[ Special Chapter : After He Left ]
------------------------○○••○○----------------------
(No matter what happens you are still my best friend , Jov)
" DEAR JOVI "
From Louis
_____________________
Bandung
16.04
" Mau jalan-jalan nggak?" tanyanya pelan meski seharusnya ia tahu bahwa aku tidak akan menolak.
" Maulah timbang nganggur gini," kataku. Sambil menyodorkan helm untuknya. Helm hitam bergambar tengkorak di belakangnya, persis sama kembar karena aku sengaja membelinya dua. Untuk Jovi yang bahkan tak memiliki sepeda motor.
" Gue pengen muter-muter pake sepeda. Nanti kalo laper mampir makan di warung pinggiran jalan aja gimana?? Gue traktir deh,"
" Tumben baik. Curiga gue jadinya,"
" Gue emang baik yee. Lo aja kaga nyadar,"
Lantas ia tertawa kecil, " Yaudahh gass berangkat,"
Sepanjang perjalanan tak terhitung berapa banyak pengendara lain yang memelototi kami karena sibuk bergurau tatkala berhenti pada lampu merah. Aku sibuk berceloteh hal-hal yang bahkan tidak terlalu penting, sedangkan Jovi banyak tertawa mendengar gurauan dari setiap kalimat-kalimat yang aku lontarkan.
" Lo tau ga sih Jov dosen gue yang namanya Pak Dor?"
Jovi masih tertawa bahkan setelah aku merubah topik pembicaraan, " Tau. Kenapa?? Dia ngagetin lagi???"
" Dia kemaren cerita weh. Katanya abis kesurupan kursi,"
Tawa itu lagi-lagi terdengar bersamaan dengan suara klakson pengendara motor lain yang tak sabaran untuk segera melaju. Motor sedikit oleng karena barangkali Jovi terlalu lemas untuk mengendarai. Pundaknya bergetar-getar tak mampu menahan tawa.
Sama halnya dengan Jovi, air mataku sampai keluar karena sejujurnya, aku lebih tertawa lagi melihat Jovi sampai memegang perutnya karena kram.
Kupikir ia berhenti sejenak di pinggiran jalan untuk menetralkan tawanya, kupikir juga ia memegang perut karena terlalu banyak tertawa.
Namun aku salah, tangannya beralih pada dada dimana ia sedikit memukulnya pelan di sana. Aku mengabaikan, karena kupikir ia lelah sedari tadi mendengar gurauanku yang menurutnya lucu.
" Aslii Lou, lo kalo ikut stand up comedy gue dukung deh beneran," katanya. Sambil berjongkok di pinggir trotoar setelah memakirkan sepeda.
" Maaf sobat tapi muka ini terlalu tampan untuk jadi pelawak,"
" Dih pede. Lanjut lagi ga nih??"
" Gantian gue yang nyetir. Takut gue kalo lo ngakak mulu terus tiba-tiba lupa kalo lagi nyetir,"
" Ya udah jangan ngelawak,"
" Yee emang udah lucu dari sananya,"
Lantas kami melanjutkan perjalanan kembali, berputar-putar di sepanjang jalanan kota Bandung di sore hari itu. Barangkali kelihatannya biasa saja, tapi bagiku hari itu adalah hari terbaik untuk melakukan perjalanan dalam tahun ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
PAGE of 365
FanfictionNot a romantic story, just a story of a family and togetherness in it * * * * * * all picture in this story cr by pinterest
