——📌——
"Inspektur!"
Inspektur Park menghela nafas berat seraya menyesap kopi panasnya dengan perlahan. Tidak menjawab. Tidak merespon pun tidak mengindahkan ekspresi panik yang sedang dipasang oleh anak buahnya saat ini.
"Begini..."
Demi Tuhan, ini baru pukul tujuh pagi, ia baru saja turun dari mobil dan belum sempat menginjakkan kaki ke dalam gedung kepolisian pusat, tempatnya bekerja. Tetapi ia sudah dihadang oleh—yang sepertinya—masalah cukup besar.
"Apa?" tanyanya malas, "kenapa ekspresimu buruk sekali, Detektif Yoon? Ini masih terlalu pagi untuk memasang wajah masam."
Detektif Yoon tersenyum hambar. Dalam hati ia balik menggerutu, apa orang ini tidak mempunyai cermin di rumahnya? Apa orang ini tidak sadar kalau wajahnya selalu masam setiap saat?
Jentikan jari Inspektur Park membuyarkan gerutuan imajiner Detektif Yoon, mengembalikannya kepada maksud semula ia memanggilnya dengan panik tadi.
"Apa?" ulang Inspektur Park sembari melangkah masuk ke dalam gedung.
"Begini, kami baru saja mendapatkan informasi kalau Keluarga besar Na mengeluarkan sayembara, bagi siapapun yang bisa menemukan cucu tunggal mereka, maka akan mendapatkan imbalan sebesar lima puluh juta wo—umph!"
Laporan Detektif Yoon terpotong oleh semburan kopi dari mulut Inspektur Park.
Ah, pagi yang menyegarkan...
"Lalu?" tanya Inspektur Park, membantu Detektif Yoon menyeka wajahnya dengan sapu tangan.
Detektif Yoon mengucapkan terima kasih lalu melanjutkan laporannya yang tertunda dan melanjutkan langkah mereka menuju divisi Criminal Investigation di lantai tiga.
"Saat ini, saya sudah mengirimkan sejumlah aparat untuk berjaga di Kediaman Besar Na di Jeonju. Tuan Na Yeong-seok, Tuan Besar keluarga Na, meminta kita untuk mengurus orang-orang yang datang mengklaim pernah bertemu dengan Na Jaemin-ssi, sebagian lagi menyatakan kalau mereka mempunyai informasi di mana keberadaannya saat ini." Laporan Detektif Yoon berakhir seiring dengan pintu lift yang terbuka lebar.
Inspektur Park menghela nafas berat, lagi. "Kenapa si Tua Bangka itu banyak sekali tingkahnya?" keluhnya sembari mendorong pintu dan melangkah masuk.
"Mungkin karena Na Jaemin-ssi adalah cucu kesayangan beliau, Inspektur."
Sudut bibir Inspketur Park terangkat satu, maniknya menjelajah ke sekeliling ruangan. "Bukan," balasnya santai.
"Ya?"
"Orang kaya tidak akan mengeluarkan uang hanya karena orang yang mereka sayangi." Inspektur Park menjeda, duduk di kursinya lalu menyalakan komputer. "Jika bukan tentang perihal penerus generasi atau ahli waris... yah, kemungkinan terbesar adalah mencari sensasi," lanjutnya dengan nada sedikit mencemooh.
Detektif Yoon terdiam. Memilih untuk membungkam suaranya daripada harus mendebat hal yang dia tahu, dia tidak akan bisa menang.
"Apa kita harus pergi?" tanya Inspektur Park.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOBER || MARKMIN
Diversos【ONGOING】 【BAHASA】 ❝ ᴡʜᴀᴛ ᴀ ᴘʟᴏᴛ ᴛᴡɪᔕᴛ ʏᴏᴜ ᴡᴇʀᴇ ❞ ╔═════▣ ⚠️️ ▣═════╗ 🇨🇦🇺🇹🇮🇴🇳🇸 ╚═════▣ ⚠️️ ▣═════╝ ⚠️ ᴛʜɪs ɪs ɴᴏᴛ ʏᴏᴜʀ ᴏʀᴅɪɴᴀʀʏ, ʟᴏᴠᴇʏ ᴅᴏᴠᴇʏ, ᴀɴᴅ ғʟᴜғғʏ sʜɪᴛ ʟᴏᴠᴇ sᴛᴏʀʏ‼️ 🔞 ɴᴏ, ɴᴏ, ɴᴏ, ғʀᴇᴀᴋɪɴ...
