——📌——
Tuas keran air tua berotasi terbata oleh jemari yang gemetar. Gerakannya membuka jalan air yang mulai bernyanyi—paduan suara dari reyotnya pipa tembaga dan plester penuh retakan yang menyelubunginya.
Air sedikit keruh menyembur keluar, tidak deras, tidak gemericik, namun mampu membasuh sepasang tangan yang semakin gemetar di bawah siramannya.
Suara langkah terdengar, gerakan pun dipercepat dan berhenti tepat sebelum lirih panggilan nama menyapa.
"Love? Is that you?"
Yang dipanggil menoleh, mendapati sang kekasih tengah berdiri di ambang pintu belakang; selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya dan kantuk menggelayut di wajahnya.
"Y-yes, Babe?"
"Kau sudah pulang?" Jaemin menggosok mata dengan punggung tangannya. "Jam berapa ini?" Ia melayangkan tatapan setengah terjaga ke cakrawala.
Mark melirik tangan kirinya; di mana biasanya terdapat arloji hadiah dari sang kekasih, namun benda itu tidak di sana, saat ini.
"Masuk ke dalam. Ini masih terlalu pagi untuk bangun," balas Mark sambil mengeringkan kedua tangannya dengan serbet yang dijemur Jaemin di kawat jemuran.
Jaemin tidak bergeming pun menyahut. Ia malah bersandar miring pada bingkai pintu; menunggu Mark selesai dan ikut masuk ke dalam rumah bersamanya.
"Cuddle time, huh?" tanya Mark, tersenyum tipis.
Yang ditanya mengangguk malu-malu.
"Come," ajak Mark, mendorong Jaemin masuk seraya menutup pintu dan memastikan untuk menguncinya.
Di dalam kamar, keduanya berbaring menyamping; spooning. Di dalam keheningan fajar, keduanya berbagi kehangatan dan beberapa sentuhan lembut yang sudah jarang mereka lakukan akhir-akhir ini.
"Mark?"
"Yes, Babe?"
"Did you get your job done already? Apa kau sudah meminum obatmu?"
Hembusan nafas Mark menyapa panas di permukaan leher Jaemin. "Yes, Babe." Ia merasakan genggaman tangan Jaemin mengerat;, mendekapnya erat ke dadanya. "Apa kau tidak tidur semalaman? Menungguku pulang?" tanyanya.
Gelengan Mark terima sebagai jawaban. "Aku tertidur." Jaemin memutar tubuhnya; kini keduanya saling berhadapan. "Handsome," lirih Jaemin, jemari menari di garis rahang Mark.
Mark menginterupsi tarian jemari itu, menggenggamnya erat dan membawanya mendekat ke bibirnya. Dikecupnya lembut jemari lentik dan indah itu tanpa henti. Namun sesuatu membuatnya terjeda.
"Mesiu," ujar Mark, dahi berkerut, manik elangnya memicing. "Kenapa tanganmu—"
"Ah! Ini." Jaemin menarik cepat kedua tangannya dari genggaman Mark. "Aku bermain petasan dan kembang api bersama Halmeoni dan anak-anak desa semalam." Ia tersenyum manis. "Kata Halmeoni, perayaan desa karena tangkapan ikan para nelayan tahun ini sangat bagus."
Mark menatap Jaemin semakin dalam, tajam dan penuh pertanyaan. "Perayaan? Selarut itu?"
"Ti-tidak terlalu larut, Love. Kau pergi sebelum makan malam, ingat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SOBER || MARKMIN
Random【ONGOING】 【BAHASA】 ❝ ᴡʜᴀᴛ ᴀ ᴘʟᴏᴛ ᴛᴡɪᔕᴛ ʏᴏᴜ ᴡᴇʀᴇ ❞ ╔═════▣ ⚠️️ ▣═════╗ 🇨🇦🇺🇹🇮🇴🇳🇸 ╚═════▣ ⚠️️ ▣═════╝ ⚠️ ᴛʜɪs ɪs ɴᴏᴛ ʏᴏᴜʀ ᴏʀᴅɪɴᴀʀʏ, ʟᴏᴠᴇʏ ᴅᴏᴠᴇʏ, ᴀɴᴅ ғʟᴜғғʏ sʜɪᴛ ʟᴏᴠᴇ sᴛᴏʀʏ‼️ 🔞 ɴᴏ, ɴᴏ, ɴᴏ, ғʀᴇᴀᴋɪɴ...
