, mengingat hampir semua penduduk kerajaan ini memilikinya. Mungkin dengan mempunyai Grimoire dan merubah penampilan, Yui dapat ke sana ke mari dengan mudah di kerajaan ini. Setelah membuat masalah yang menimbulkan banyak kecurigaan terhadapnya tadi.
"Kau sedang apa anak muda??" tiba-tiba muncul pria tua—kakek dari balik meja kayu besar. Mungkin dia yang menjaga menara ini. "Boleh ku ambil Grimoire ku sekarang??"
"Tentu. Tapi kenapa tidak datang beberapa hari yang lalu, saat diadakannya upacara penerimaan Grimoire??" kini kakek itu menatap Yui yang terdiam memikirkan alasan yang pas.
"Waktu itu aku sakit, jadi tidak bisa datang. Dan baru kemarin aku bisa turun dari ranjang, karena itu aku datang sekarang." Semoga saja dia tak curiga.
"Ah begitu, sekarang terimalah Grimoire-mu!!" Begitu mengatakannya, satu dari sekian banyaknya buku terbang ke arah Yu. Setelah tepat dihadapannya wanita itu mengambilnya dan melihat sekilas.
"Berdaun empat ya." Guman Yui seraya menyimpan Grimoire itu pada tas yang melingkar dipinggulnya.
"Grimoire berdaun tiga melambangkan 'Takdir, Harapan, dan Cinta'. Grimoire berdaun empat melambangkan 'Keberuntungan'. Dan Grimoire berdaun lima melambangkan iblis." Pria tua itu menjelaskan, "dan kau mendapat Grimoire berdaun empat. Ku harap kau menggunakannya sebaik mungkin."
"Baiklah, terimakasih telah membantu." Yui berbalik, berjalan menuju pintu keluar.
"Kau mendapat Grimoire berdaun empat, tapi kenapa aku tidak dapat merasakan mana-mu?" langkahnya terhenti mendengarnya. "Aku menyembunyikannya. Kenapa?"
"Tidak papa, aku hanya sedikit penasaran tentang itu. Kau boleh kemari kapan saja semau mu." Ia tersenyum ramah, "kau bisa merasakannya lain kali." ucap Yui dengan membuka pintu menara itu, dan keluar.
Mengeluarkan sapu itu dan terbang menuju hutan terdekat.
*****
Mencari tempat singgah dihutan cukup melelahkan, walaupun Yui sudah menemukannya sekarang. Ia berdiri di atas sebuah batu yang di kelilingi pohon, dengan sedikit jarak di antaranya. Beruntungnya cukup dekat juga dengan sebuah sungai.
Yui melepas jubah hitamnya, memperlihatkan tubuh yang terbalut baju lengan pendek berwarna hitam dan celana panjang senada di masukan ke dalam boots yang menutupi kaki hingga lutut, dan tas Grimoire berwarna coklat tua melingkar di pinggul.
Menghirup udara malam yang menenangkan, memikirkan bagaimana cara berlatih sihir agar lebih kuat.
Melipat jubah itu guna untuk bantalan penyangga kepala saat tidur, Yui menidurkan dirinya di atas batu, berniat untuk tidur. Mencari posisi senyaman mungkin, dan memandang langit gelap yang disinari sang rembulan.
Menutup mata dan tenggelam dalam mimpi. Menantikan hari esok, untuk berlatih.
*****
Pagi pun datang. Masih dengan duduk diatas batu, Yui membuka Grimoire itu. "Sihir air ya??" gumannya membaca tulisan di dalamnya.
Turun dari batu itu—masih tanpa memakai jubah. Lalu mengikat rambut hitam sebahunya menjadi satu lumayan tinggi. Mengeluarkan tongkat sihir yang ia beli kemarin bersama dengan tas Grimoire coklat itu.
Mengarahkan tongkat itu ke arah salah satu pohon di depan dan, "Sihir Air : Blue Spear." Muncul segumpul air yang membentuk tombak panjang di atasnya, dan meluncur membelah pohon itu menjadi dua bagian.
'boleh juga.'
Kini Yui mencoba, tanpa menggunakan tongkat sihir, "Sihir Air : Hunter Arrow." Perempuan itu mengarahkan serangan itu pada sebuah burung, panah itu mengejar kemanapun arah terbang si burung. Berbelok ke sana ke mari dan berakhir mati tertusuk panah itu.
Yui mengambil jubah hitamnya dan menghilangkannya menggunakan sihir kegelapan, karena ia berniat untuk memecahkan batu besar itu. Gadis itu mengepalkan tangan kanan dan menempelkannya disisi batu, menariknya berniat meninju, "Sihir Air : Lapisan Pelindung." Terbentuknya sihir air mengelilingi sekitar kepalan tangannya yang membantu memecahkan batu besar itu menjadi dua.
Yui terus melatih tiga sihir itu, sampai ia benar-benar menguasainya.
Ah—mungkin kalian juga penasaran kenapa Yui menolak perekrutan Ksatria Sihir kemarin.
Sebenarnya ia hanya memang mencari sebuah informasi tentang para Komandan Sihir, kenapa? Karena diri ini hanya penasaran dengan mereka, yang katanya sangat kuat dan pandai menggunakan sihir, tapi menurut Yui mereka masih sangat lemah. Bahkan mana mereka tidak sebanyak mana yang ia miliki.
Yui datang ke Kerajaan Clover ini hanya ingin mendapatkan Grimoire mereka dan melatih sihir, seperti saat ini.
Ia berlatih sampai mendengar suara perutnya yang berteriak meminta diisi, tepat pada tengah hari.
Kini ia memutuskan untuk menyudahi acara berlatihnya dan pergi menuju ibu kota mencari makan. Sebelum pergi Yui mengubah warna bajunya yang semula hitam menjadi abu-abu tua.
*****
Disini Yui sekarang, menunggu makanan yang kupesan disebuah restoran. Melihat keadaan sekitar yang memperlihatkan banyak pria tau yang mabuk, dan beberapa anak muda yang berbincang santai.
"Ini pesananmu nona." Pelayan itu tersenyum sambil meletakkan piring yang berisi daging panggang yang wanita itu pesan. Yui hanya mengangguk meng-iyakan. Memakannya perlahan menikmati betapa enaknya masakan yang dihidangkan.
"Kau tau? Orang yang merendahkan para Komandan Sihir itu?"
"Iya, kenapa dengan dia?"
Yui melirik empat orang itu, memperlambat kunyahan di mulutknya untuk mendengarkan lebih jelas apa yang mereka bicarakan.
"Katanya dia belum ditemukan sampai saat ini." Kata pemuda berambut hitam itu pada teman-temannya.
"Benarkah? Astaga." Pemuda bersurai pirang itu menutup mulutnya.
"Kenapa kerajaan belum dapat menemukan orang itu? Apa dia sangat kuat?" tanya pemuda bersurai keriting setelah minum.
"Tidak ada yang tau dia kuat atau tidak, tapi kata para komandan, mereka tidak dapat merasakan mana orang itu. Bahkan mereka tidak tau dia itu perempuan atau laki-laki, tapi kata Rima, lawannya itu seorang perempuan. Tapi ada pula yang mengatakan jika dia itu laki-laki karena memiliki suara yang dalam." Pemuda bersurai coklat gelap itu mengakhiri pembicaraan mereka, dan mengalikan pembicaraan ke hal lain.
Yui tertawa dalam hati, bisa-bisanya mereka membicarakan tentang dirinya di depan Yui sendiri. Tapi ia senang karena tidak ada yang mengenalinya disini. Menghabiskan sisa makanan yang ada dengan cepat, menaruh beberapa uang di meja dan pergi keluar.
Yui kembali ke tengah hutan tadi, berniat melanjutkan acara berlatihnya yang sempat tertunda. Ingin mencoba dan mempelajari serta menciptakan sihir baru untuk kedepannya. Mengingat masih banyak musuh yang berkeliaran di luar sana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.