Waktu yang ditentukan Jaeden hampir tiba. Beberapa jam lagi. Irene masih memikirkan banyak hal. "gue pake baju apa ya? Kalo pake yang biasa aja ntar ga romantis" katanya.
"kalo pake yang luar biasa ntar dikira gue ke ge-er an" ia menaruh jari telunjuk nya di dagu. Kemudian ia terkekeh.
Akhirnya ia memilih untuk memakai casual outfit yang tidak terlalu ribet dan kelihatan fresh. Ia berlari menuju kamar mandi.
Butuh waktu lima belas menit untuk Irene mandi saja. Setelah itu ia mengeringkan rambutnya, ber- skincare.
Dan sedikit make up, ya hanya sedikit. Tipis dan tak kelihatan seperti ber- make up.
Ia berputar di depan cermin besarnya.
Ia menunggu sampai waktunya tiba, dan saat sudah pukul 18.30 ia segera pamit untuk berangkat. Irene membawa mobil sendiri.
-
Laconic cafe.
Tulisan itu terpampang jelas di depan pintu cafe. Ia jadi ingat saat Jaeden memintanya menjadi pacar perlu digarisbawahi pura-pura.
Ia tak terlalu memikirkannya, ia masuk dan melihat Jaeden disana. Oh, bahkan Jaeden udah terlebih dahulu kesini, mungkin karena jarak cafe ini dengan rumahnya sangat dekat.
"h-hi kak, sorry telat" kata Irene.
"eum y-ya, duduk" katanya.
Irene menuruti, dan ia hanya diam saja sampai pelayan datang ke meja mereka.
Mereka memesan minuman mereka. Dan kembali hening.
"ren" Jaeden memanggil.
"hmm?" Irene berdeham.
"soal yang lo omongin kemarin" katanya.
"yang mana?" tanya Irene.
"di kantin" Seketika Irene mengingatnya. Ah, dia kelihatan malu sekali sekarang.
"e-eum soal itu.. Sorry, gue ga maksud-" Katanya gugup.
"its okay, thanks ya lo udah jujur tentang perasaan lo" dia menggenggam tangan Irene yang berada di meja.
"tapi hari ini-" omongannya terputus saat pelayan datang membawa pesanan mereka.
"sorry mengganggu kak" kata pelayan itu kemudian pergi, Irene memilih untuk melihat pelayan itu saja daripada melihat Jaeden, dia memang sering melihat Jaeden diam-diam, beda cerita kalo secara langsung dan dari dekat kaya gini.
"sorry ren" katanya, Irene sekarang menoleh.
"kenapa" tanya Irene, ia benar-benar tak tahu apa yang di-sorry-kan oleh Jaeden ini.
"sorry.. sorry, gue ga bisa balas perasaan lo, i mean daripada lo berharap lebih sama gue, lebih baik gue bilang sekarang kan? Dan- selama ini lo suka sama gue?" katanya, Irene memandangnya kaget tapi ia masih bisa menetralkan pandangannya seperti normal-normal saja. Ia menarik tangannya yang ada digenggaman Jaeden.
"iya." kata Irene.
"itu buat yang mana?" tanya Jaeden.
"selama ini perasaan gue ke kakak" jawab Irene. Jaeden mengangguk paham.
"sorry ren" katanya lagi.
"its okay, yang terpenting gue udah jujur gimana perasaan gue, dan soal perasaan kakak ke gue itu terserah kakak, gue ga bisa maksa" kata Irene dengan senyum terpaksa, ia benar-benar malu sekarang, rasanya ia ingin pulang.
"jangan sedih gitu dong, kita bisa jadi temen kan?" katanya. Irene mengangguk dan mengulum senyum.
"cheers?" tanya Jaeden.
Irene mengambil gelasnya, dan mengetukkan dengan gelas Jaeden.
Benar kata Teressa, ga perlu berharap banyak, nanti patah hati. Ya pastinya itu yang Irene rasakan sekarang.
