~Happy Reading~
Laras masih betah melihat sepatunya yang sengaja ia goyang-goyangkan karena gabut, dia sebenarnya sedang menimbang-nimbang apa dia harus lari atau bagaimana supaya terbebas dari kondisinya sekarang. Bergantian dia melihat layar handphone-nya yang berisi chat teman yang sudah menunggunya dan jalan menuju tempat makan di depannya, sebenarnya laras sudah berada di parkiran tapi dia harus melewati area outdoor yang cukup luas, dan di kondisi hujan seperti ini bisa-bisa dia baru masuk udah di usir karena kebasahan.
Drttt
Dengan kesal Laras mengangkat panggilan temannya, "LARI AJAAAA!" Semprot Ridha di seberang sana, dia juga kesal melihat Laras masih setia berdiri di parkiran.
"Ingin ku berkata kasar, bentar masih memperkirakan kemungkinan yang ada ini gue." Laras juga sama sewotnya sekarang.
Gadis itu akhirnya memutuskan berlari, dia bersiap-siap memasukkan handphone-nya ke sling bag dan fokus melihat tujuannya.
"Satu... Dua... Tiga." Laras lari sekuat tenaga namun pelan karena hati-hati.
Ditengah laras sibuk fokus dan hati-hati dengan larinya menerabas hujan, tiba-tiba pinggangnya di tarik kuat membuat Laras sedikit memekik kaget. Spontan saja dia mendongak melihat siapa yang menariknya ke bawah payung yang seseorang itu bawa, niatnya sudah baik tapi caranya sedikit ngagetin.
Laras hanya melihat sebagian wajah lelaki itu karena tertutup masker, dia laki-laki dari postur tubuh dan outfit yang dikenakan, dia memakai masker putih dengan hoodie abu-abu dan celana jeans, sedang fokus melihat jalan.
'Ini orang sadar ga sih pas narik gue? kayak kenal tapi kenapa dia diem aja?'
"Makasih mas," ucapan itu akhirnya yang keluar dari mulut Laras, supaya lebih bermoral, hehe.
"Sama-sama." Sebenarnya Laras tidak menyangka bakal di balas, tapi suara itu Laras tau sekali, dia hafal.
"Mas Rama?" Laras ragu tapi ingin tau.
"Hmm"
Laras melotot menatap Rama yang masih fokus ke jalan, lalu menunduk tidak berbicara apapun, dia menipiskan bibirnya untuk menahan senyum, Laras salting.
Sampainya di tempat teduh, Laras mengusap bahunya ketika angin bertiup ditengah hujan. di sisi lain Rama melepas hoodie yang dipakai, menyisakan kaus putihnya.
Laras menggeleng melihat hoodie itu diberikan kepadanya, apa kata temannya kalau tau dia pakai hoodie cowok begitu.
"Nanti dingin." Tanpa kata Rama memakaikan hoodie-nya pada Laras, lalu segera membuka pintu mempersilahkan Lara masuk.
"Makasih," kata Laras sambil berlari menuju meja teman-temannya.
Ridha dan beberapa teman lain yang melihat kejadian itu hanya menatap Laras tak percaya, beneran punya pacar ternyata.
"Tolong jangan bilang kalau cuma gue yang liat." Ridha melongo tak percaya.
Teman yang lain menggeleng,"Kita juga liat."
Laras yang baru saja duduk di meja mereka akhirnya tak bisa menahan senyum, menutup wajah saltingnya dengan kedua tangan.
"Syukur deh kalau cowok lo nyata, tapi kok posturnya kek kenal ya?" Meta, salah satu teman Laras masih menerawang mengingat postur lelaki yang baru saja hilang di ujung tangga atas.
"Ya namanya cowok, masak yang badannya kek pacar gue cuma satu sih, banyak kok yang kek dia, Miles Wei contohnya." Seloroh Laras yang berakhir sorakan kesal teman-temannya.
***
Laras merenggangkan tubuhnya setelah beberapa jam membungkuk menatap layar laptop miliknya,"Hahhh cape banget nugas mulu, mau nangis tapi inget masuk jurusan ini mintanya juga sambil nangis."
Tangannya meraih handphone yang dari tadi di acuhkan, melihat-lihat chat yang masuk dan sesuai dugaan hanya ada chat teman-temannya yang membahas tugas, tidak ada chat dari Rama.
Akhirnya Laras memutuskan mencoba menelfon video pada pria itu, tak lama muncul wajah Rama dengan kacamata yang Laras tau hanya dipakai ketika lelaki itu bekerja.
"Malam, Assalamualaikum," sapa Laras ceria, udah seger lagi liat muka pacar.
"Waalaikumsalam, udah nugasnya?" Laras yang sedari tadi sudah cengar-cengir ceria sekarang memasang wajah badmood.
"Orang baru nelfon di tanyain apa kek, ini malah tugas." Kesalnya melihat wajah Rama yang sekarang tertawa sampai matanya menyipit.
Rama mencoba menghentikan tawanya,"Itu namanya aku perhatian."
"Itu kamu perhatian sama tugas, bukan sama aku," jawab Laras yang mulai menyesali tindakannya menelfon Rama malam ini.
Rama tertawa pelan dan akhirnya bertanya, "Iyaaa, gimana sayang kabarnya?"
"Capek." Nada manja Laras keluar juga, harap jangan muntah.
"Istirahat dulu bentar, atau udah semua tugasnya?" Dan Rama pun jiwa kebapakan nya mulai keluar dalam situasi seperti ini.
"Yang deadline-nya deket udah sih." Laras lesu sekali sekarang.
"Kamu nggak istirahat dulu?" Lanjutnya bertanya pada Rama, walaupun sekarang lelaki itu fokus padanya tapi masih memakai kacamata yang berarti masih akan melanjutkan kerja.
"Loh ini istirahat," Jawabnya simple.
"Istirahat yang beneran, ya rebahan kek atau ngapain, apalagi hujan gini enak kalau sambil selimutan, hehe."
Rama ikut tertawa, "Ya pengennya gitu, ini bentar lagi selesai kok."
"Yaudah gih aku tungguin," kata Laras bersemangat.
"Eh gausah, bosen nanti kamu."
"Katanya bentar..." Curiga Laras, beneran bentar ga nih? apa bentar dalam konteksnya Rama itu 2 jam?.
"Iya, yaudah." Akhirnya Rama melanjutkan pekerjaannya dengan telepon masih tersambung, sedangkan Laras hanya memandangi Rama yang fokus bekerja di seberang sana, sambil senyum-senyum mengagumi lelaki itu.
Karena Laras berfikir terlalu sia-sia hanya melihat Rama, gadis itu memutuskan kembali fokus pada laptop nya juga, membuka salah satu situs menulis gratis dan melanjutkan tulisannya.
"Kamu kenap tiba-tiba murung?" Laras tersentak, mengalihkan pandangannya dari layar laptop kembali fokus pada wajah Rama di ponselnya.
"Lagi nulis, kebetulan sampai di bagian sedih jadi kebawa aja sih... jadi overthinking juga." Laras memang tertawa di akhir kalimatnya, tapi tawa yang dikeluarkan adalah tawa hambar, Rama tau ini pertanda tidak baik.
Rama menarik nafas dan menghembuskan perlahan, "Kenapa?"
"Katanya cowok selalu ada tempat di hatinya buat orang yang udah nemenin dia lama ya? bahkan ketika dia udah sama orang baru?" Laras ragu-ragu menanyakan ini, bisa saja hal seperti ini memicu pertengkaran mereka.
Rama akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja, melepas kacamata lalu menyibak rambutnya. mempersiapkan diri dan opini untuk menjelaskan pada Laras, jarak usia yang lumayan jauh kadang membuat Laras yang sensitif dan Rama yang tidak perduli dengan hal yang menurutnya tidak penting seperti ini.
"Menurut kamu gimana? kamu kan udah baca berapa puluh kisah cinta dengan latar belakang bahkan zaman yang berbeda?" tanya rama balik ke Laras.
Gadis itu diam saja, "Ya gak tau, kan cuma baca belum pernah ngerasain beneran nya gimana," katanya mulai sensi.
"Kalau emang iya gimana?"
Duarrrrr
Laras bukan hanya kaget dengan jawaban Rama, tapi juga Petir yang baru saja terdengar sangat keras, dan ruangan yang seketika gelap gulita, gadis itu melihat layar Ponselnya sudah tidak tersambung karena jaringan internet nya putus akibat listrik mati.
Bersambung...
Pati, 10 November 2021
seneng banget bisa update sesuai jadwal nih hari ini wkwk
Emang ya ga selamanya hujan itu efeknya bagus, kadang ada buruknya juga wkwk
bukan cuma indahnya aja tapi pasti ada sakitnya kan?
Bye see you next part
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Pacar [TERBIT]
ChickLitCover by seelviyeo13 Laras tak habis pikir, entah sekenario apa yang sudah tuhan tuliskan untuknya, kenapa semakin rumit saja cobaan perkuliahan nya di semester yang semakin tua ini. "Ngapain kamu liatin saya begitu?" Suara berat itu membuat Laras s...
![Pak Pacar [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/267938254-64-k126466.jpg)