Dua

104K 8.1K 112
                                        

~Happy reading~

"Ini dosen kalau masih muda, masih excited ngajar gini nih... agak ngerepotin."

"Ya Allah mendingan sama Pak Radin aja deh auranya ga galak gitu."

"Tapi jadi semangat kuliah nih karena ganteng."

Setelah Pak Digta keluar ruangan kelas jadi super ramai dengan tanggapan mereka tentang si dosen baru, sedangkan Laras malah melamun meratapi nasib kuliahnya di semester tua ini.

"Ini lagi si Laras, malah sawan abis di ajak ngomong Dosen ganteng." Karena ucapan satu teman Laras, gadis itu langsung saja menjadi perhatian satu kelas.

"Ras, sadar wehhh!" Ridha menggoncang bahu teman dekatnya itu berniat menyadarkan nya.

"Gue cuma meratapi nasib kehidupan semester tua gue, kenapa makin banyak aja dosen killer di fakultas ini." Monolog Laras menjawab tatapan tanya teman-temannya.

"Udah, ayok keluar itu ada adek tingkat mau pake kelas ini." Interupsi ketua kelas di ambang pintu.

"Lagian juga enakan dipikir sambil makan." Lanjutnya dengan tertawa yang langsung direspon dengan teman-teman nya yang berlari keluar menuju lift dengan tujuan ke kantin.

Laras mengambil beberapa makanan yang dia kira bisa mengembalikan mood nya siang ini, masih dengan tatapan tampa tenaga. Jiwanya masih di awang-awang antara sadar dan tidak sadar, apa yang sudah terjadi hari ini.

Perempuan itu meletakkan belanjaannya pada meja kasir, memandang kasir dengan pandangan bertanya, dia sedang malas hanya untuk mengeluarkan suara.

"15.000." Laras mengeluarkan selembar uang Lima Puluh Ribu namun ditolak dengan alasan tidak memiliki kembalian, perempuan heran dan jengkel kok bisa kampus segede ini kantinnya tidak memiliki kembalian, mana ini uang terakhir Laras lagi, satu-satunya yang tersisa.

"Biar dibayar aja sama saya." Sontak saja Laras menoleh ke asal suara, dari lelaki yang sekarang berdiri di depan meja kasir juga dengan sebotol air mineral.

"20.000 aja pak," jawab kasir yang sedang berjaga, sedangkan Laras masih bengong menatap kasir dan lelaki di sampingnya bergantian.

Menyadari gesture Laras lelaki itu menatap dan mengisyaratkan untuk segera pergi, "Udah, banyak yang antree itu dibelakang."

Dengan gelagapan Laras mengambil belanjaannya lalu mundur dari barisan atrean dan membungkukkan badan, "Terima kasih pak."

"Hmmm," jawabnya dengan deheman dan anggukan saat melewati tubuh Laras yang masih kaku, semakin tak habis pikir dengan semua yang terjadi.

"Ck ck ck cuma Laras yang bisa diutangin sama dosen pas jajan di kantin." Ketua kelas Laras berdiri di samping perempuan itu sama-sama menatap punggung Pak Digta yang menjauh.

"Lah iya, ini gimana gue ganti uangnya?" Akhirnya sadar dan panik juga.

"Itu mah dibayarin anjir, orang gak ada kata-kata suruh ganti juga." 

Ridha berfikir setelah mendengar opini lelaki di hadapannya,"Berasa jadi sugar baby ga sih lo? dibayarin segala."

"Bukan masalah disuruh ganti apa kagak, tapi kesadaran diri dong." lanjut Ridha berusaha mempertahankan image anak baik-baik nya.

"Halah santai aja, gausah diganti Ras." Simpul ketua kelas sebelum pergi meninggalkan teman-temannya itu.

                                                  ***
Setelah di pikir-pikir Laras memutuskan mengganti uang milik pak Digta, gadis itu sekarang sedang berada didepan ruang dosen dengan menenteng kantong plastik berisi sekotak makan siang.

"Mau ketemu dosen?" Laras terlonjak kaget melihat dosen perempuan di sebelahnya.

Gadis itu menggaruk tengkuknya gugup, "A-ah iya bu, mau ketemu Pak Digta," jawabnya dengan terbata.

"Oooo Pak Digta-nya tadi kayaknya keluar deh, di hubungi aja dulu." Secara tak sadar Laras menghela nafas lega.

