——📌——
Jaemin menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Johnny siang ini. Ia sama sekali tidak bisa menghadapi raut penuh arti dari Boss-nya setelah ia mengatakan akan berhenti bekerja.
Seragam kerjanya terlipat rapi di atas meja plus apron dan juga nametag kecilnya. Menjadi bukti atas permintaannya yang cukup mendadak itu.
Helaan nafas panjang Johnny terdengar, ini sudah kali kelima. Dan Jaemin semakin dibuat serba salah karenanya.
"Apa kau yakin, Jaemina?" tanya Johnny, tatapannya datar.
Jaemin mengangguk pelan. "Maafkan saya, Sajangnim."
"Haaa... aku tahu kalau kau hanya ingin menuruti keinginan suamimu. Tetapi, ini terlalu mendadak. Dan keadaan café sedang ramai akhir-akhir ini." Johnny menjeda, melipat kedua tangannya di atas meja. "Setidaknya, sampai akhir bulan, mau ya?" bujuknya, sedikit memelas.
Jaemin tidak menjawab, karena jujur saja, dia sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
Satu sisi, dia merasa banyak berhutang kepada Johnny karena sudah terlalu baik mau menerimanya bekerja tanpa embel-embel formalitas dan membayarnya dengan cukup layak.
Tetapi di lain sisi, dia harus melakukan ini. Karena cepat atau lambat, dia harus mengakhiri permainan mari menyembunyikan pekerjaan ini dari Mark.
"Ayolah... hanya tinggal dua minggu lagi," rayu Johnny lagi.
"Sa-saya tidak tahu harus bagaimana, Sajangnim..."
Kembali, Johnny menghela nafas panjang dan lebih berat kali ini. Ia mengetukkan jari telunjuknya ke permukaan meja, bergumam sejenak lalu mengulas senyum simpul. "Apa aku harus mengurangi jam kerjamu, Jaemina? Maksudku, kau bisa masuk di rush hour saja. Tetapi gajimu mungkin tidak akan sama seperti kau bekerja seperti biasa."
"Sajangnim—"
"Setidaknya berikan aku waktu untuk mencari pegawai penggantimu."
Penawaran yang cukup menarik bagi Jaemin. Ia hanya perlu bekerja di jam-jam tertentu dan mungkin bisa melanjutkan kebohongannya kepada Mark sebentar lagi.
Dan sekali lagi, Jaemin merasa ia perlu membalas budi Pria baik yang menjadi Boss-nya ini.
Ia pun akhirnya mengangguk, mengiyakan tanpa memikirkan, mencari jalan lain yang lebih baik.
Senyum Johnny terulas lebih lebar dan cerah. Ia menepuk bahu Jaemin beberapa kali dengan lembut seraya menggeser tumpukan seragam mendekat kepada Jaemin. "Terima kasih, Jaemina. Dan maaf jika aku berkesan sedikit memaksa."
"Ah, tidak. Jangan berterima kasih, Sajangnim. Seharusnya saya yang berterima kasih karena Sajangnim sudah sangat baik sekali."
"Jaemina... di kota kecil seperti di sini, jarang bisa menemukan orang yang baik. Dan aku bisa menemukan orang sebaik dirimu adalah salah satu dari keberuntunganku. Plus, kau jarang mengeluh, protes, atau merengek seperti Sunwoo atau Jeno. Astaga, mereka berdua sungguh menyebalkan," gerutu Johnny yang ditutup dengan kekehan renyah.
Jaemin menyimpulkan senyumnya. "Saya bukan orang baik seperti yang Anda pikirkan, Sajangnim."
"Whatever. I don't really mind. Yang terpenting sekarang, mari kita bekerja giat sampai akhir!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SOBER || MARKMIN
Diversos【ONGOING】 【BAHASA】 ❝ ᴡʜᴀᴛ ᴀ ᴘʟᴏᴛ ᴛᴡɪᔕᴛ ʏᴏᴜ ᴡᴇʀᴇ ❞ ╔═════▣ ⚠️️ ▣═════╗ 🇨🇦🇺🇹🇮🇴🇳🇸 ╚═════▣ ⚠️️ ▣═════╝ ⚠️ ᴛʜɪs ɪs ɴᴏᴛ ʏᴏᴜʀ ᴏʀᴅɪɴᴀʀʏ, ʟᴏᴠᴇʏ ᴅᴏᴠᴇʏ, ᴀɴᴅ ғʟᴜғғʏ sʜɪᴛ ʟᴏᴠᴇ sᴛᴏʀʏ‼️ 🔞 ɴᴏ, ɴᴏ, ɴᴏ, ғʀᴇᴀᴋɪɴ...
