Si Vis Amari, Ama

676 110 57
                                        




——📌——









Sang ratu malam sudah bertengger anggun di angkasa, parasnya hanya tampak sebelah, namun tidak mengurangi eloknya.


Di tengah berakhirnya perjalanan musim panas seperti saat ini, planet Mars bisa dengan jelas dilihat oleh mata; telanjang tanpa harus memakai teknologi manusia. Sepertinya sang dewa perang menginginkan salah satu pengikutnya untuk membunyikan genderang dan memulai peperangan. Planet Jupiter pun bersedia mendampinginya, layaknya seorang Ayah, sang Raja, yang mengantarkan putranya berangkat ke garis paling depan.


Dan seperti para dewa Romawi kuno yang tengah menampakkan wajahnya di angkasa, sang dewa perang di kepolisian Seoul pun tengah bersiap untuk maju ke medan perangnya.


Tidak mengindahkan malam yang semakin meninggi, melupakan orasi perut yang belum terisi, dan mengesampingkan kalau raganya perlu rehat dan pergi ke dunia mimpi.


Beberapa prajurit—petugas polisi senior—sudah mencoba mengajaknya untuk meredakan gejolak emosi, tetapi ditepisnya dengan dingin, tanpa ekspresi. Beberapa Detektif muda mulai memperlihatkan iri; ingin bekerja totalitas sepertinya tetapi di lain sisi, enggan menyakiti diri.


Di tengah kekalutan, tumpukan berkas, barang bukti, dan juga berlembar-lembar catatan deduksi, Inspektur Park mengumpat, menembakkan sumpah serapah saat netranya kembali bersiborok dengan laman email yang terbuka.


Email yang berisi informasi, tentang kapan, di mana, dan apa yang harus dilakukannya pagi nanti.


"Tch! Serigala tua itu pandai sekali mencari muka," geramnya. "Pandai sekali menjilati pantat para petinggi. Hh... apa aku harus seperti itu untuk tetap berada di sini?"


"Bagaimana kalau serigala kita yang satu ini meminum kopi saja?"


Seseorang datang, tersenyum cantik seraya meletakkan segelas kopi hitam di hadapan Inspektur Park.


"Tiga extra shots. Saya rasa cukup, bukan, Inspektur?"


Inspektur Park tertawa hambar. "Sedang apa kau di sini, Detektif Jang?" Ia menyesap kopinya perlahan lalu menggeram nikmat saat rasa pahit favoritnya menguar, dikecap oleh indera perasa. "Apa Yoon Dowoon yang menyuruhmu datang? Bukankah kau seharusnya kau libur?"


Detektif Jang kembali tersenyum seraya melirik arlojinya. "Saya rasa ini sudah lewat dari hari libur saya. Dan... Detektif Yoon tidak menyuruh saya datang."


"Kau benar," balas Inspektur Park. "Sudah pukul dua malam."


Menarik kursi lalu ikut membaca deduksi, dan tanpa banyak bicara lagi, Detektif Jang dengan sigap membantu sang Big Brother mempersiapkan perangnya.


Hening yang panjang; jarang terjadi karena biasanya dipenuhi oleh candaan, sindiran, dan tidak lupa, keangkuhan aneh dari yang lebih tua.


"Jang Seungyoon?"


Detektif Jang mengalihkan atensi dari artikel koran yang tengah menarik perhatiannya. "Ya, Inspektur?"


"Apa kau sedang berpikir sama sepertiku?"


Kembali menatap artikel koran yang digunting asal, Detektif Jang lalu mengangguk; agak ragu.


"Bagus!" puji Inspektur Park seraya meraih jaketnya. "Ayo kita—"


SOBER || MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang