Gak bosen-bosen aku ngingetin kalian buat vote dan follow duluan, abistu komentar elahhh biar diri ini ga down dan semangat lanjut :')
~Happy Reading~
"Loh Laras mana ma?" Rama melepas kaca mata-nya melihat sang Mama kembali dengan sendirian dengan sekeranjang sayuran.
"Mama mau nyambut Papa pulang, sama siapin bahan masakan, Laras tadi mau nyuci buah dulu." Lelaki itu membantu Mama Rani membawa keranjangnya ke dapur.
"Assalamualaikum." Suara berat itu disambut jawaban salam dari Rama dan Mama Rani, wanita setengah baya itu mendekat dan mencium tangan sang suami yang baru datang di ikuti dengan Rama.
"Kamu susulin Laras gih Ram," perintah Mama Rani yang sibuk membuatkan suaminya minuman.
Tampa suara lelaki itu langsung keluar dari dapur, segera menuju kebun mereka. Dia melihat Laras yang masih sibuk mencuci buah blueberry, gadis itu tampak menikmati kegiatan dan suasana yang ada saat itu, dengan angin yang bertiup, meniup helaian rambutnya perlahan.
Rama memetik sebuah bunga dengan sembarangan, membawa benda indah itu ke pada Laras. Rama tiba-tiba saja menyandarkan badannya di meja tepat di sebelah Laras mencuci buah-buahannya, memberikan bunga hasil petikannya ketika melihat gadisnya selesai dengan pekerjaannya.
"Aku menaruhkan nyawa untuk itu," kata Rama menunjuk bunga di tangan Laras sekarang.
"Oh ya? kenapa?" Gadis itu keheranan.
Rama menunjuk satu tanaman yang bunganya hanya satu dan sudah ada di tangan Laras, "Aku metik dari sana."
Laras lalu melotot, waduh bahaya, karena selain Tupperware, tanaman juga salah satu harga berharga untuk ibu-ibu di Indonesia.
"Kamu ini cari gara-gara aja mas." Gadis itu menggeleng tak mengerti.
Rama tersenyum, mengambil alih keranjang penuh buah-buahan dari tangan Laras, "Mama nggak akan marah kalau tau itu buat kamu."
Tangan Rama menarik pinggang Laras untuk berjalan lebih dekat dengannya, gadis itu hanya tersenyum, mereka berjalan ber iringan melewati jalan yang dikelilingi bunga.
"Mas kamu nggak mau cerita sesuatu?" pancing gadis itu pada pacarnya, pasalnya Rama diam saja menghadapi situasi ini, hubungan mereka berdua seperti belum menemukan titik terang harus bagaimana.
"Tentang keluarga aku yang mau dateng? Mama pasti udah cerita semuanya." Ya iya, tapi bukan itu yang Laras maksud, harus bagaimana dia di keluarga lelaki itu nanti.
"Mama ajak aku..." adu Laras ragu-ragu.
Rama menatapnya dan mengangguk setuju, "Aku rencana ngajak kamu nanti mendekati hari H, tapi mama udah ngomong duluan." Tawanya terdengar ringan di akhir ucapannya.
Laras tidak bersuara lagi, hanya menghembuskan nafas lelah, dia juga bingung harus bagaimana sekarang, terlalu banyak hal di otaknya sekarang.
Rama memutuskan mengajak pacarnya mengobrol, dibandingkan melihat Laras diam yang justru sebenarnya sedang berbicara dengan diri sendiri, dengan sejuta spekulasi nya, "Besok mereka sampai, kamu kesini bareng aku setelah kelas selesai."
Gadis itu menoleh cepat, ingin protes dengan titah lelaki itu, "Aku bisa naik motor sendiri."
"Nggak usah, bareng aja." Rama kekeh dengan keputusan nya, selalu begitu memang.
Laras rasa sebelum bertemu dengan keluarga pacarnya yang lain, dia harus mempersiapkan mental, dan setelah kelas Rama itu terlalu cepat, "Aku udah hafal jalannya kok mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Pacar [TERBIT]
ChickLitCover by seelviyeo13 Laras tak habis pikir, entah sekenario apa yang sudah tuhan tuliskan untuknya, kenapa semakin rumit saja cobaan perkuliahan nya di semester yang semakin tua ini. "Ngapain kamu liatin saya begitu?" Suara berat itu membuat Laras s...
![Pak Pacar [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/267938254-64-k126466.jpg)