——📌——
Sepasang manik kelinci mengerjap lambat, lalu terpejam dengan bola mata yang bergerak gelisah di balik kelopaknya. Suara geraman lirih menyusul kemudian seiring dengan wajah sang pemilik netra yang terbenam ke dalam selimut tipis.
Indera pendengaran sayup menangkap suara alam, yang riuh menyambut hari, berpadu dengan deburan ombak dari kejauhan.
Hati masih ingin berselimut mimpi, tetapi sepertinya pencernaan ingin segera dimanjakan dan dituruti.
Sekali lagi menggeram, Jaemin akhirnya lekas bangun sembari mengusap kedua matanya. Sejenak ia menguap kecil, merenggangkan otot-otot leher yang pegal, lalu ia berpaling ke sisi kirinya, di mana kekasihnya masih tertidur pulas dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk dari balik tirai jendela, jatuh tepat di wajahnya.
Kemudian ia menebarkan tatapannya ke sekeliling, menegaskan sekali lagi kalau sekarang, ruangan yang sempit ini adalah kamarnya, tempat yang ia sebut dengan rumah.
Senyumnya mengembang saat ia bisa kembali mendengar suara deburan ombak.
"Mark?" Perlahan, ia menggoyangkan lengan Mark sembari berbisik memanggil namanya. "Mark?" ulangnya.
Pemuda bermarga Lee itu menggerutu dengan mata terpejam, sejenak menggeliat lalu berbalik sembari menarik selimut.
Jaemin kembali tersenyum, ia sudah tahu, sudah hafal, kalau Mark dan pagi adalah musuh bebuyutan yang sulit disatukan.
Memutuskan untuk membiarkan kekasihnya kembali tidur, ia pun beranjak keluar dari kamar dan lekas membersihkan diri di kamar mandi. Setelahnya, ia pergi keluar rumah. Rencana yang ia susun untuk hari ini adalah membersihkan rumah dan mungkin mencoba memasak sendiri beberapa menu yang pernah diajarkan oleh para pelayan di rumahnya, dulu.
Di luar, ia disambut oleh matahari yang serupa kuning telur setengah matang yang sedang melelehkan cahayanya di sepanjang garis cakrawala. Aroma khas laut dan tanah yang basah turut menyelimutinya dengan riang.
Beberapa bunga dan tumbuhan liar pun bergoyang, seolah sedang mengadakan orkestra tentang kehadirannya di rumah yang sudah lama tidak berpenghuni ini.
"Kalian cantik," sapanya dengan jemari yang menari di beberapa kelopak bunga.
"Nak!"
Jaemin menoleh, mendapati wanita pemilik rumahnya tengah melambaikan tangan sembari berjalan menuju ke arahnya.
Ia menunggu dengan senyum hangat terulas di bibirnya. Sampai akhirnya ia menyadari kalau wanita itu membawa dua kantung plastik hitam cukup besar yang mana langsung mengundang kerutan di dahinya dan langsung menghampirinya.
"Anda ingin membawa ini ke mana, Nyonya?" tanya Jaemin, berusaha membantu membawakan kantung-kantung itu.
Wanita pemilik rumah itu tertawa renyah. "Ke rumahmu," jawabnya singkat seraya menarik lengan Jaemin untuk kembali ke rumahnya. "Orang-orang memanggilku dengan Nyonya Yoon. Tetapi kau panggil aku Halmeoni saja." tambahnya kemudian.
Jaemin mengangguk ragu. Banyak pertanyaan yang muncul tetapi ia tidak bisa mengatakannya dengan lugas saat ini.
"Kupikir kalian belum bangun," kata Nyonya Yoon seraya menghentikan langkahnya tepat di teras rumah Jaemin. "Aku membawakan peralatan memasak seadanya, beberapa bumbu dan sayur untuk sarapan." Ia menilik tampilan Jaemin dari kepala hingga ujung kaki. "Kau kurus sekali," omelnya gemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOBER || MARKMIN
Random【ONGOING】 【BAHASA】 ❝ ᴡʜᴀᴛ ᴀ ᴘʟᴏᴛ ᴛᴡɪᔕᴛ ʏᴏᴜ ᴡᴇʀᴇ ❞ ╔═════▣ ⚠️️ ▣═════╗ 🇨🇦🇺🇹🇮🇴🇳🇸 ╚═════▣ ⚠️️ ▣═════╝ ⚠️ ᴛʜɪs ɪs ɴᴏᴛ ʏᴏᴜʀ ᴏʀᴅɪɴᴀʀʏ, ʟᴏᴠᴇʏ ᴅᴏᴠᴇʏ, ᴀɴᴅ ғʟᴜғғʏ sʜɪᴛ ʟᴏᴠᴇ sᴛᴏʀʏ‼️ 🔞 ɴᴏ, ɴᴏ, ɴᴏ, ғʀᴇᴀᴋɪɴ...
