🦋 Bukan Tuhan tidak tahu kamu sedih, tapi Tuhan tahu kamu kuat🦋
- Mark Lee -
Happy Reading
Sudah empat hari sejak Jovi bekerja part time di restoran. Malam ini ia pulang lebih awal, si pemilik restoran memulangkan pegawainya karena ada acara mendadak. Untung saja hari ini masih dibayar utuh.
Dengan langkah ringan ia berjalan menelusuri jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan. Hari ini malam minggu, wajar saja banyak pasangan-pasangan yang menghabiskan waktunya berduaan di luar rumah, memadati kota dengan berboncengan romantis layaknya dilan dan milea.
Ingin segera sampai di rumah, ia memutuskan melewati jalan besar dekat jembatan tempat kerjanya. Jarang-jarang pada malam hari ia lewat situ, biasanya saat pulang hanya melewati kampung-kampung yang langsung tertuju pada jalan rumah.
Melewati jembatan pinggir jalan, matanya menyipit tatkala melihat seorang remaja menaiki pembatas jembatan berniat untuk melompat. Sontak Jovi bergegas berlari menarik tubuh remaja itu yang hampir saja jatuh apabila ia tak segera menariknya.
"HEHHH, KAMU GILA YA!" Jovi berteriak sedikit marah setelah ia berhasil menggagalkan rencana bunuh diri remaja di depannya ini. Ia benar-benar kesal memikirkan apabila telat sedikit saja menolongnya, mungkin rasa sesal akan menghantui hidupnya. Bersyukur ia ada di waktu yang tepat saat itu.
Sedangkan remaja di depannya tampak lemas tak sanggup berdiri menangis tersedu-sedu memalingkan wajahnya. Keadaannya sangat kacau, baju yang kotor, tangan bekas sayatan, dan muka yang benar-benar menampilkan raut kesedihan terdalam.
"Ayo minggir dulu jangan disini," ajak Jovi ke tempat yang sedikit sepi mengingat tadi ia memarahinya di pinggir jalan besar. Tapi percuma saja, toh kejadian tadi tidak ada seorang pun yang peduli meski banyak kendaraan berlalu-lalang.
Sekitar 10 menit tidak ada yang berbicara diantara mereka, Jovi membiarkan anak itu menangis sepuasnya dan akan menanyakan perihal tadi setelah tangisnya reda. Sambil menepuk-nepuk punggung guna menenangkan, diamatinya wajah anak itu yang sepertinya seumuran dengan Jeje. Ada rasa iba melihatnya seolah membayangkan apa yang terjadi bila adiknya sendiri yang mengalami kejadian demikian.
"Nangis aja sepuas kamu, kalo udah siap cerita, bakal kakak dengerin,"
Meski tangisnya sudah mereda, ia masih diam tak menjawab pertanyaan Jovi dengan pandangan kosong.
"Ga cerita gapapa kok yang penting kamu udah tenang kan? Bentar kakak beliin air putih dulu, jangan kemana-mana,"
Ucap Jovi lembut dan berdiri dari duduknya berniat membeli minuman di sebrang jalan. Langkahnya terhenti saat tiba-tiba anak itu menarik dan menggenggam tangannya.
"Jangan pergi,"
Bibirnya yang tadi kelu hendak bercerita, kini mulai bersuara melihat Jovi hendak pergi dari hadapannya. Seolah tak rela ditinggal meski hanya sebentar saja.
"Kangen mama, kangen adik, kangen papa," ucapnya sendu pada Jovi yang sudah siap duduk mendengarkan.
"Mereka kemana?" tanya Jovi berhati-hati takut membuatnya malah semakin sedih.
"Udah pergi barengan,"
"Ke surga"
Sedikit terkejut mendengar pengakuan anak itu, dielusnya punggung yang bergetar karena kembali menangis. Mungkin apa yang diucapkannya barusan membuka luka lama yang selama ini ia pendam
"Aku pengen ikut kesana, pengen ketemu mereka"
"Disana bisa bahagia kan?? Disini aku seperti sampah yang ngga pernah dipedulikan,"
KAMU SEDANG MEMBACA
PAGE of 365
FanfictieNot a romantic story, just a story of a family and togetherness in it * * * * * * all picture in this story cr by pinterest
