Aut Viam, Inveniam Aut Faciam

869 125 37
                                        




——📌——









Sekumpulan uap beraroma lezat mengepul dari dalam sebuah panci berisikan egg drop soup di atas kompor dengan api yang menyala sedang. Di sebelahnya, ada desisan dari telur dadar yang hampir matang sepenuhnya.


Sepetak dapur kecil menjadi arena perlombaan aroma, tetapi tidak ada sosok sang chef yang menjadi pemeran utama di sana.


Pagi masih terlalu dini, matahari masih bersembunyi, dan sang bintang fajar masih belum mau pergi. Begitu pula dengan sang kekasih hati; masih berselimut mimpi.


Sang chef—Jaemin—yang rupanya tengah melarikan diri sejenak dari tugasnya, menghela nafas panjang sambil menatap fanny pack yang disimpannya di dalam laci kecil; tempatnya menyimpan uang.


Beberapa saat dihabiskannya untuk menghitung lembaran-lembaran uang yang semakin lama semakin berkurang. Dahinya terus membuat garis tebal, bibir bawahnya tergigit kecil, dan nafasnya semakin memberat di setiap detik.


Merapikan kembali semua yang dikeluarkannya tadi, ia pun beralih menatap kekasihnya; masih pulas dan terlalu lelap, jauh dari terjaga.


Tangannya terangkat, jemari pun menari di garis rahang Mark; memberikan sentuhan lembut yang terasa dingin dalam satu waktu.


"Sine sole sileo..." gumamnya lirih.


Mark terusik; menggeram rendah seraya membalikkan tubuhnya. Tetapi tetap tertidur, tidak mau terjaga.


Tersenyum tipis, Jaemin pun memutuskan untuk kembali ke dapur dan menuntaskan tugasnya.


Dan setelah beberapa saat berkutat dengan segala pekerjaan rumah, ia pun bergegas untuk membangunkan Mark; mengajaknya untuk sarapan bersama.


"What time is it, Babe?" geram Mark sambil mengusap wajahnya.


"Jam delapan lebih sedikit."


Terdiam; duduk dengan tatapan menerawang entah ke mana, lalu Mark menarik Jaemin mendekat.


"Hm?" Jaemin mengerjap kebingungan—adorable.


Pertama, tidak ada kata sebagai balasan, yang ada hanya sekali lagi tarikan dan dekapan erat. Lalu sapaan parau yang lirih terdengar. "Good morning, Babe."


Jaemin tersenyum lebar; manis dan cantik. "Good morning, Love."


Tanpa melepas dekapannya, Mark kembali berujar lirih, "Harum. Egg rolls?"


"Yep. Right on point! Harum dan lezat!"


Mark terkekeh, dagunya naik dan turun di bahu Jaemin. "And you too," ujarnya di sela kekehan.


"Hm? Me too?"


"Yeah, you smell like... love."


Hidangan pagi yang lezat, matahari dengan sinarnya yang hangat, dan juga dekapan yang membuat ikatan bertambah erat.


Pagi yang sempurna untuk dua jiwa dan dua raga yang tengah tersesat.









——📌——









Seperti yang sudah Jaemin tebak sebelumnya, Mark akan menyukai egg rolls buatannya itu. Karena dia adalah Mark; orang yang hanya menyukai egg rolls jika ia yang membuatnya.


SOBER || MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang