Irene's pov.
Aku bersyukur sebulan terakhir berjalan baik-baik saja. Aku tak ingin ada kejadian seperti kemarin lagi.
Sekarang aku berada di kelas, hari ini jam kosong. bersama Louis, William, dan Johnny pastinya. Carroline? Entahlah, yang aku tahu dari orang-orang Carroline bergabung dengan Naomi. Ngapain sih dia? Jujur aku kehilangan dia. Kami tidak pernah bicara lagi setelah dia mengatakan kalo dia menyesal berteman denganku.
Entah kenapa Carroline bergabung dengan Naomi. Yang jelas dia pasti tak nyaman berada disana.
"Ren!" Johnny memanggil ku.
"hah iya?" jawabku, aku kaget tentu saja.
"ngapain melamun, giliran lo, truth or dare?" tanyanya. Oh ya aku lupa memberi tahu, kami sedang bermain truth or dare berempat, dan sekarang giliranku.
"eum, dare deh" jawabku. Mereka bersorak saat aku menjawab. Hh biasalah.
"oke ren, ready? Tantangan nya...." Johnny menggantung kalimat nya.
"lo harus nyatain perasaan lo-" sambung Louis.
"ke orang yang lo suka" terakhir, William melengkapi kalimat itu. Aku membelalakkan mataku. Yang benar saja? Hancur reputasiku sebagai penggemar berat Jaeden. Eh?
"ih kok gitu, ganti dong" protesku.
"mana bisa ren" kata William.
"hhhh, oke deh kapan?" tanya ku akhirnya menyerah.
"sekarang boleh" jawab Louis.
"ga ah gila aja, sekarang kan jam belajar" jawabku
"yaudah pas istirahat ya" Johnny menyarankan.
"ga bisa di chat aja?" tanya ku lagi.
Mereka menimbang-nimbang.
"boleh" kata Louis, senyumku merekah.
"tapi harus didepan kita" lanjutnya.
Yah, kalau begitu sama saja aku terang-terangan bilang kalo aku suka Jaeden kan? Belum lagi mereka yang bakal kepo sama isi chat-an nya.
"yaudah langsung aja, jam istirahat." jawabku.
Mereka ber-tos ria dan cekikikan
Aku hanya memandang nya malas.
"gitu dong ren" kata Johnny kali ini.
"oke lanjut, puter" sambungnya.
Pulpen itu berputar, ya hanya pulpen tapi ini permainan dengan nyali, tau gitu aku pilih jujur saja tadi. Dan akhirnya berhenti di Louis. Hahaha kena dia!
"yesss!!" sorakku.
"truth or dare Akang Louis?" tanyaku.
"akang akang pala lo" sewotnya.
"truth dah, mager gue" sepertinya suasana hatinya berubah, setelah pulpen berhenti ke arahnya.
"ih kok ngamok, yaudah. Akang Louis kasih tau kita lo suka siapa?!" tanyaku.
Louis menatapku, apa maksudnya?
Tatapan itu seperti tak ada artinya, dia hanya melihat. Sedangkan mereka semua diam. Aku memutuskan untuk berpaling.
"Irene-" katanya, aku membelalakkan mataku ke arahnya, bagaimana bisa?
"Cousin" sambungnya. Huuhh lega rasanya, aku pikir dia bakal menjawab aku? Untung saja tidak. Tapi, dia menyukai sepupuku? Teressa dong? What?
"hah, lo suka Teressa?" pekik ku. William dan Johnny menutup telinga.
"dia pacarnya bego" kata Johnny mengadul-adul rambutku.
