Jungkook POV
Indah
mungkin itu satu-satunya kata yang tepat untuk mendeskripsikan seorang Park Jimin.
Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang mungil, kulitnya putih mulus seperti boneka yang dimiliki oleh sepupuku waktu malam natal.
Awalnya dia bekerja menjadi juru masak di rumahku, namun kini ia bekerja menjadi gardener karena ayah mulai kewalahan mencari seseorang yang bisa merawat kebun di halaman belakang. mudah untuk mencari seorang juru masak, namun tidak mudah untuk mencari seorang tukang kebun.
Untung bagi Jimin, karena dia sejak kecil hidup di desa dan pernah merawat berbagai tanaman milik sang nenek.
Dedikasinya terhadap keluargaku juga tidak main-main, dia sudah bekerja setidaknya 14 tahun sejak aku masih berumur 5 tahun.
menjadi anak tunggal dikeluarga terpandang membuatku sering kali merasa tidak nyaman. penuh tekanan dan tuntutan agar menjadi penerus yang sukses dan mengikuti jejak ayahku.
dibalik kesuksesan yang dimiliki ayahku, aku tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang. begitupun ibu, sibuk dengn organisasi yang dia pimpin.
seharusnya aku juga sibuk dengan study ku, dengan ujian dan praktik yang tidak pernah ada hentinya. namun akhir-akhir ini aku merasakan hal yang tidak biasa.
terlebih lagi sejak aku memergoki Jimin basah kuyup akibat saluran air yang rusak.
.
.
.
aku selalu merasa penat sepulang dari kuliah. halaman belakang adalah tempat yang sangat sejuk sangat cocok untuk melepas penat. waktu terasa berjalan begitu lambat ketika aku melangkah keluar dari rumah. terkadang aku bertelanjang kaki, berjalan diatas tanah dengan rumput yang menggelitik di bawah kakiku.
"ahhh!! sudah kuduga!"
suara jimin memekik ketenangan hari itu, disusul oleh suara semprotan air yang kuat.
aku ingat kemarin ibu mengeluhkan parit di halaman belakang selalu penuh dengan air. ternyata Jimin tengah mencari titik permasalahannya, namun dia juga menjadi korban dari permasalahan tersebut.
Jimin berusaha berjalan menuju kran air namun terpeleset hingga tersungkur. kini jumper dan baju yang ia kenakan penuh dengan tanah merah.
"oh! kau tidak apa-apa? apa kau butuh bantuan?" aku meraih tubuh Jimin kemudian membantunya berdiri. salahku karena tidak memakai alas kaki akhirnya aku juga tergelincir hingga jatuh terlentang dengan jimin berada diatas tubuhku "aduhh.." aku melenguh pelan
"astaga astaga.. maafkan aku tuan muda.. astaga... aku.. akan mematikan mesin airnya dulu"
Dengan panik Jimin bergegas bangkit dari atas tubuhku. dengan hati-hati ia melangkah dan berhasil menutup kran air yang bocor.
kami berdua saling bertukar tatap kemudian tertawa, pakaian dipenuhi tanah basah begitu juga wajah kita. Jimin kembali memohon maaf dia harap aku tidak melaporkan ini ke ayah. tentu saja, lagi pula ini hanyalah kecelakaan kecil.
setelah itu kita berdua berjalan ke tempat laundry. Jimin melucuti pakaiannya yang dipenuh oleh tanah kotor "tuan muda juga, lepas pakaiannya biar saya yang cuci. saya sudah biasa kotor-kotoran seperti ini" ucapnya.
Jimin laki-laki, begitupun aku. lalu kenapa jantungku berdegup ketika melihat jimin hanya mengenakan celana boxer?
"ah.. i-iya terima kasih"
Selama ini aku hanya melihat Jimin dengan t-shirt puth, celana kodok berwarna hijau dan sepatu boots. Baru kali ini aku melihat tubuhnya yang jauh lebih indah dari Apollo, hanya saja Jimin terlihat lebih ramping.
KAMU SEDANG MEMBACA
KOOKMIN ONESHOT FOR US
Fanfiction[Ongoing] - Oneshot collection Alpha dan Omega? Pasangan yang sudah menikah? Itu sudah biasa! Disini kalian akan bertemu Vampire, Hybrid, Elf dan genre lain yang dijamin gak akan bikin kamu nyesel untuk baca bahkan baca ulang! 😆😆 Cerita oneshot i...
