2.9 About Our Dreams (1)

760 129 8
                                        

🦋Lakukan apa yang kau mau selagi kau bisa, karena lebih baik menyesal melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali🦋
- Jung Jaehyun -

Happy Reading

Note: part terbagi 2

Kalau saja dulu Jovi tak loncat kelas ataupun tak bertemu dengan geng jamet kelas sebelah, mungkin hidupnya tak akan semenarik seperti sekarang. Andai saja saat itu Louis tidak sok akrab padanya, mungkin juga tidak seberwarna itu hidup Jovi saat ini. Dikelilingi manusia-manusia penghibur dengan karakteristiknya tersendiri, yang membuat ia terkadang berpikir, mungkinkah mereka golongan manusia langka?

David dengan perilaku savagenya, yang cukup tahan dengan polosnya Winwin si primadona. Atau Tama dengan sifat sabarnya, yang terkadang harus kuat  menghadapi sifat random Jevin. Atau bahkan Mark, yang terlalu sering sakit perut mendengar segala ocehan tak masuk akal Louis.

Sedikit konyol, namun itulah yang namanya saling melengkapi.

Kalau tidak salah, dulu ibu pernah bilang begini, " Sudah menjadi takdir bahwa manusia itu tidak pernah sendiri, coba lihat temen-temenmu. Kalau mereka belum pergi ya berarti sudah diizinkan Yang Kuasa, untuk dijadikan sesuatu yang baik buat kamu," katanya.

Semua orang bisa untuk dianggap teman, namun tak semuanya bisa dianggap layaknya saudara. Masa ada teman yang tiap hari datang bergerumbul hanya untuk sekedar menumpang bermalas-malasan di rumah orang?

"Udah cocok ga sih nih rumah jadi hotel?"

Sepiring bakwan hangat dihidangkan si tuan rumah tepat di hadapan keenam orang tak tahu diri yang sekarang melenggahkan dirinya di lantai ruang tamu. Sambil meringkuk mencoba merasakan sejuknya lantai tanpa alas untuk mendinginkan badan.

" Cocok, lebih cocok lagi kalo desain hotelnya lesehan," Mark mendudukkan dirinya, mencoba mengendus bau bakwan buatan Nana yang baru saja selesai ditiriskan.

" Ada semangka gak Jov?"

Jovi ikut duduk, namun tak ikut meringkuk seperti yang lainnya. Atau ikut-ikutan membuka baju seperti yang Jevin lakukan.

" Ada"

" Mana?"

"Bijinya doang bekas kemarin,"

Mark sedikit lesu, setelah kemarin diberi Nana buah semangka manis hasil meminta pada Pak Dullah, ia jadi ketagihan. Tak pernah Mark temukan semangka semanis itu sebelumnya. Mungkin lain kali ia akan mengajak Nana, meminta lagi pada Pak Dullah atau kalau tidak dapat ya terpaksa mencuri. Terobos saja.

" Kalo Mark bucin semangka, gue bucin apaan ya?"

" Bucin kita"

Satu tepukan kecil mendarat di wajah Tama. Ngeri sekali David dibilang homo, enam orang pula.

" Lah gue bener anjir,"

" Gak berkualitas banget gue bucinin lo pada,"

Tama mendengus kecil, " Kemarin malem aja lo mohon-mohon ke gue, Tam gelang gue ilang gimana nih. Bantu doa dong biar ketemu,"

PAGE of 365 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang