SAMPAILAH aku di kelas 8A yang masih sama seperti kemarin (sama sekali tidak mengacuhkan keberadaanku). Aku menghembuskan nafas panjang dan duduk di pojok ruangan sebelah kanan samping jendela dengan beberapa pasang mata menatapku sinis. Fisikku di sini, tapi pikiranku menerawang jauh memikirkan berbagai macam hal hingga membuat kepalaku pusing sendiri. Aku pun sedikit penasaran dengan perpustakaan yang tadi pagi baru saja kulihat. Aku merasa sangat familiar, entah apa, seakan ada tangan menarik – narikku untuk menuju perpustakaan itu. Lamunanku buyar saat itu juga ketika seseorang menepuk bahuku perlahan. Aku menoleh ke belakang.
“hai.” Sapa seorang perempuan.
Aku mengamati penampilannya kilat, seragamnya rapih, rambut pirangnya agak bergelombang, wajahnya sedikit tembem dan mata hitamnya yang menatapku ramah itu belo. Dia menyunggingkan senyum yang terlihat sedikit ragu. Senyumku mengembang, akhirnya ada juga orang yang mau berkenalan denganku, pikirku.
“hai.” Balasku riang.
“boleh aku duduk di sini?” tanya perempuan itu.
Aku mengangguk ceria dan mengambil tas hijau kekuninganku yang kutaruh di bangku sebelah dan menepuk – nepuk bangku yang akan di duduki perempuan itu. Setelah dia duduk dengan posisi nyaman, aku memulai sesi perkenalan ala Teressa Aure Meryl.
“siapa namamu?” tanyaku.
Dia ragu sesaat, aku tahu. Itu efek ramalan 13 yang benar – benar menyebalkan sekaligus memuakkan. Aku benar – benar kesal dengan ramalan aneh itu dan kuharap itu tidak benar – benar terjadi padaku maupun Daniel dan Daniella. Kembali ke sesi perkenalan ala-ku.
“eh? Um… namaku Sarah.” Jawabnya ragu.
Sarah memilinkan jari jemarinya dan menoleh ke sana ke mari, seperti takut jika ada yang menangkap basah ia mencuri.
“what’s wrong?” tanyaku bingung.
Sambil menoleh ke sana ke mari seperti Sarah, aku memandangnya lagi. Dia menghembuskan nafas panjang dan menatapku ketakutan.
“I’m scared…” lirihnya.
Kukira dia tidak melanjutkan kalimatnya sehingga aku ingin bertanya lagi. Tapi sebelum sempat aku membuka mulutku untuk bersuara, dia berkata lagi.
“do you believe a ghost?” tanyanya.
Sontak itu membuatku heran dan menganga, aku mengangkat bahu pada akhirnya.
“aku tidak tahu.” Jawabku bimbang.
Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“aku mempunyai indera ke enam.” Bisiknya pelan, sangat pelan hingga aku ragu.
Aku berfikir sebentar, indera ke enam? Kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata? Sungguh itu keren bagiku, tapi kenapa dia malah takut seperti itu sih? Aku memandang sekeliling, entah kenapa tengkukku sedikit merinding, aku mengusap tengkukku pelan dan menatapnya lagi.
“kau serius?” tanyaku.
Sarah mengangguk ragu.
“seseorang … mengikutimu.” Bisiknya pelan penuh misteri.
“oh ya?” tanyaku, mataku membulat.
“baru saja dia mengikutimu. Aku tidak berani menatapnya lama, hanya sekilas. Dia memiliki aura jahat yang benar – benar besar.” Jelasnya.
Aku tersenyum kecut, dalam hati aku bersyukur tidak memiliki indera ke enam dan melihat sesuatu yang menyeramkan seperti yang Sarah bilang.
“Oh.” Hanya itu yang terlontar dari mulutku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Royal Academy
Mystery / ThrillerDisclaimer: Cerita ini adalah cerita amatir yang memiliki banyak kekurangan. Harap dibaca dengan bijak :) --- Karena kenakalan remajanya, Teressa dimasukkan ke sebuah asrama bernama Royal Academy yang memiliki banyak misteri. Teressa mendapatkan seb...
