——📌——
Setelah 2 jam lebih—tepatnya 17 menit—Mark tiba di tempat tujuan pengantarannya.
Sejenak ia terdiam; mengamati sekeliling, lalu ia menoleh kepada Boss-nya. "Kita sudah sampai?" tanyanya canggung.
Renjun mengerutkan keningnya. "Sesuai alamat?" Ia balas bertanya.
Melirik GPS navigation system dengan terbata, kedua manik elang Mark bergetar. Dengan sedikit panik, ia mengamati benda yang berfungsi sebagai navigator selama perjalannya itu dan keadaan di sekeliling bergantian.
"Shit," umpatnya lirih.
"Kau bilang apa?" tanya Renjun, melepas seatbelt dan meraih kotak rokoknya. "Pelanggan kita yang satu ini adalah salah satu pelanggan spesial." Ia mematik rokoknya lalu menghembuskan segaris asap kelabu ke luar jendela mobil. "Biar aku yang menemuinya, kau langsung angkut semua paket dan membawanya ke sana," tutup Renjun, menunjuk bangunan kecil yang seperti gudang.
"O-okay..." Mark mengangguk ragu.
Renjun memicingkan kedua matanya; memperhatikan bagaimana Mark dengan canggung turun dari mobil lalu memutar ke belakang mobil dan membuka trunk.
Memilih mengabaikan, Renjun menyusul turun dari mobil lalu menghampiri seorang pria—pelanggannya—yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Huang Renjun!" sapa pria itu seraya menjabat tangan Renjun dengan erat.
Renjun tersenyum datar. "Rupanya kau masih hidup, Pak Tua."
"Seperti yang kau lihat. Ku beri tahu, gingseng merah itu sangat berkhasiat." Pria itu mendekatkan wajahnya kepada Renjun. "Terlebih lagi jika diracik dengan bumbu spesial," bisiknya dengan kekehan di akhir kalimat.
Keduanya terdiam sesaat; memperhatikan Mark yang tengah mengangkuti paket-paket kiriman ke dalam bangunan—yang ternyata adalah gudang penyimpanan minuman keras.
"Orang baru?" tanya pria itu, dagu terangkat; menujuk kepada Mark.
Renjun mengangguk sambil menghisap rokoknya.
"Ke mana Juyeon? Kau memecatnya?" Pria itu bersedekap. "Haaa... sudah kuduga. Juyeon terlalu jujur untuk peker—"
"Dia mati," sela Renjun, "overdosis."
"Ah..."
Keheningan kembali tercipta sampai Renjun menyadari kalau Mark sudah selesai dengan tugasnya.
"Mark!" panggilnya.
Langkah Mark—yang hendak kembali ke mobil—berhenti mendadak. Gugup, ia menurunkan topi trucker yang ia pakai; berusaha menutupi wajahnya dalam bayangan kegelapan malam.
"Come here, Mark!" seru Renjun, membuang puntung rokoknya sembarangan.
Pria di sebelahnya mendecak kesal seraya menginjak puntung rokok Renjun yang masih menyala. "Kau sedang dalam misi bunuh diri?" geramnya. "Di sini, tempat kau berdiri, ada tangki raksasa berisi berliter-liter petrol yang tertanam di bawah tanah. Dan ada—"
"Ya, ya, ya." Renjun mengibaskan tangannya. "Jadi? Apa sebenarnya yang kau jual? Snacks? Sabun mandi? Boozes? Atau dope?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SOBER || MARKMIN
Acak【ONGOING】 【BAHASA】 ❝ ᴡʜᴀᴛ ᴀ ᴘʟᴏᴛ ᴛᴡɪᔕᴛ ʏᴏᴜ ᴡᴇʀᴇ ❞ ╔═════▣ ⚠️️ ▣═════╗ 🇨🇦🇺🇹🇮🇴🇳🇸 ╚═════▣ ⚠️️ ▣═════╝ ⚠️ ᴛʜɪs ɪs ɴᴏᴛ ʏᴏᴜʀ ᴏʀᴅɪɴᴀʀʏ, ʟᴏᴠᴇʏ ᴅᴏᴠᴇʏ, ᴀɴᴅ ғʟᴜғғʏ sʜɪᴛ ʟᴏᴠᴇ sᴛᴏʀʏ‼️ 🔞 ɴᴏ, ɴᴏ, ɴᴏ, ғʀᴇᴀᴋɪɴ...
