Langit cerah tanpa awan menyelimuti kota Raque, sementara ombak biru bergulung lembut ke pantai berpasir putih. Kota itu hidup dengan para bangsawan yang berjalan santai di sepanjang jalan-jalan besar, menikmati kemewahan resor tepi laut. Bangunan-bangunan megah dengan arsitektur khas berdiri berjajar, menunjukkan status kota ini sebagai tempat peristirahatan mewah.
Di tengah keramaian, Yui dan Yami berjalan berdampingan, penampilan mereka yang sederhana mencolok di antara para tamu yang mengenakan pakaian pantai. Yami, dengan pedang di pinggangnya, tampak tidak peduli pada tatapan orang-orang, sementara Yui tetap tenang, matanya mengamati setiap sudut kota.
"Kota ini terlalu cerah," gumam Yami, dengan menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Dia memandang sekeliling dengan ekspresi tidak terlalu tertarik, mencatat setiap detail dengan ketidakpedulian yang khas.
"Lebih baik daripada markas ," balas Yui singkat, tanpa menoleh. Suaranya datar, seakan menyiratkan rasa bosan dengan kekacauan yang terjadi di tempat asal mereka. Yui lebih suka berada di tempat yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk, meskipun pada kenyataannya, perjalanan mereka kali ini adalah bagian dari misinya.
Yami mengangguk setuju, sambil melepaskan hembusan asap rokok lainnya. Mereka telah sampai ke Raque atas perintah Julius, untuk mencari informasi tentang kuil bawah laut yang konon katanya menyimpan batu sihir yang bisa menghentikan rencana Mata Matahari Tengah Malam—sebuah ancaman yang bisa menghancurkan dunia.
Mereka melanjutkan langkah mereka, menelusuri kota yang tampaknya tidak pernah sepi ini. Para pelancong tampak menikmati liburan mereka, sementara para pedagang menjajakan barang-barang mahal yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang memiliki banyak uang.
Tak jauh dari sana, sebuah kedai kecil yang tampak lebih sepi dibandingkan tempat lain menarik perhatian mereka. Yui yang lebih sering merasa nyaman dengan suasana yang sunyi, mengangguk kepada Yami, menandakan bahwa mereka akan masuk.
Di dalam kedai, aroma kopi yang kuat menyambut mereka. Pemilik kedai, seorang pria tua dengan rambut putih dan mata tajam yang tampaknya telah melihat banyak hal, menyambut mereka dengan anggukan. "Selamat datang. Kalian Ksatria Sihir, bukan?" tanyanya, suaranya penuh rasa ingin tahu namun tetap sopan.
Yami duduk di kursi terdekat, meletakkan pedangnya di samping dan menarik napas dalam-dalam, sebelum berkata, "Kami sedang mencari informasi tentang kuil bawah laut di area ini. Kau tahu sesuatu?"
Pria itu terdiam sejenak, matanya menilai mereka dengan tajam. Setelah beberapa detik, ia berbicara, "Kalian bukan yang pertama bertanya tentang tempat itu. Kuil itu telah lama menjadi misteri. Hanya sedikit yang tahu pasti di mana lokasinya, dan lebih sedikit lagi yang kembali setelah mencoba mencapainya."
Yui mendengarkan dengan seksama, wajahnya tenang namun penuh perhatian. "Apa yang bisa kami lakukan untuk menemukannya?" tanyanya.
Pria itu menghela napas panjang, seakan berat untuk berbicara lebih jauh. "Kalian membutuhkan lebih dari sekedar keberanian untuk menemukan kuil itu. Pintu masuknya ada di dasar laut, terlindungi oleh arus sihir yang hanya bisa diatasi oleh penyihir dengan sihir air. Tanpa itu, kalian akan terjebak di dalam arus dan tenggelam tanpa harapan."
Yami menyandarkan tubuhnya pada kursi, menatap pria itu dengan serius. "Sihir air? Maksudmu, bagaimana?"
Pria itu mengangguk perlahan. "Kalian bisa membuat kendaraan yang membawa kalian masuk kesana. Jangan lupa jika arus sihir di sana sangat kuat, bahkan penyihir air yang berpengalaman pun bisa kesulitan jika tidak cukup berlatih."
Dia memberikan peta yang sederhana, dengan garis-garis yang menggambarkan arah menuju kuil yang tersembunyi di kedalaman laut. "Ini adalah petunjuk terakhir yang aku miliki. Kalian mungkin harus mengandalkan sihir air dari salah satu teman kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Special | Black Clover
FanfictionTersandung dan jatuh disebuah masalah, yang membuatku belajar akan banyak hal. Rasa memiliki rekan, teman, sahabat, dan keluarga. Mengharuskan ku membuka rahasia yang sudah kusembunyikan rapat-rapat. Menguak beberapa kisah kelam dan kenangan yang me...
