De Omnibus Dubitandum

2.2K 289 19
                                        





——📌——









Sepanjang mata bisa memandang yang terlihat hanyalah padang rumput, membentang luas dengan tepi yang seolah meleleh, melebur menjadi satu dengan cakrawala kelabu. Jalanan yang dilalui terasa tidak berujung, lurus seperti spaghetti mentah dan terkadang berbelok seperti pita beludru hitam yang melingkari perbukitan kala senja.


Na Jaemin tidak tahu ke mana Mark akan membawanya pergi. Ia hanya tahu, kalau saat ini, sekarang, ia harus mempercayakan semuanya kepada kekasihnya itu.


Jika biasanya ia bisa tertidur dalam perjalanan panjang, kali ini ia tetap terjaga. Bukannya tidak ingin, dia tidak bisa. Walaupun kedua lengannya sudah mengerat kencang di tubuh hangat kekasihnya, walaupun kepala bersandar nyaman di punggung tegapnya, walaupun sesekali usapan lembut menyapa punggung tangannya, ia tetap tidak bisa menghalau keributan yang bertarung sengit di dalam kepalanya.


Sejenak berusaha menenangkan diri, lalu tanpa disadari, landscape perjalanan yang mereka tempuh pun sudah berganti.


Perbukitan menjadi gedung tinggi, padang rumput menjadi pedestrian, cakrawala tidak lagi terlihat kelabu, dan kini, sang Bagaskara pun sudah merangkak naik dengan cahaya yang mengintip malu dari sela dua bangunan berbata.


"Apa kita sudah sampai, Mark?" bisik Jaemin ragu ketika mereka berhenti di persimpangan jalan karena lampu merah.


Mark menoleh, sisi wajahnya—yang mengintip dari balik visor helm full face-nya—terlihat sangat tampan tertimpa cahaya surya. "Belum, Babe. Apa kau lapar?" Ia balik bertanya.


"Tidak. Bukan itu."


"Lalu? Kau lelah?"


"Tidak, aku hanya bertanya."


Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau tepat sebelum Mark sempat membalas ucapan Jaemin. Ia kembali menjalankan sepeda motornya, kali ini ia melaju di sisi kanan jalan dengan kecepatan sedang.


Tak lama dari sana, mereka berhenti di depan sebuah eatery sederhana di pinggir jalan. Dengan gesit, Mark memarkirkan sepeda motor lalu menarik Jaemin untuk masuk ke dalam.


"Kita, ah, kau, kau harus makan," ucap Mark sebelum memperhatikan menu yang tertempel sederhana di dinding.


"Nasi goreng kimchi dan teh hangat," pesan Mark kepada salah satu pelayan yang menghampiri mereka. "Ah, apa di dekat sini ada ATM?" tanyanya sebelum pelayan itu pergi.


Pelayan itu menggumam pelan lalu tersenyum hangat. "Seratus meter dari sini ada, tetapi aku tidak yakin apakan itu ATM Bank yang kau cari."


Setelah mengucapkan terima kasih, Mark beralih kepada kekasihnya. Yang sedari tadi tertunduk dalam, bercinta dengan kebisuan.


Tangannya terulur, menggenggam tangan Jaemin yang terkepal erat di atas meja. "Babe? You okay?"


Jaemin mengangguk sekali. Ia tersenyum, tetapi Mark bisa memastikan kalau senyum itu palsu.


Satu helaan nafas terlolos dari bibir Mark. Ia berpindah tempat duduk di sebelah kekasihnya seraya merangkulnya dengan erat dari samping. "Babe, aku di sini," bisiknya lembut dengan kening menempel di sisi wajah Jaemin.


"Aku tahu, Mark..."


"Kita harus makan dan setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan."


SOBER || MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang