hai ketemu lagi
happy reading
Setelah melewati jalan antara kolam tadi sedikit mengikuti jalan setapak yang ditanami bunga warna-warni, bahkan di tembok sudah ditutupi tanaman mawar merambat, benar-benar seperti surga tersembunyi bagi Laras.
Mama Rani memberikan keranjang yang dibawanya ke pada Laras, sementara wanita itu membuka pagar kayu yang tingginya hanya sepinggang. Gadis itu sudah dapat melihat kotak-kotak tanah berisi sayur-sayuran hijau dan beberapa bunga yang bermekaran, terlihat lebih aestetic ketika terkena cahaya hangat dari mata hari menjelang senja begini.
"Ayo kita cari sayuran dulu, beberapa hari lalu bunga kol nya udah ada." Ajak mama Rani saat mengambil sebuah pisau dari keranjang rotan di tangan Laras.
"Eh gede banget ma!" Pekik Laras melihat sebongkah bunga kol berwarna putih.
Mama Rani mulai mengambil beberapa sayuran yang sudah siap untuk di ambil, sementara Laras mengekori dari belakang dengan keranjangnya yang mulai berisi banyak hal, seperti bunga kol, wortel dan sekarang mereka sedang menuju barisan berbagai macam tomat.
"Kamu ambil yang tomat ceri ya, biar mama ambil yang ini." Laras jongkok tidak jauh dari mama Rani, mulai mengambil tomat-tomat kecil di hadapannya.
Dirasa habis tomat merah di sana, mama Rani mengajak Laras ke bagian buah-buahan dimana terlihat sederet tanaman strawberry yang sudah siap panen dan sebuah pohon blueberry yang tingginya sepinggang. Ya ampun akhirnya setelah sekian lama bisa merasakan buah blueberry langsung dari pohonnya, biasanya Laras cuma lihat di reality show anak-anak korea itu.
"Untung minggu ini belum mama panen, jadi banyak bisa di suguhin ke kamu." Mama Rani bergerak mencuci sayuran-sayuran yang sudah di dapatkan di sebuah tempat biasa dia mencuci sayuran.
"Suka banget kamu sama tanaman juga?" Mama Rani beranjak mendekati Laras kembali.
Laras menoleh dan tersenyum lebar,"Iya ma, makanya masuk ke rumah mama rasanya kayak lihat rumah impian, banyak bunga."
Dua perempuan itu sudah berjalan kembali menuju rumah,"Rumah kamu pasti juga banyak bunga ya?"
"Lumayan ma, tapi lebih banyak taneman sayur sama buahnya soalnya yang nanam emak, aku lumayan sibuk kuliah dan organisasi."
Mama Rani tertawa pelan,"Baru kali ini Rama bawa perempuan kayak kamu, mama jadi punya temen bahas taneman."
Laras tersentak, mendengar ucapan mama Rani mengingatkan apa yang sedang dipertengkar kan dirinya dan Rama, gadis itu mencoba mengorek informasi lebih dalam,"Emang Mas Rama bawa perempuan yang gimana ma?"
"Dulu sih kalau ga salah wakil dia di organisasi gitu, baik tapi karena ga se hobi jadi kalau bahas ya seputaran Rama aja." Mereka sudah di ujung kolam, sudah harus menyeberangi lagi menuju rumah.
Rama melihat sekarang Rama tengah serius melihat layar tabletnya dengan kacamata kerjanya, Laras jadi berfikir keras. Kalau yang pernah dibawa ke rumah ini adalah wakil Rama dulu berarti perempuan itu bukan perempuan biasa, mengingat Rama dulunya menjabat sebagai presiden mahasiswa, wakilnya tentu juga harus mengimbanginya.
'Mantannya pasti anak ambis, pinter, cantik dan public speaking nya bagus, secara wakil presma.' Laras jadi insecure sendiri, memikirkan perempuan yang pernah Rama perkenalkan ke mama Rani selain dia.
Memilih melupakan itu Laras melewati Rama, memilih ke dapur mencuci buah hasil panen yang belum mama Rani cuci. Kepalanya mulai pusing karena ramai pikirannya sekarang, mulai overthingking dan mempertanyakan segala hal.
***
Rama berpindah tempat ke ruang makan setelah melihat mamanya dan Laras mesuk ke dalam rumah, memilih melanjutkan pekerjannya sambil melihat Laras mempersiapkan buah-buahan.
"Coba kalau setiap hari pemandangannya kayak begitu, adem ya bang." Goda mama Rani yang baru saja mendudukkan diri di sebelahnya.
Mereka berdua tersenyum menatap Laras,"Untuk hari aku ajak ke sini aja dia gak tau, kalau tau pasti ga mau."
Mama Rani tertawa kecil,"Dia keliatan masih polos."
"Dia masih muda ma, buat nikah kayaknya ..." Rama menggantungkan ucapannya, dia tau mamanya pasti mengerti maksudnya apa.
"Bisa di bicarain dulu bang, pelan-pelan... Abang kan udah siap dalam segala hal juga, nggak baik menunda lama-lama." Mama Rani menepuk-nepuk pundak anaknya menasehati.
"Kalau tetep belum mau gimana?"
Wanita itu mengerutkan keningnya,"Yaudah, jangan dipaksa, hargai pendapat dia, semua pasti ada alasannya kan? selama alasan itu logis, wajar aja bang."
"Iya abang tau, cuma lagi nguji mama aja." Rama tertawa melihat wajah kesal Rani.
"Dari dulu mah mertua yang nguji calon mantu, ini malah kebalikan." Bersamaan dengan berhentinya pembicaraan mereka, Laras selesai dengan sepiring buah-buahannya.
"Udah? kerjain lagi tuh kerjaannya." Tegur Rama membuat Laras yang baru saja akan memasukkan sebuah strawberry ke mulutnya itu cemberut, lalu melirinya sinis.
"Mama mau ke depan dulu deh, nyiram taneman sambil nunggu persenan mama," kata Mama Rani pergi tampa persetujuan 2 anak muda di sampingnya.
Setelah melihat Mama Rani keluar dari ruang makan, Laras langsung merengek kesal, dia menghentakkan kakinya kesal, merasa frustasi dengan tugasnya dan juga Rama.
Laras manyun, berdecak kesal atas perintah Rama, "Mas menghancurkan mood bagus ku!"
Ya... yang dikatakan memang benar sih, tugas ada memang untuk dikerjakan! tapi tidak sekarang juga, saat Laras tidak memiliki niat dan mood untuk mengerjakan nya, mau di paksa juga otaknya kesusahan memproses apa yang ada.
Rama tertawa pelan sambil mengacak rambut gadis itu gemas,"Terus mau gimana?" Rama selalu ingat dia menghadapi gadis yang baru menginjak 20 tahun.
"Gak tau, gak mood." Tubuh gadis itu sudah bersandar lemas meja makan, menempelkan sebelah pipinya di atas meja.
Rama memainkan pipi bulat gadis itu dalam diam, "Mantan kamu dulu pasti nggak pernah kayak aku ya mas?"
"Mantan yang mana?"
Laras melotot,"Emang banyak banget ya?" Tidak disangka Rama playboy juga ya.
Rama menggaruk tengkuknya cemas,"Ya ga banyak, tapi lebih dari satu."
"Yang kata Mama pernah mas kenalin juga." Sebenarnya gadis itu sudah mulai overthinking, tapi mencoba untuk tenang, "Kamu lupa kalau kita berantem ya mas?"
Rama meneguk ludahnya, dia kira gadis itu sudah lupa karena dari tadi sepertinya mereka baik-baik saja.
"Tadi ada Mama, gak mungkin aku judesin anaknya," jawab Laras seolah tau apa yang Rama pikirkan.
"Bukan cuma laki-laki sayang, yang ngerasain kayak gitu... kalau yang kamu maksud adalah masih belum bisa move on."
"Masih memiliki tempat tersendiri itu di masa lalu, di kenangannya, bukan di hati... di hati cuma bisa ada 1 yang utama, kalau dua ga muat, takutnya malah meledak," Sambungnya masih betah memainkan pipi Laras.
Nanggung sekali epribadiiiii...
tapi ya sudahlah kan minggu kemaren udah ga update, dan ini masalahnya sampe lupa juga gue, astaga dragon, jadi gas aja malam ini langsung up...
semoga masih pada betah dah kalian, aku menerima kritik dan saran kok, di komentarin dong :'(
Udah ya papaiii
14 Desember 2021
01.17 pagi
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Pacar [TERBIT]
ChickLitCover by seelviyeo13 Laras tak habis pikir, entah sekenario apa yang sudah tuhan tuliskan untuknya, kenapa semakin rumit saja cobaan perkuliahan nya di semester yang semakin tua ini. "Ngapain kamu liatin saya begitu?" Suara berat itu membuat Laras s...
![Pak Pacar [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/267938254-64-k126466.jpg)