Lantai ini ibarat tanaman rambat. Kadang menjadi ladang uang, kadang juga menjadi pengerat yang sadis. Atap rumah yang megah, tak sekedar untuk bernaung. Di bawahnya, ada jiwa-jiwa yang hampir mencapai titik lemah.
Sephia, penghuni paling muda di istana ini. Gadis itu masih dengan pakaian sekolahnya. Baru beberapa menit yang lalu ia pulang diantar oleh Septyan. Sekarang, gadis itu mencari ibunya.
Sephia mengitari rumah. Lantainya dingin, namun disamarkan kaus yang membalut kaki gadis itu. Entahlah, Sephia jadi khawatir dengan Elena. Wanita itu sama sekali tak menjawab panggilan darinya.
"Maa!" Sephia berseru, suaranya menggema di penjuru rumah. Tiba-tiba, seorang ART datang menghampirinya.
Namanya Mbok Endang, wanita yang bekerja di sini dengan suaminya sejak Sephia masih balita. Di antara asisten-asisten lain, Mbok Endang-lah yang paling dekat dengan Sephia.
Rumah ini punya 6 asisten rumah tangga, 2 tukang kebun, dan 2 supir. Rumah pengusaha tersohor, jangan heran.
"Nyonya belum pulang, Nduk." Mbok Endang memberi tahu anak majikannya.
"Kemana?" tanya Sephia.
Mbok Endang menggeleng. "Bibi ndak tau, perginya dari tadi pagi. Mungkin sebentar lagi pulang," balas wanita yang telah menginjak kepala 5 itu.
Sephia mengangguk paham, padahal otaknya bertanya kemana Elena. Biasanya Elena akan bilang jika ingin pergi, tapi sekarang tidak.
Sephia mencoba positive thinking. Mungkin saja ada urusan mendadak dan ponselnya mati sehingga tak bisa dihubungi.
"Sudah makan belum, Nduk? Mau Bibi ambilkan makan?" tanya Mbok Endang.
Sephia menggeleng sambil tersenyum. Gadis itu menunjukkan plastik yang dibawanya pada Mbok Endang.
"Sephia beli siomay, Bibi mau? Tadinya, mau makan sama Mama, tapi Mama gak ada. Yaudah, makan sama Simbok aja," tawar Sephia pada Bi Endang, namun wanita itu enggan.
"Mbok sudah kenyang." Bi Endang menolak, dan wajah Sephia seketika berubah sedih.
"Yaudah, Mbok, gapapa. Sephia ambil piring dulu, mau makan di kamar."
Hari ini, Sephia makan sendiri. Semoga besok atau seterusnya, ia bisa makan bersama keluarganya. Lengkap dan harmonis. Tak seperti hari yang telah ia lalui selama 5 tahun ini.
***
Mentari menyapa dengan anggunnya. Terasa hangat, ditutupi awan putih yang berjalan dengan pelan. Di bawah bentangan langit, Sephia meniti langkahnya memasuki halaman sekolah untuk memulai belajar hari ini.
Senyum terpatri usai melambaikan tangan pada sang ibu. Tengah malam tadi, Elena baru pulang. Tapi tak apa, setidaknya Elena baik-baik saja.
Merapikan seragamnya, Sephia berdiri di samping pagar sekolah yang masih terbuka lebar. Tiba-tiba matanya menangkap tubuh lelaki yang sudah ia hafal betul.
"Uler keket!"
Tepat sekali, Septyan menoleh dengan wajah datarnya. Melihat Septyan yang berhenti tak jauh darinya, Sephia mendekati lelaki itu.
"Nama gue Septyan Nagasaki, bukan uler keket," tukas Septyan sebal.
"Ya, gak cocok lo jadi naga, cocoknya jadi uler. Btw, makasih kemarin udah nganter gue pulang," ucap Sephia sambil mendongak.
Septyan hanya berdehem membalas ucapan Sephia. Sepertinya lelaki itu sedang tak bersemangat sama sekali.
"Tumben diem, lo kurang minum kaporit, ya, makanya lemes?" tanya Sephia ngawur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peluka(n) [END]
Fiksi Remaja-Pelukan dari sang penggores luka paling dalam- *** Di mata orang, Sephia dan Septyan itu berbeda. Sephia dianggap sebagai gadis yang beruntung, padahal gadis itu sedang berusaha mengembalikan keharmonisan keluarganya. Sementara Septyan, hidupnya ta...
![Peluka(n) [END]](https://img.wattpad.com/cover/256230397-64-k655874.jpg)