Warning!
Cerita ini beralur maju mundur. Perhatikan tanda (***) sebagai alur mundur atau ceritamasa lalu saat Mark dan Haechan masih kuliah.
Happy Reading...
***
Pagi di hari libur setelah wrap up party, Haechan meyakinkan diri bahwa ini adalah waktu terhebat untuk istirahat dari penat dan sibuknya ia menyiapkan acara orientasi fakultas hampir tiga bulan lamanya. Menjadi ketua dari acara besar yang di selenggarakan setiap tahun membuat Haechan harus memangku beban berat tersebut di pundaknya.Jadi setelah semua hal yang sudah ia persiapkan akhirnya berakhir dalam seminggu, Haechan amat sangat bahagia dan merasa beban tersebut menghilang dengan cepat.
Yaa... Begitulah yang ia inginkan sebelum semua ini terjadi.
Haechan memandang jalanan di samping kanan dengan kosong. Di dalam taxi yang di pesankan oleh orang tua pria bernama Mark Lee itu, dirinya hanya bisa menghela nafas kemudian meringis ketika tidak sengaja menggerakkan bagian bawahnya, merasa tidak nyaman.
"Ugh, ini benar-benar buruk. Ini benar-benar yang terburuk." Gumam Haechan kemudian mengusap wajah, memijat pelipis bahkan sampai menjambak rambut coklatnya. Mengingat apa yang terjadi barusan sekaligus mengingat wajah pria yang jelas tidak merasa bersalah sedikit pun itu benar-benar membuatnya kesal dan ingin memaki siapapun di jalanan.
Sial, bagaimana bisa dirinya berakhir di ranjang orang lain dalam keadaan mengerikan seperti itu. Yang lebih parah kedua orang tua pria itu melihat keduanya dengan jelas, melihat bercak menjijikan di sekujur tubuhnya. Ugh, Haechan benar-benar ingin merobek wajahnya sekarang juga dan membuangnya ke laut.
"Haksaeng, kita sudah sampai di universitas." Di sela-sela merutuki keadaan, suara sopir taxi terdengar memberitahu bahwa mereka sudah sampai di gerbang belakang universitas dimana gerbang tersebut merupakan jalan menuju asrama mahasiswa.
Ya, dirinya adalah mahasiswa tahun ketiga yang memilih tinggal di asrama kampus daripada rumah sendiri atau kamar sewaan. Beruntung lah asrama kampus tidak memiliki jadwal ketat yang harus dipatuhi. Jadi dia tidak perlu bersusah payah untuk selalu hadir pada saat absensi malam dilakukan.
"ah terimakasih, Ahjusshi. Ini-" Haechan memberikan uang yang jelas diberikan oleh Nyonya Lee dan menerima kembaliannya. Turun dari taxi perlahan hanya untuk mendapati mulutnya kembali mengeluarkan rintihan.
"Kau baik-baik saja, Haksaeng?"
Ugh, memalukan. Bagaimana bisa seorang pria terlihat lemah setelah melakukan seks semalaman tanpa mengingat apapun setelahnya. "Tidak apa-apa. Aku-"
Seharusnya Haechan mengatakan dengan tegas bahwa dia baik-baik saja untuk tetap menjaga harga dirinya. Entah harus bersyukur atau tidak, tapi karena ketidakmampuan itu dia bisa sampai di asrama dengan selamat. Dengan bantuan sang sopir taxi dan mahasiswa tingkat dua yang kebetulan melihat dirinya dipapah oleh Ahjusshi itu.
Oh Tuhan...
Haechan memandangi tubuh bagian atasnya yang terpantul dengan jelas di cermin kamar mandi asrama. Walau enggan karena merasa jijik, akhirnya dia memegang satu persatu bercak merah beserta bekas gigitan yang tercetak pada kulit tubuhnya. Dengan wajah yang sepenuhnya memerah, sesekali Haechan menutup mata ketika dirinya mencoba untuk mengoleskan salep di bagian yang tidak bisa disebutkan itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
For Your Life [MARKHYUCK]
Fantasi"Apa mau mu, Mark Lee? Bukankah aku sudah membuat keputusan dengan jelas?!" Haechan membentak, merasa frustasi terhadap sikap Mark yang terlampau santai. "Aku adalah pria yang kejam, apa yang kau ingin dari pria seperti ku, hah? Apa sulitnya berhen...