08 : 23 October 2011

45.9K 2.8K 14
                                        

                SEMUANYA terasa begitu cepat bagiku, sekarang kalender di kamar ini sudah menunjukkan tanggal 23 Oktober. Berdebar – debar, itu yang kurasakan. Bukan berdebar karena memikirkan Raven… bukan! Bukan itu. Juga bukan karena dulu aku lulus dengan nilai terbaik yang hampir sama dengan kedua sepupuku. Bukan berdebar karena tertangkap basah menjahili teman oleh Dad. Bukan berdebar saat aku pertama kali membuka pintu kamar 103. Tapi karena ramalan tiga belas yang kutahu dari tiga anak di kamar mandi waktu itu menjadi kenyataan, kenyataan pahit.

Aku kembali memusatkan pikiran pada hal – hal yang lebih realistis, ya masa iya aku percaya dengan ramalan sih? orang bodoh mana yang percaya hal seperti ‘itu’. Tak ada yang perlu di takutkan apalagi di khawatirkan karena aku, Daniel dan Daniella akan baik – baik saja. Pasti baik – baik saja. Lagipula kita selalu bersama kan? Buat apa takut? Ya. Tak. Usah. Takut.

Tapi ramalan kedua dan pertama tepat! Dasar bodoh! Jerit bawah sadarku tiba – tiba.

Apa kau gila? Itu hanya ramalan tebak – tebakan, bisa saja itu kebetulan. Mana mungkin kan ramalan tidak jelas itu sampai tahap parah? Kau pikir dia cenayang?

Pikir pakai otak! Jika ramalan itu terjadi, kau bisa apa?! Menyesal karena tidak menjaga dengan baik kedua sepupumu?! Jeritnya lagi. Lebih keras daripada sebelumnya.

Mereka akan baik – baik saja, aku yakin. Yakinku

Jagalah mereka. Perintah bawah sadarku sedikit melembut.

Aku termenung, memikirkan ini semua adalah hal gila yang baru ku alami pertama kali. Menurutku ini keren karena aku muda, dan butuh pengalaman. Ya, pengalaman menjaga kedua sepupuku layaknya body guard? Astaga, pikiranku melantur ke mana – mana. Baru kali ini aku menjaga mereka, mungkin nanti mereka menganggapku gila karena percaya ramalan tersebut.

Tapi mau bagaimana lagi? Di sudut hatiku aku percaya dengan ramalan tersebut walau tidak sepenuhnya. Aku menghembuskan nafas panjang, berharap beban ini hilang dari kepalaku dan akhirnya jernih seperti sedia kala.

Sebelum datang ke Royal Academy, aku merasa benar – benar hidupku sempurna, penuh kejahilanku dan keduan sepupuku, keluargaku cukup berada dan terkenal, aku sayang mereka walaupun aku selalu merasa ada yang kurang di kehidupanku. Rutinitas tiap hari membuatku bosan, sangat bosan apalagi Raven pindah dan aku lost contact dengannya.

Dan sekarang, petualangan seru sepertinya mulai berjalan semenjak aku pindah ke sini. Kau tahu? Aku sangat amat penasaran pada sesuatu yang belum pernah ku ketahui, dan sekolah ini benar – benar membuatku penasaran. Siapa suruh membuat Teressa Aure Meryl penasaran?

JDUUUK!

Pikiran melankolisku terhenti ketika seseorang melempar bola ke belakang punggungku, dan rasanya sakit sekali. Lebih sakit daripada aku terjatuh dari lantai dua rumahku ketika aku duduk santai di balkon sembari mendengar musik. Untung saja di bawah ada kasur empuk yang baru di jemur Mom.

Aku menengok ke belakang dengan kesal dan mendapati Daniel mengambil bola basket lalu menyeringai ke arahku. Kutahu pasti dia yang melemparnya.

“apa kau tak punya mata?” sindirku pedas.

Aku berdiri dan mencubit cukup keras hidung Daniel, dia meringis.

“kenapa kau melakukan itu, Dan?” tanyaku sambil tetap mencubitnya.

“ergh. Kau dari tadi melamun sih…” jawabnya.

Daniel menepis tanganku yang masih mencubit hidungnya. Mengusap – ngusap hidung merahnya sambil mengerucutkan bibir seperti anak umur lima tahu. Aku menahan geli.

Royal AcademyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang