Hari masih sama, Sephia juga masih berada di tempat yang sama, rumah sakit. Tadinya, Sephia sudah menjenguk Brama di ruangannya. Pria itu koma karena serangan jantung. Menyakitkan.
Kini, Sephia memilih untuk duduk di taman rumah sakit sambil menatap kolam ikan yang terletak beberapa meter di depannya. Suara air mancur di kolam itu menyita indra pendengaran Sephia.
Apa gue harus hubungin Septyan? Sephia bertanya pada dirinya sendiri. Ia sedang butuh seseorang sekarang.
Sephia lantas mengambil ponselnya di saku baju. Ia menelepon nomor Septyan dengan harapan besar, lelaki itu datang untuk menemaninya.
Hanya selang beberapa detik, Septyan menjawab telepon dari Sephia.
"Assalamu'alaikum, Yan. Lo bis—"
"Sorry, Sep, Gue lagi sama Radea. Kalo lo butuh sesuatu, hubungin gue lagi nanti."
Tut
Telepon dimatikan sepihak, bahkan sebelum Sephia menyelesaikan ucapannya. Sephia mendesah dengan dada yang sesak. Matanya memanas. Dan, yaa ... gadis itu menangis lagi.
"Gue butuh lo sekarang, Yan," gumam Sephia lirih.
Belia, hanya gadis itu yang bisa jadi harapan Sephia. Ia harus belajar untuk terbuka pada sahabatnya sendiri. Belia itu sahabatnya. Ya, ia harus bercerita pada Belia. Ini waktu yang tepat.
Sephia lantas menelepon Belia. Beruntung, Belia dengan cepat menjawab teleponnya. Semoga saja Belia mau menemaninya, tak seperti Septyan tadi.
Sesaat setelah panggilan terhubung, Sephia mempercepat ucapannya.
"Assalamu'alaikum, Bel. Lo sibuk? Bisa temenin gue? Gue butuh lo," pinta Sephia dengan sangat. Gadis itu menggigit bibirnya gugup.
"Wa'alaikumussalam. Kalo butuh gue, dateng ke Cafe Utopia sekarang. Gue tunggu," balas Belia.
Tut
Panggilan diakhiri oleh Belia. Sephia tersenyum mendengar jawaban gadis itu. Tanpa ingin berpikir lagi, Sephia segera bangkit menuju cafe yang diberi tahu tadi.
Memang benar bahwa kadang kita butuh tempat untuk bercerita. Meluapkan semua masalah agar tenang. Bukan melupakan semua masalah seakan kita baik-baik saja.
***
Pintu dibuka, Sephia memasuki cafe dengan linglung. Ia segera mencari keberadaan Belia. Rupanya, Belia berada di salah satu meja yang berlokasi di tengah-tengah cafe. Sephia lantas menghampiri Belia.
Belia yang mengetahui kedatangan Sephia, hanya tersenyum dengan manis melihat gadis itu duduk di hadapannya.
"Makasih udah mau nemenin gue," ucap Sephia.
Belia tersenyum. "Sebenernya, ada yang mau gue omongin sama lo. Tapi, lo boleh ngomong duluan."
Sephia mengangguk pelan. "Gue gak tau harus mulai dari mana. Intinya, Papa sama Mama gue baru aja cerai. Mama gue pergi dan Papa gue lagi sakit. Gue gak tau lagi harus cerita ke siapa," ucap Sephia.
Belia menghela napas mendengarnya, ia tampak sedih. "Yang sabar, ya. Semoga Papa lo cepet sembuh. Tapi maaf, gue gak bisa jadi sahabat lo lagi."
Deg
Ekspresi wajah Sephia berubah dalam sekejap. Yang tadinya senang karena lega, sekarang sedih karena ucapan Belia.
"Bel ... lo lagi bercanda, kan?" tanya Sephia sambil terkekeh.
Tentu Belia menggeleng mantap. "Gue beneran. Gue capek selalu nurutin apa kata lo. Lo jadi semakin jauh sama gue semenjak lo deket sama anak napi itu. Pas dulu lo sering berantem sama dia, oke gue maklumin. Sekarang beda, Sep. Lo keliatannya udah cinta sama dia," ucap Belia dengan wajah tak menyangka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluka(n) [END]
Fiksi Remaja-Pelukan dari sang penggores luka paling dalam- *** Di mata orang, Sephia dan Septyan itu berbeda. Sephia dianggap sebagai gadis yang beruntung, padahal gadis itu sedang berusaha mengembalikan keharmonisan keluarganya. Sementara Septyan, hidupnya ta...
![Peluka(n) [END]](https://img.wattpad.com/cover/256230397-64-k655874.jpg)