In Absentia Lucis Tenebrae Vicunt

654 118 63
                                        




——📌——









"So!" Johnny tersenyum jahil. "You're my new employee, then!" sindirnya sambil terkekeh pada Jaemin, yang tertunduk malu di hadapannya saat ini.


"Well, sepertinya aku harus membuat perjanjian kerja yang baru dengan terms and agreements yang baru juga," tambah Johnny kemudian.


"A-ah, Sajangnim tidak perlu—"


Kalimat Jaemin dipotong cepat oleh jari telunjuk Johnny yang terangkat tinggi. "No~ no~ no~" ucap pria bermarga Seo itu sambil menggoyangkan jarinya. "Aku sudah berjanji kepada suamimu, Jaemina. Dan selayaknya Boss yang baik, aku harus menepati janji itu, bukan?"


Tersipu, banyak malu. Masih segar dalam ingatan Jaemin, bagaimana Mark tidak henti-hentinya mendebat dan memaksakan usulnya kepada Johnny tempo hari.


"Dia pria yang baik, Jaemina."


"Huh? Ke-kenapa, Sajangnim?"


Johnny mengulas senyum tampannya, tatapan tetap terkunci pada sosok kelinci manis yang masih tersipu. "Dia pria yang baik," ulangnya. "Jarang aku menemukan seseorang yang repot-repot mengecek tempat bekerja pasangannya, menemui Boss-nya langsung dan menanyakan tentang segala macam hal yang crucial."


"Kecuali seseorang itu adalah preman pasar atau ketua geng di Gangnam, tch!"


Seseorang menyahut, itu Sunwoo, yang tetiba datang dengan membawa dua pack besar biji kopi panggang.


"Sunwoo-yaaa..." Johnny memelototi Sunwoo, yang dibalas dengan dengusan sebal.


"Sunwoo benar." Lagi, seseorang datang dan menyahuti percakapan Jaemin dan Johnny. "Terlalu over kalau aku bilang."


Johnny tertawa gemas, melihat Jeno datang bersungut-sungut lalu ikut bersedekap di sebelah Sunwoo. "Kenapa kau di sini? Club baru buka nanti malam, Jen," tanyanya.


"Hyeong mempercayakan bocah ini untuk mengambil stok kopi sendirian? Hyeong sedang mabuk?" protes Jeno dengan manik yang memicing tajam. "Kalau saja aku tidak berinisiatif datang, hampir saja kita salah mengambil pesanan. Dan hampir saja kita menghilangkan segala jenis minuman dengan kopi sebagai bahan dasarnya! Ugh!"


"Ya!" Sunwoo menelototi Jeno. "Bocah?? Kalau aku bocah kau apa? Embrio? Zygote​?"


"Ya!" balas Jeno, tidak mau kalah.


"Okay, cukup." Johnny bertepuk tangan; berusaha memisahkan kedua bocah yang sedang beradu mulut, lalu mengembalikan atensinya kepada Jaemin. "Aku harus pergi ke luar kota hari ini, ada urusan mendadak. Um... apa kau bisa menghandle kedua bocah ini, Jaemina?" pintanya, sedikit memelas.


Jaemin tersenyum manis. "Mereka bisa mengurus diri mereka masing-masing, Sajangnim," balasnya. "Dan oh, kapan Anda pulang?"


"Aku tidak akan menginap, kalau urusanku cepat selesai, mungkin nanti malam aku sudah kembali." Johnny menyambar jaket kulit hitamnya dan juga serangkaian kunci. "Jen, kalau aku belum datang, nanti malam kau bisa membuka club terlebih dahulu. Dan ingat... jangan nakal, okay?"


Jeno mencibir, Sunwoo terkekeh girang sementara Jaemin tersenyum tipis.


"Okay, see you guys later, then!"









——📌——









Gedung pusat kepolisian Seoul selalu terlihat sibuk. Beroperasi selama 24 jam, siap melayani dan siap mengayomi. Berperang dengan segala macam kasus pembunuhan, penipuan, dan segala tindakan kriminal setiap harinya.


SOBER || MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang