My Best Friend [NC]

7.5K 349 19
                                        

P*rn without plot, read at your own risk 🔞🔞







Banyak yang bilang, jodoh itu di tangan tuhan. Tapi bagaimana nasib anak-anak yang dijodohkan oleh orang tuanya?

Jimin dan jungkook adalah sahabat kental bagai upin dan ipin. Bedanya kepala mereka tidak botak juga mereka lahir dari keluarga yang berbeda.

Selalu bersekolah di tempat yang sama, di kelas yang sama, jurusan yang sama. Tetapi cita-cita mereka berdua berbeda. Jimin ingin menjadi aktor, sedangkan jungkook ingin menjadi seorang seniman.

Memang sejak kecil jungkook mahir dalam membuat ilustrasi, ia juga mahir melukis panorama. Jimin juga sejak kecil pandai bermain peran, saat pentas ia selalu sibuk dengan script karena dia adalah pemeran utamanya.

Meski begitu mereka selalu mensupport satu sama lain. Jimin sering menemani jungkook bepergian ke gunung ketika ia butuh inspirasi, jungkook juga sering membantu jimin dalam menghapal scriptnya.

Mereka seperti paket komplit yang rasanya kurang jika salah satunya tidak ada. Dimana ada jimin, disitu ada jungkook dan begitupun sebaliknya. Hingga beranjak dewasa anak-anak lain berfikir, bagaimana jika salah satu dari mereka berpacaran?

Apakah mereka tidak ingin berpacaran?

"sibuk.. Tugas numpuk banyak revisi, ketemu jimin aja udah jarang. Paling cuma vidcall aja" jawab jungkook

"lagi tahap audisi, harus fokus sama cita-cita dulu. Urusan hati bisa belakangan" jawab jimin

Ya begitulah mereka, terlalu asyik dengan dunia masing-masing hingga lupa kalau umur mereka mulai menginjak 25 tahun.

Jungkook sudah memiliki pameran sendiri, jimin juga sudah menjadi Aktor pendatang terbaik tahun ini. Meski pencapaian sama-sama sudah mereka raih, hubungan mereka tetap akrab dan tidak terputus begitu saja. Setidaknya mereka pasti bertemu meski satu minggu sekali, sekedar tegur sapa menanyakan keadaan dan project yang sedang dikerjakan.

Selayaknya teman pada umumnya.

Harusnya sih begitu.

"mah.. Jangan aneh-aneh" ujar jimin, ia beranjak dari kursi kemudian menghampiri ibunya di dapur.

"kamu yang aneh, apa kamu tahu ayah dan ibu menikah di usia 22 tahun. Mau sampai kapan kamu melajang seperti ini?" balas sang ibunda, tangannya menyuapi kimbap ke mulut jimin

"bappi abu ga bau kalau bengan obang abing-"

"telan dulu makanannya!" ibu jimin memukul kepala anaknya sambil tertawa

"tapi aku gak mau kalau dengan orang asing, bu. Setidaknya harus ada pendekatan dulu"

"pendekatan?? Pfff sepertinya kamu tidak butuh itu lagi, sayangku. Kalau begitu ibu pergi.. Dihabiskan ya makanannya. Mwah mwah" ujar ibu jimin sambil menciumi kening anak semata wayangnya.

Jimin masih cemberut sambil melahap habis kimbab kesukaan buatan ibunya tercinta. Dalam hatinya terus bergumam, siapa jodoh yang dimaksud oleh ibunya? Kenapa tidak perlu pendekatan? Apakah jimin mengenalnya?

Pertanyaan itu terus berada di kepala jimin hingga hari pertemuan itu tiba, jimin sudah berdandan sangat tampan dengan kacamata hitam menutupi matanya. Dia seorang aktor pendatang baru, tentu saja terkenal.

Jimin menatap ke luar jendela, saat ini ia berada di restoran yang berada di hotel berbintang lima. Langit sudah gelap, lampu jalanan terlihat indah berdampingan dengan lampu kendaraan.

"hey..." ucap seorang pria yang membangunkan jimin dalam lamunannya

"jung... Kook?" tanya jimin, terkejut

KOOKMIN ONESHOT FOR US Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang