Ut Avertam Oculos Meos Ad Intendum

736 101 127
                                        




——📌——









Sang surya masih terlelap di peraduan, tetapi beberapa ayam jantan sudah mengumandangkan senandung tentang keperkasaan. Langit masih berselimut payoda kelam, tetapi laut sudah setia dengan selimut birunya. Udara dingin masih bergelung, tetapi lambat laun berkerumun dan menjadi embun.


Suasana yang menciptakan puisi para pujangga menjadi nyata. Situasi yang memaksa raga untuk tetap bercumbu di dalam kehangatan mimpi dan melupakan realita.


Mudah bagi beberapa orang untuk bisa melawan nikmatnya peraduan untuk terjaga dan memulai hari. Sangat sederhana.


Sesederhana para Ibu yang menyiapkan segalanya demi keluarga. Seperti para pekerja dengan jadwal masuk yang menuntut dan juga para pelajar teladan yang berambisi menggapai mimpi di dunia nyata.


Dan sesederhana seorang Na Jaemin dengan indera pendengarannya yang tengah menangkap sayup langkah yang terambil ringan; berjinjit, meniti dengan derit yang mengiringi.


Sejenak ia berpikir kalau dirinya masih di alam mimpi, tetapi berkat kecupan dingin di pipi dan sentuhan lembut di dahi, membuatnya yakin kalau ini adalah kenyataan yang sesuai dengan ekspektasi.


"Sshh... sleep again..."


Suara berat itu terlantun lembut, merayu, dan membelenggu. Menyapa singkat, namun sangat memikat.


"Kau bilang, kau baru sampai nanti siang..." Jaemin menyibak selimut, berucap tanpa membuka kedua mata.


Tidak ada jawaban langsung, yang ada malah dekapan erat yang diterima Jaemin dengan hangatnya dari belakang.


"I said, sleep again. It's still too early."


Tidak akan pernah Jaemin bosan mendengar suara itu, suara yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar dan dipenuhi balada.


Jaemin menyamakan dirinya di dalam dekapan, tangan kirinya meraih tangan kekar sang kekasih hati yang terdampar di pinggangnya, membawanya naik dan mendekapnya erat di dada.


"Why do you smell like grapes, Babe?"


Tersenyum dengan kedua mata tetap terpejam rapat, Jaemin lalu menjawab, "It's the shampoo, Love."


"And mints."


"Yeah, itu adalah satu-satunya varian yang mereka punya di toko."


"You used to hate it. Mints."


Jaemin tidak langsung menjawabnya, ia malah berbalik lalu menelusup nyaman di dada Mark. "As I said before... that's the only available variant."


"Hh... what can I say then."


Tawa kecil Jaemin teredam di dalam pelukan. "Sleep," bisiknya lirih.


Keheningan pun tercipta, kehangatan berlipat ganda, dan ketentraman hati melimpah seperti air bah.


Keduanya menyambut fajar hari ini dengan saling memeluk raga dan menautkan jiwa. Tidak ada yang ingin memutuskan ikatan nafas yang saling bergelung di tengah, pun tidak ada yang ingin menamatkan bagaimana indahnya detak kedua jantung yang berdebar dengan senada.


Mereka membiarkan waktu berjalan, tidak mengindahkan kebiasaan tentang terjaga di pagi untuk memulai hari.


Dan terus begitu sampai akhirnya sinar matahari membuat bias pelangi dari berlian yang menari di atas kanvas; bumi yang memutarinya. Sampai bias itu memaksa masuk dan terjatuh di permukaan dinding; menciptakan lukisan alami di antara lukisan buatan manusia.


SOBER || MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang