3.0 About Our Dreams (2)

882 136 22
                                        

Happy Reading

Bapak adalah orang pertama yang membuat Louis merasakan apa itu arti kehilangan yang sesungguhnya.

Seminggu setelah proses pemakaman selesai, tak pernah sekalipun ia datang ke rumah untuk mengetahui keadaan orang-orang di dalam sana, ataupun untuk menghibur seseorang yang tak pernah berhenti berderai air mata.

Rumah itu, menjadi kenangan tersendiri antara ia, bapak, juga ibuk. Dimana senda gurau yang terselip nasehat-nasehat masih dipegangnya sampai sekarang, terjadi di sana. Seperti menabur garam di luka yang penuh darah, seperti itu juga perasaan hancurnya saat tahu bapak telah tiada.

Seseorang yang ia sayang secara tulus, bahkan lebih tulus dibandingkan orang tuanya sendiri.

Angin berhenti bersemilir, suara-suara kendaraan juga sedikit berkurang, seolah semua tahu, seseorang tengah mengeluarkan curahan hatinya dalam kata-kata paling tulus yang pernah ada.

" Bapak pernah kasih apa?"

" Suatu hal yang jarang orang lain miliki,"

" Pelajaran hidup,"

Mata yang selalu sarat akan canda tawa di sana, kini berubah menjadi manik sendu yang jarang sekali diperlihatkan. Seseorang yang selalu tersenyum lebar, kini menutup bibirnya rapat-rapat seolah berusaha menutup luka lama yang perlahan kembali terbuka.

"Kalau lo tau, bapak orang yang pertama kali bilang ke gue,

Di dunia ini ya le, kamu itu cuma satu. Gak ada lagi Louis lain dibelahan bumi manapun yang seiras sama kamu. Yang jadi saingan selama ini ya kamu sendiri. Harus berlomba-lomba jadi yang terbaik, tapi dalam versi untuk diri sendiri. Jangan pedulikan manusia berkata apa, toh di akhirat nanti yang menilai Tuhan, bukan manusia,"

Terenyuh bercampur rindu, itu yang kini Jovi rasakan. Seolah mendengarkan kembali nasihat-nasihat bapak, meskipun dalam raga yang berbeda.

Louis larut dalam kesedihan lagi, dan Jovi tak suka itu.

" Lou"

"Asal lo tau Jov, semua yang ada dalam diri bapak gue kagum,"

"Kagum gue juga dong kalo gitu,

Iya Jov, gue terlalu kagum sama lo

" Gue kagum sama bapak ya, bukan sama anak pungutnya,"

Jovi mendecih sebal.

"Lou"

"Hm"

"Makasih ya"

Louis tertawa kecil, lalu mengarahkan pandangannya pada Jovi yang saat ini menatapnya, sambil tersenyum," Makasih untuk?"

"Hutang bapak,"

"Juga makasih buat semua,"

Hanya senyum yang bisa Louis lakukan sebagai balasan atas apa yang Jovi ucapkan. Andai suara knalpot kendaraan tak sekeras sekarang, ataupun lalu lalang orang yang kini mulai ramai di taman, mungkin saja Louis akan menjawabnya seperti ini,

Gue yang harusnya berterima kasih Jov, terima kasih buat jadi temen gue. Seseorang yang bikin gue sadar, Tuhan sebaik itu karena ngirim manusia sebaik lo di kehidupan gue ini.

"Lo serem kalo senyum-senyum kayak gitu, diem aja dah Lou,"

" Gue tau kalo lo terpesona kan sama gue? Ampun dah nih muka emang buat orang kesemsem mulu, heran gue," percaya dirinya kambuh lagi, membuat Jovi menguap lebar di depannya. Terlalu bosan dengan apa yang Louis sombongkan.

PAGE of 365 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang