Aku menyeret koper dengan langkah bersemangat. Kubuka pintu rumah yang sepertinya lama sekali tidak pernah kulihat. Saat melihat wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah Mom, aku berteriak sumringah. Aku memeluk dia, ah aku rindu harum khas Mom.
“MOOOOOOOOOOOOOOM!!!!!!!” dia tertawa dan balas memelukku.
“Astaga, tidak biasanya kau manja begitu pada Ibumu,” sindir Daniel, memutar bola matanya.
“Aunty! Aku juga kangen, Ressa sudah dong aku kan juga ingin pelukan,” rengek Daniella, aku melepaskan pelukanku, lalu menyengir lebar. Daniella memeluk Mom erat, seakan tidak ingin melepasnya.
Akhir pekan ini, aku berkunjung ke San Fransisco bersama Daniel dan Daniella. Tadi pagi, tiba – tiba saja mereka datang ke kamarku sembari menenteng koper. Awalnya aku bingung, setahuku tidak boleh pergi dari asrama hingga liburan nanti, dan dengan menghela nafas Daniel menjelaskan padaku bahwa kami boleh bepergian sementara, meskipun hanya boleh tiga kali. Sepertinya dia marah karena aku tidak menyimak penjelasan Bibi Jane, ya sudahlah.
Entah kenapa, aku belum pernah merasa sesenang dan sebahagia ini sebelumnya. Aku senang bertemu Mom, aku senang bertemu anjing Chihuahua milik Bibi Alison di sebelah rumahku, aku bahagia melihat Dad sedang meneliti dokumen perusahaannya di Ruang Kerja miliknya. Oh ya aku juga senang melihat ban mobil yang dijadikan ayunan yang terletak di pohon maple. Aku senang menghirup udara kota San Fransisco dan rumah – rumah boneka di sekitar rumahku. Well, aku merasa di sini aku bisa menjadi diriku sendiri. Tanpa ada embel – embel; ramalan, misteri, hantu gadis kecil, Bibi Jane, Bibi Freya, dan bla bla bla.
Setelah selesai melepas rindu, aku menaruh koper di lantai kayu kamarku. Kamar ini sudah ada sejak aku 6 tahun. Tidak pernah berubah, selalu penuh foto – foto yang terpajang dan lukisan – lukisan abstrak buatanku. Baju – bajuku tersusun rapih ketika aku membuka lemari. Aku harus berterima kasih pada Mom. Sepertinya Mom membersihkan kamarku tiap hari, di sini tidak ada noda dan debu. Aku merebahkan diriku di kasur, nyaman dan hangat. Kapan aku terakhir kali merasakan hal ini ya?
Overall, aku benar – benar ingin berada di sini lagi. Saat pikiranku menerawang apakah ada baiknya pindah dari Royal Academy, pintu kamarku diketuk.
“Masuk,” izinku, Daniel masuk dengan rambutnya yang basah, sepertinya dia baru mandi.
“Kenapa?”
Dia mengedikkan bahunya sekilas, lalu duduk di sofa nyaman yang berada di pojok ruangan. Aku bingung sendiri, Daniel sama sekali tidak memulai pembicaraan. Tepat saat aku membuka mulut ingin bersuara, dia berkata.
“Tidakkah kau pikir pindah ke Royal Academy membawa bencana?” tembaknya langsung.
Aku membeku di tempat, bangkit dari posisi rebahan, menyilangkan kedua tungkai kaki dan menatapnya bingung.
“Kurasa, hidupku seakan berubah setelah ke sana. Aku bertemu Jonathan, Raven, Vanilla, Dave, Forest… dan mungkin Giovanni. Tapi bencananya menurutku hanya ramalan itu, membuat kita dijauhi,” aku berkata, lalu mengedikkan bahu seperti yang Daniel tadi lakukan.
“Memang pembuat ramalan itu ingin apa sih?”
“Jangan tanya aku, aku sendiri tidak tahu, Dan.”
Dia mengedikkan bahu lagi, menatapku cukup lama. Air mukanya seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit, dia memijit pangkal hidungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Royal Academy
Mystery / ThrillerDisclaimer: Cerita ini adalah cerita amatir yang memiliki banyak kekurangan. Harap dibaca dengan bijak :) --- Karena kenakalan remajanya, Teressa dimasukkan ke sebuah asrama bernama Royal Academy yang memiliki banyak misteri. Teressa mendapatkan seb...