"Oh cuma mau ngumpulin tugas aja bu." Dia tidak berbohong, Laras membawa beberapa lembar kertas berisi tugas statistika yang sudah direvisinya.

"Oh yaudah, masuk aja yuk." Laras hanya mengangguk sopan membiarkan dosennya terlebih dahulu memasuki ruangan.

Tak lama Laras baru memasuki ruang dosen tanpa suara, mencari dimana ruangan dosen baru itu berada, sampai akhirnya menemukan nama dan dengan hati-hati memasuki bilik itu, namun baru saja melangkah dia dikagetkan dengan Pak Digta yang berdiri di samping meja kerja nya.

"Ada apa?" Suara bariton itu menyambut Laras.

"Mau ngumpul tugas pak." Menyerahkan kertas di tangannya pada pak Digta dan menaruh plastik hitam di meja dosen.

"Oke," jawabnya melirik plastik yang di letakkan di meja nya.

"Saya pamit dulu pak." kata Laras sebelum akhirnya melarikan diri dari ruang dosen.

Dia berlari menuju parkiran motor, sambil sepanjang jalan tangannya sibuk mencari kunci di tas putih miliknya. Tapi nyatanya sampai dirinya di parkiran kunci itu tidak ditemukan, akhirnya Laras memutuskan mengeluarkan seluruh isi tas nya di toilet namun ternyata memang tidak ada disana.

Sesegera mungkin dia menelfon Ridha yang untungnya masih ada di kampus, memberitahu temannya itu untuk segera menemuinya di tempat parkir.

Ridha datang dengan wajah paniknya, "Ada apaan dah?" 

"Kunci motor gue gak ada Ri!" Ridha yang tadinya panik sekarang menatap kesal Laras yang masih saja diliputi panik.

"Lo kan bilang tadi di jemput pacar lo di depan kos gue, ya motor lo masih di kos gue sama kunci-kuncinya!" jelas Ridha menggebu-gebu sangking kesalnya.

Sedangkan Laras hanya mengeluarkan satu kata, "Ha?!" Dengan ekspresi kaget dan bingung, namun perlahan otaknya mulai mengingat memori yang baru siang ini terjadi.

Gadis itu akhirnya tertawa, menertawakan kebodohan sendiri dan Ridha selaku teman hanya bisa melihat dengan kesal, "Udah, mau balik gue!"

"Ikut." Dengan segera Laras menaiki motor Ridha.

"Dih pacar lo nganterin ga mau jemput gitu?" Sewot Ridha.

"Sibuk kerja dia, udah ah yuk!" 

"Curiga gue, jangan-jangan lo beneran sugar baby lagi." 

Laras mencubit lengan Ridha keras, membuat si empu teriak sama kerasnya.

Laras jelas tidak terima dengan tuduhan itu, walaupun pada nyatanya dia memang suka morotin pacarnya dengan meminta jajanan ini itu, "Sembarangan aja!" 

"Tapi gak papa Ras, dari pada karakter fiksi mulu yang jadi pacar lo, sumpah liatnya ikutan ngenes gue! itu para bocil aja punya pacar beneran, lah elu yang umur udah nginjak kepala dua masih halu aja." Laras melotot tak setuju, ingin kembali mencubit temannya itu tapi mereka sedang dalam perjalanan, takut si Ridha oleng kan bahaya.

Yang mungkin orang lain tidak tau tentang kita kaum pembaca novel adalah, kita mungkin lebih terbiasa untuk tidak melihat hanya dari satu sisi atau satu sikap jahat yang keluar, semua memiliki alasan sedih dibelakangnya.

Lalu tokoh fiksi yang diciptakan penulis terkadang memang bukan sepenuhnya fiksi, dia adalah orang yang ingin penulis abadikan keberadaanya setidaknya dalam karya walaupun bukan dalam hidupnya.

Termasuk Laras tidak memiliki pasangan sampai usia 20 tahun bukan berarti dia polos tidak mengetahui apapun, dia justru terkadang menjadi ahli cinta untuk teman-temannya bermodal banyak membaca novel dan kisah percintaan.

Bersambung...

setelah sekian purnama akhirnya update juga, semoga setelah ini jadi makin rajin yaaa, semangatin aku dong wkwk

see you next part 🌼

30.10.21

Pak Pacar [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang