"Papa!"
"Mama!"
"Aku sangat takut!"
Anak-anak yang sempat hilang itu kembali, bertemu dengan orang tua mereka. Berpelukan berusahan saling menenangkan.
"Hahh! Dengan ini, semua orang sudah dievakuasi." Lega Finral dengan menutup buku Grimoirenya, bersamaan dengan lenyap sihir ruangnya.
"Tua Bangka, jangan mati!"
Nenek biarawati itu terluka, para penyihir mencoba sebaik mungkin menyembuhkan dia. "Hei! Sadarlah! Tua Bangka! Seharusnya kau itu tua bangka abadi!" teriak Gauche disamping tempat berbaring biarawati itu.
"Susterr!" beberapa anak-anak mendekat. "Tidak kenapa?" bocah berambut merah dengan jubah milik Asta itu bertanya.
"Gauche, kau juga terluka parah, jadi sebaiknya kau khawatirkan dirimu sen—" ungkapan dari Finral itu terpotong. "Diam saja kau! Tegas Gauche.
'Aku ini lebih senior darimu lo!' batin Finral sedikit tak terima.
"Pengobatan Gauche sebentar lagi akan selesai." Ucap penyihir yang menyembuhkan Gauche. "Heh?" bingung pemuda penggila wanita itu. "Sebenarnya, semua lukanya hampir tak mengenai organ vitalnya."
"Jadi dia sangat beruntung?"
"Entahlah, soal itu..."
"Kalau begitu, daripada mengobatiku, lebih baik kau cepat mengobati Tua Bangka ini!" seru Gauche lebih dulu.
"Ba-baik! aku mengerti."
"Tua bangka! Cepat sadarlah!—"
"Berisik sekali, sih" mata dari nenek biarawati itu terbuka. Ada sesidikit darah keluar dari sua ujung mulutnya. "Aku bisa mnedengarmu, Anak Bodoh."
"Tua Bangka!" "Suster!"
Tangan wanita itu terangkat perlahan, menyentuh pipi milik pemuda pengguna sihir cermin itu. "Ambillah energi sihirku." Katanya dengan menyalurkan energi sihir pada Gauche. Mata pemuda itu terbelak.
"Kamu mau menyelamatkan meraka, kan? Asta dan lainnya." Ucapnya masih dengan menyalurkan walau darah semakin banyak keluar dari mulutnya. "Aku tak pernah bilang begitu."
"Setelah bertemu dengannya, kamu mulai berubah. Aku mengandalkanmu, Gauche." Tangannya terjatuh tanpa diminta diikuti dengan matanya yang tertutup. "Tua Bangka!"
Anak-anak yang datang itu mulai menangis. "Kau sedang bercandakan? Kau bilang kau takkan mati?" tiba-tiba pemuda bersurai ungu itu bangkit menarik sakah satu jubah penyihir yang sedang menyembuhkan itu, "hidupkan dia kembali!"
"Ta-tapi..."
"Lakukanlah sesuatu!" "Tapi..."
"Marie akan sedih, kau tahu!"
"Dia masih hidup, kok." Ungkapan itu membuat rahan Gaauch turun. "Hah?" "Dia belum mati.
Mata dari wanita tua itu terbuka, "Tua Bangka, jangan membuatku salah paham, dong!"
"Aku ini tua bangka monster, tahu. Aku takkan mati semudah itu. tenanglah dan pergilah, dasar siscon akut." Terang biarawati itu.
"Ambillah energi sihirku juga!"
"Aku juga!"
"Selamatkanlah Asta-nechan"
Anak-anak itu mendekat kearah Gauche, mereka tak jadi menangis. "Tolong gunakan energi sihirku juga."
"Kau..."
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah berbuat kasar pada adikmu." Pemuda bersurai itu adalah Neige, pengguna sihir salju. Dia mendekat menyalurkan energi sihirnya pada Gauche. "Kalaupun aku ikut, aku takkan membantu. Tolong selamatkan Asta." Lanjutnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Special | Black Clover
FanfictionTersandung dan jatuh disebuah masalah, yang membuatku belajar akan banyak hal. Rasa memiliki rekan, teman, sahabat, dan keluarga. Mengharuskan ku membuka rahasia yang sudah kusembunyikan rapat-rapat. Menguak beberapa kisah kelam dan kenangan yang me...
