~Happy Reading~
Rama akhirnya bisa duduk dengan tenang setelah membantu menyiapkan syukuran malam ini, dan mengajarkan Andra untuk mengendarai skuternya, dan sekarang anak itu sudah bisa berputar-putar di ruang tamu sampai mendapatkan pelototan, karena hampir menabraki orang-orang yang berlalu lalang.
Laras menghela nafas karena sudah gemas sekali melihat tingkah anak itu,"Ya allah ndra, jangan main di sini ya."
"Nggak ada tempat lain tantee," kata anak itu memberi alasan, Laras itu bukan golongan orang yang didengar Andra.
"Andra di lanjut besok aja ya mainnya, di jalan atau halaman kan lebih enak mainnya, gak mengganggu orang yang lewat." Andra terlihat berfikir sebentar lalu mengembalikan skuternya ke tempat semula.
Kening Laras mengkerut, kenapa dia yang lebih sering bertemu malah tidak di dengar anak itu?
"Kok bisaaa?" tanya Laras dengan nada sedikit kesal, dia sudah berulang kali tapi lebih sering di abaikan, sedangkan Rama sekali bicara anak itu menurut.
Rama tertawa kecil, "Kasih juga alternatif lain, jangan cuma suruh berhenti, namanya juga lagi seneng kan."
Masuk akal sih, Laras mengangguk tapi tetap saja kesal, ingat, musuh anak terakhir adalah cucu pertama, nah! itu yang terjadi pada Laras dan Andra.
"By the way mas, apa gak terlalu mahal hadiah kamu itu?" Gadis itu menatap hadiah Rama khawatir.
"Nggak apa-apa kan emang dibutuhkan."
Laras mendecak, "Masalahnya bukan butuhnya mas, nominalnya itu loh."
"Kenapa?" Lelaki itu masih tidak paham.
Gadis itu mendesah lelah, "Mahal, kita jadi gak enak, lagian apa kata orang coba, belum apa-apa udah ngasih barang segitu mahal."
"Nggak perlu dengerin kata orang, selagi mas mampu memang kenapa?" Laras menggaruk tengkuknya bingung, ya memang benar tapi tetap saja rasanya sungkan.
"Mas harus pulang, nanti kemaleman di jalan gelap banget." Jalan untuk ke rumah Laras memang melewati persawahan yang gelap dan tidak ada rumah penduduk.
"Mau di anterin gak? sampai jalan raya." Tawar Laras melihat jam sudah menunjukkan jam 8, mungkin masih ada yang keluar desa, tapi jarang sekali.
"Nggak usah," jawabnya sembari mencari keberadaan Ayah dan Ibu Laras untuk pamit.
Laras memasuki ruang keluarga tempat ibu-ibu sedang berkumpul, "Bu, Mas Rama mau pamit pulang."
"Ehhh bentar, Ibu bawain makanan ya." Wanita paruh baya itu beranjak ke dapur, memilihkan apa yang bisa dibawa pulang calon mantunya.
"Nggak usah nggak apa-apa bu," Rama menolak tidak enak, kenapa dia malah membawa oleh-oleh juga dari sini.
"Nggak apa-apa, ini kue jarang yang jual loh." Pada akhirnya dia hanya bisa menerima, apalagi melihat tatapan sinis Laras, gadis itu menolak untuk ditolak.
"Aku anter Mas Rama pamitan sama Ayah dulu ya bu." Lapor anak gadis itu mengajak Rama keluar dapur.
Rama pamit sembari menunggu Laras yang membantu ibunya mengemasi oleh-oleh untuknya, dan lelaki itu kaget ketika pacarnya membawa keluar sebuah kardus.
"Eh banyak banget bu."
"Nggak apa-apa, disini lagi banyak juga soalnya abis panen." Ujung-ujungnya bukan hanya kue yang dibawakan, tapi beberapa buah hasil panen pun di masukkan oleh ibu Laras.
"Kalau gitu saya pamit dulu Om, Bu." Laras mengantar sekaligus membawakan kardus oleh-oleh dan memasukkannya ke mobil.
"Makasih ya mas, datang lagi." Laras melambaikan tangan setelah Rama menduduki kemudi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Pacar [TERBIT]
ChickLitCover by seelviyeo13 Laras tak habis pikir, entah sekenario apa yang sudah tuhan tuliskan untuknya, kenapa semakin rumit saja cobaan perkuliahan nya di semester yang semakin tua ini. "Ngapain kamu liatin saya begitu?" Suara berat itu membuat Laras s...
![Pak Pacar [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/267938254-64-k126466.jpg)