24 : It's Show Time 3

37.3K 2.5K 52
                                        

Teressa mengeratkan pegangannya pada gaun putih gadingnya. Tak pernah ia merasa secemas ini. Bagaimana jika Daniel dibunuh? Bagaimana jika Daniel dicuci otaknya? Bagaimana jika... Semua pikiran aneh itu membuat tatapan kosong Teressa menjadi keruh, kabur lalu berair. Jonathan dan Daniella yang melihat air mata itu menjadi panik.

"Astaga Teressa kau kenapa?!" tanya mereka berdua bersamaan. Vanilla yang baru saja mendongak ikut kaget, lalu menggigit bibir bawahnya. Menghembuskan napas karena merasa percuma menyembunyikan pesan singkat dari pembuat ramalan 13 itu.

"Sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi..." kata Vanilla sambil menyodorkan handphone Teressa ke hadapan mereka berdua. Kening Jonathan berkerut dan Daniella memekik.

Tiba - tiba saja lampu mati. Membuat Teressa dan lainnya menjadi tegang. Jam menunjukkan waktu 09:30. Tepat seperti yang dikatakan pembuat ramalan itu. Kepanikan murid - murid yang mengikuti acara tahunan dan juga guru - guru panitia acara yang menenangkan mulai bersahutan.

Layar di depan aula menyala. Lcd sedari tadi sudah menampakkan cahayanya. Terdapat tiga orang di dalam layar. Yang satu memakai jubah hitam, yang satunya memakai gaun dan topeng merah lalu Daniel yang tertidur di bangku sementara tangannya terikat ke belakang menggunakan tali.

Teressa merangsek maju ke depan, lalu memekik "Daniel...!"

Kerumunan yang tadi ada untuk melihat apa yang sedang terjadi di depan mulai mundur perlahan. Merasa tidak nyaman berdekatan dengan salah satu dari tiga orang yang 'membawa kesialan'.

"Apa yang kau lakukan pada Daniel?" tanya Teressa dengan suara bergetar. Orang yang berjubah hitam melangkah mendekati layar. "Bermain - main." jawabnya singkat, suaranya sangat dalam dan berbahaya. Membuat bulu kuduk Teressa meremang.

"Tolong jangan sakiti dia..." mohon Teressa.

"Well, buat acara tahunan menjadi mengerikan seperti mauku."

"Hei kau pembuat ramalan itu?" tanya Yuki yang tiba - tiba sudah ada di samping Teressa.

"Jangan mengganggu kami dasar bocah," ucapan si pembuat ramalan membuat Yuki mengkeret dan bersembunyi di balik punggung temannya.

Jonathan, Daniella dan Vanilla melihat dari jauh dengan perasaan was - was. Daniella yang merasa dia juga ikut andil langsung menghambur le depan meskipun Jonathan dan Vanilla sudah menahannya untuk tetap tinggal dan tidak ikut campur.

Kerumunan tadi membentuk lingkaran besar, memberi ruang untuk Teressa dan 'layar lcd'nya berkomunikasi sementara mereka melihat dari jauh. Daniella merangsek maju, menerobos kerumunan dan sudah ada di samping Teressa. "Dia saudaraku! Jangan sakiti dia atau kau akan mendapatkan akibatnya," Daniella berteriak sembari mengepalkan tangannya ke atas dengan marah. Teressa menurunkan tangan Daniella perlahan, tatapannya fokus pada -layar lcd. "Apa maumu?" tanyanya.

Pembuat ramalan itu bertepuk tangan riuh dan tertawa terbahak. Lalu berhenti, dia berbicara dengan nada datar "potong nadimu. Tapi jangan sampai mati. Hanya ingin melihatmu merasakan sakit yang dulu kurasakan..."

Teressa dengan mantap berjalan ke samping kanan, ke arah meja - meja yang menyajikan makanan dan minuman. Dia mengangkat gelas tinggi - tinggi dan membantingnya. Suara pecahan kaca terdengar menggema di ruangan tersebut.

Tangannya bergetar, dia menunduk seraya berjongkok. mengambil salah satu pecahan gelas yang ada di sana. Kembali ke depan dengan wajah penuh tekad.

"Berjanjilah... -ia memegang pecahan gelas itu erat sehingga darah segar mengucur dari telapak tangannya yang terluka- bahwa ketika aku melakukan ini, kau berjanji melepaskan Daniel. Mencabut ramalan itu dan jauh - jauh dari hidupku, Daniel dan Daniella. Selamanya."

Hening sesaat.

Daniella menggeleng kaku. Jonathan dan Vanilla menatap Teressa ngeri. Kerumunan orang - orang dan guru - guru yang datang hanya menyaksikan seakan itu drama dan tanpa berfikiran menolong anak muridnya dari bahaya.

"Aku berjanji."

Teressa mulai mengangkat pecahan gelas itu, tak peduli telapak tangannya terluka. Tepat saat Teressa ingin memotong nadinya dengan gerakan horizontal...

Dia datang.

'Tak!' Pecahan gelas itu terlempar jauh dari tangan Teressa. Sekilas Teressa melihat batu yang membuat pecahan gelas itu terlempar. Dalam hati ia bersyukur tidak jadi memotong nadinya, tapi di satu sisi ia kesal karena si Pembuat Ramalan pasti akan semakin menerornya dan juga kedua sepupunya.

"Trik bodoh," ucap suara bariton yang sudah Teressa kenal dan ingat dalam memorinya. Dia...

Karena cahaya matahari ada di belakang dia, wajah dan badannya hanya terlihat samar - samar. Dia sedang bersandar di salah satu kusen pintu utama aula dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.

Perlahan dia berjalan mendekati Teressa.

Daniella dan Teressa serta Jonathan melotot melihat lelaki itu.

Lelaki itu Raven.

"Ke--kenapa..." ucap Teressa ragu ketika Raven di hadapannya. Raven membersihkan tangan Teressa yang terluka dengan saputangan mahalnya.

"Sebelumnya... lihat itu. Mereka kabur seperti banci," ucap Raven tanpa ekspresi sambil menunjuk layar Lcd yang hanya menampakkan Daniel yang masih tertidur..

Teressa menoleh ke layar Lcd. sementara Raven melihatnya intens. Melihat bentuk wajah yang selama ini ia rindukan. Mata malachitenya, rambut cokelatnya yang bergelombang, alis matanya yang menunjukkan ia rendah hati dan keras kepala, tingginya yang dari dulu hanya sebatas pundak Raven....

Teressanya yang berharga.

to be continued

---

Read my another story :

1. How Can I Move On

2. A-B-C-D Love

3. Princess Series [1] : The Overweight Princess

Royal AcademyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang