Unus Testis Nullus Testis

3.2K 348 16
                                        





——📌——







Raungan sirine memecah belah ketenangan pagi. Sekumpulan pria berseragam ramai terlihat di depan sebuah kediaman; sebagian dari mereka berjaga, sebagian lagi sibuk membentangkan police line dengan beberapa di antaranya mengantar petugas forensik yang baru saja tiba bersama mobil ambulance.


Beberapa orang dibuat keluar dari kediaman karenanya. Sebagian besar menggumam, menggerutu, mengeluh tentang keramaian yang menyentak kedamaian.


Sebagian lagi bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi sampai-sampai beberapa petugas berseragam tadi mendatangi mereka dan bertanya tentang alibi dan ketersediaan mereka memberikan keterangan.


Di balik kerumunan, sosok pria gagah muncul dengan ekspresi tak kalah suram. Ia mengangguk pada petugas yang berjaga di depan lalu menerobos masuk ke dalam rumah yang sudah disesaki oleh beberapa tim forensik dan juga dua orang Detektif senior dari Divisi Criminal Investigation Unit.


"Inspektur Park!" Salah satu dari Detektif itu membungkuk sopan, menyapa sang kepala regu yang baru saja datang.


Pria berwajah masam dan suram tadi balas menyapa dengan anggukan, lalu mengerutkan kening kala kedua mata menjelajah sekitar.


"Perampokan?" tanyanya sembari berjongkok, mengamati sesuatu yang tercecer di dekat sepatunya. "Detektif Yoon?"


"Sementara disimpulkan seperti itu, Inspektur," jawab Detektif Yoon.


Inspektur Park mengambil sapu tangan dari saku belakang celananya, lalu memungut benda berkilau yang ia temukan di antara pecahan kaca. "Detektif Jang, berikan ini kepada tim forensik."


"Baik, Inspektur."


Setelah memastikan bawahannya lekas pergi dengan sesuatu yang diyakini sebagai barang bukti, Inspektur Park bangkit berdiri, menatap Detektif Yoon dengan ekspresi sulit diartikan. "Kesimpulan?"


Detektif Yoon tergagap, ia membuka notes kecilnya lalu membacakan beberapa hal yang ia sempat catat setelah mencoba menyelidiki sendiri sebelumnya.


"Kedua korban adalah suami dan istri. Na Hyun Jae dan Na Jung Hee." Detektif Yoon memulai kalimatnya dengan suara rendah, maniknya sesekali melirik dua mayat yang tengah dikerumuni oleh beberapa tim forensik. "Mereka mempunyai seorang putra bernama Na Jaemin, yang kini keberadaannya tidak bisa ditemukan. Brangkas yang terletak di balik lukisan keluarga terbuka dan isinya terkuras tanpa tersisa."


"Kedua korban meregang nyawa setelah melalui pendarahan hebat, Na Hyun Jae-ssi mendapatkan beberapa pukulan keras dari benda tumpul tepat di belakang kepalanya, sementara Na Jung Hee, mendapatkan luka tusuk sedalam sepuluh centimeter yang berasal dari pisau dapur di bagian dada kiri," tutup Detektif Yoon yang di akhiri dengan dehaman kecil.


"Di mana mayat putranya?"


Detektif Yoon menggeleng. "Kami belum bisa memastikan kalau Na Jaemin-ssi juga terbunuh."


"Saksi mata?"


"Satu orang, tetangga yang kebetulan pulang malam setelah menghadiri pesta perpisahan dengan kepala bagian di perusahaannya."


Inspektur Park menggumam pelan, ia mengetukkan kakinya beberapa kali lalu berjalan menuju pintu depan. "Jadi, orang itu mabuk?"


"Be-benar, Inspektur."


SOBER || MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang