SUASANA masih terasa lengang ketika dua orang perempuan memasuki ruangan tersebut. Perempuan cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang yang ia sanggul ke atas itu, mengedarkan pandangan melalui sudut mata belonya yang berwarna malachite. Ketika seseorang yang dicari tidak ditemukan, dia menghela nafas panjang. Sungguh perempuan itu terlihat lesu meskipun gaun putih gading menyempurnakan penampilannya saat ini. Seorang perempuan berambut pirang berjalan setengah berlari menghampirinya, masih dengan nafas terengah – engah dia memanggil perempuan cantik itu.
“Teressa jangan tinggalkan aku seenakmu begitu dong!” Protes perempuan berambut pirang itu. Perempuan cantik bernama Teressa itu menolehkan kepalanya ke belakang. Langsung menatap lesu perempuan berambut pirang. “Vanilla, dimana Daniel?” Tanya Teressa dengan nada khawatir.
Vanilla mengatur nafasnya, setelah sudah normal ia berbicara dengan nada kesal “Ya tuhan Teressa! Kau sudah bertanya itu belasan kali, dan jawabannya pun sama. Aku tidak tahu!”
Teressa sudah mencari Daniel di kamar 102 koridor kamar anak laki – laki. Tapi tak ada tanda – tanda adanya Daniel. Yang ada dia malah menemukan Dave yang sedang sakit di sana. Ia sedikit bersalah, saat Dave sedang sakit mereka malah bersenang – senang di acara tahunan Royal Academy kali ini. Kesempatan terakhir adalah menelefon Daniel, tetapi nada dering yang biasa dipakai Daniel malah terdengar di kamar 102. Daniel tidak membawa handphone karena Dave meminjamnya untuk bermain game. Dengan terpaksa Teressa meninggalkan Dave sendiri di kamar 102 dan mulai mencari Daniel lagi. Ia ingin meminta maaf soal kejadian kemarin malam karena sudah membentak Daniel.
Ia berjalan lagi menaiki undakan ruangan tersebut dan mulai mengedarkan pandangannya lagi. Bahunya sudah tidak diperban seperti tadi malam, tapi rasa berdenyut masih terasa jelas. Ia melihat jam Guess yang melekat di tangannya, jam 07.30. Pantas saja masih sepi, Pikir perempuan berusia 13 tahun itu. Teressa memainkan topengnya yang berwarna cokelat, acara tahunan kali ini bertema pesta topeng.
*
Lelaki berjas putih dan berwajah seperti malaikat itu berjalan dengan langkah menghentak – hentak. Rambut yang diberi gel hingga rapi itu menyempurnakan penampilannya. Banyak anak perempuan yang sedang melewati koridor melirik lelaki bernama Jonathan itu. Jonathan meremas topeng putihnya keras – keras, tidak perduli jika topeng itu rusak maupun cacat.
Sial! Kenapa aku bisa telat. Dimana Teressa?! Jika terjadi yang tidak – tidak, aku akan mencincang Forest yang tidak membangunkanku seperti biasa, batin Jonathan sembari berjalan setengah berlari. Tadi dia mengetuk pintu kamar 103 koridor kamar anak perempuan berkali – kali. Hingga seorang perempuan mengatakan bahwa Teressa dan Vanilla sudah pergi 30 menit yang lalu. Ia melihat jam tangannya, 08.00. Oke ini buruk, batinnya terus membatin seperti itu.
Padahal Jonathan ingin memberitahu Teressa tentang hal yang kemarin baru ia dengar. Sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi, pikirnya. Jonathan dengan langkah cepat menuju ke aula utama. Ia sudah tidak perduli lagi tentang acara tahunan kali ini. Ia hanya peduli dengan keselamatan Teressa, perempuan yang ia cintai.
*
Seorang lelaki berambut hitam yang biasanya ia biarkan berantakan kini ia sisir rapi ke belakang. Jas berwarna broken black ia sampirkan di bahu kanannya sementara tangan kanan lelaki itu sibuk mengetik pesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Royal Academy
Mistério / SuspenseDisclaimer: Cerita ini adalah cerita amatir yang memiliki banyak kekurangan. Harap dibaca dengan bijak :) --- Karena kenakalan remajanya, Teressa dimasukkan ke sebuah asrama bernama Royal Academy yang memiliki banyak misteri. Teressa mendapatkan seb...
