~Happy Reading~
Tandain kalau ada yang salah
Hari ini ceritanya Laras akan belajar bersama di perpustakaan fakultas, di waktu-waktu mendekati Ujian Akhir Semester seperti ini tempat itu pasti akan ramai, jadi mereka memutuskan untuk memakai kelas yang kosong untuk belajar.
Kelas Pak Digta akan dimulai siang nanti, tapi pagi ini tentu mereka harus menyiapkan bahan presentasi individu untuk pengambilan nilai akhir.
Laras selesai membaca ulang slide presentasinya, "Deg deg-an banget gue."
"Udah belajar tiga hari masih aja tremor gue." Ridha sibuk membolak-balik kertas laporan ,yang sudah banyak coretan dan batasan warna-warni untuk memudahkan dirinya belajar.
Rania dengan catatan nya yang bersih, "Apalagi gue ga belajar."
"Belajar aja di bantai, apalagi ga belajar yang pas ditanya ngang ngong doang." Sinis Vania, salah satu teman sekelas yang juga sengaja datang lebih awal hari ini.
Rania mengerutkan kening, memasang wajah tidak suka, "Nggak apa-apa, tugas gue dari awal udah dipuji mulu sama Pak Digta."
"Kok bisa?" Laras terkesiap, wah kenapa dia tidak mendapatkan itu?.
"Iya dong, gue kan rajin, kalian tuh kalau abis kelas langsung kerjain biar gak lupa caranya, bukanya nunggu deadline." Rania berbicara dengan bangganya, menasehati dua temannya yang sulit sekali di ajak ngerjain tugas.
Laras sendiri tidak bisa menjalankan hal yang mendadak dan belum ada di list harian, dan Rania sering kali mengerjakan di hari itu juga, diluar hal yang harus dikerjakan Laras hari itu, biasanya dia akan mendahulukan yang lebih dekat dengan deadline, termasuk tulisan-tulisan fiksinya.
"Lo dadakan sih." Protes gadis itu akhirnya.
Rania menatap gadis itu sengit, "Heh gue tiap mata kuliah statistik langsung ngerjain, tapi lo gapernah masukin list buat nugas setelah mata kuliah."
Laras menghembuskan nafas berat, "Kan capek abis mikir Ran."
Ridha tertawa mendengar nya, "Alasan." Begitulah jika manusia rajin macam Rania harus bertemu dengan Ridha dan Laras yang lelet.
"Lima menit lagi kelas nih, naik yuk." ajak Laras sudah merapikan barangnya, laptop sengaja tidak dimatikan supaya praktis dan mungkin bisa dipinjam teman lain nanti.
Mau tak mau Vania yang dari tadi memang ikut dengan mereka pun mengikuti keluar, menuju lift untuk ujian di lantai lima. Saat lift terbuka mereka tidak berani masuk, melihat Pak Digta berada di dalam sana bersama ketua kelas.
Mengetahui wajah tidak enak anak didiknya Rama akhirnya menginterupsi, "Masuk aja."
Vania dengan cepat memasuki lift, disusul Ridha lalu terakhir Laras yang ribet dengan ransel dan laptopnya. Laras yang paling dekat dengan tombol tentu saja harus memencetnya, tapi tangannya sendiri sudah kesusahan membawa barang sehingga Pak Digta sendiri yang maju untuk menekan tombol.
"Makasih pak." Laras mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang sekarang berada di sebelahnya.
Tidak mengucapkan apapun sampai akhirnya sampai di lantai tujuan, sudah ada beberapa mahasiswa menunggu di depan ruangan, "Masuk semua! langsung presentasi satu-persatu aja," katanya sambil memasuki ruangan kelas.
"Pak, tapi belum semuanya hadir." Dino selaku ketua kelas ketar-ketir memikirkan nasib kawannya yang lain.
Pak Digta sibuk menyiapkan lembar penilaian,"Nggak apa-apa, yang lain bisa menyusul."
"Mau maju sendiri apa saya panggil?" Lanjutnya tidak ditanggapi salah satu pun mahasiswa, bingung antara mengorbankan teman atau diri sendiri.
"Oke saya panggil acak saja." Putus Pak Digta setelah tidak mendapat jawaban.
Pasrah sudah, entah apa yang akan dihadapi kali ini.
***
Tidak disangka ujian akhir dengan Pak Digta hari ini berjalan sangat lancar, semua mahasiswa keluar kelas dengan lega karena ternyata ujian akhir dengan dosen muda itu tidak semengerikkan yang di kira, Pak Digta tampak bersahabat hari ini, mungkin mood nya sedang bagus sekali.
"Sumpah-sumpah gak nyangka." Dino sampai terharu karena pujian dan ucapan terima kasih dari Pak Digta terkait kinerjanya sebagai ketua kelas tadi.
Disela-sela kebahagiaan satu kelas ini, Laras memperhatikan Dosen itu yang berhenti berjalan setelah di panggil oleh salah satu mahasiswi, mereka tampak berbincang disana. Setelah Laras melihat pemandangan itu, yang lain sepertinya paham kemana arah pandang nya.
"Itu si Vania ngapain si?" Rania yang pada dasarnya memang saingan merespon tidak suka.
Ridha memperhatikan mereka, "Jadi inget postingan terakhir Pak Digta."
Dino memasang wajah kaget, "Jangan-jangan..." katanya menggantung.
"Apasih." Kesal Laras lalu berjalan cepat menuju lift, melewati orang-orang termasuk Pak Digta yang masih di ajak ngobrol gadis bernama Vania itu.
"Lah kenapa temen lu?" tanya Dino keheranan melihat Laras pergi dengan rasa kesal.
"PMS kali," jawab gadis itu segera ikut menyusul memasuki lift.
Pak Digta atau Rama yang melihat Laras dengan buru-buru memasuki lift hanya tersenyum kecil, mahasiswi di hadapannya ini masih melanjutkan sesi konsultasi nya.
"Bisa kita lanjut nanti? ini bukan urusan kampus." Putusnya sebelum semakin lama dia harus berdiri di sini.
Vania mengangguk kaku, "Baik pak."
Lelaki itu memutuskan turun lewat tangga, lift sedang penuh dengan mahasiswa yang akan turun, sebaiknya dia ke ruang dosen. Dan Laras yang memiliki kelas pelatihan online hari ini, tidak langsung pulang, gadis itu ke perpustakaan pusat yang memang lebih luas walaupun sedikit jauh dari gedungnya.
Laras memang sedang gencar mengikuti pelatihan bersertifikat untuk menambah pengalaman dan skillnya, bekal dia lulus kuliah nanti. Tetapi suara-suara temannya membuatnya kesal, topiknya masih sama dari gedung fakultas sampai mereka pindah ke gedung perpustakaan.
"Tapi emang mencurigakan sih,"
"Wajar banget si kalau Vania, maksudnya siapa sih cowok yang gak suka sama dia? idaman semua cowok sih."
"Tapi di foto gak kayak dia, lo ngeyel banget."
"Kan mukanya ga keliatan, ga terima banget lo."
"Tapi kita juga bisa kali lihat posturnya, jelas-jelas bukan kayak dia."
"Lo kalau saingan akademis, ya udah dong Ran, sampe segitunya."
"Bukan gitu, ck! tau deh."
"Diem bisa nggak sihh." Gertak Laras pelan, tangannya menyentil kening kedua temannya.
"Iya maap," jawab Rania mengusap keningnya pelan.
Laras menutup laptop dan catatannya,"Katanya mau liat kelas gue, malah pada ribut lu pada."
"Jelasin aja." Laras jelas menggeleng tidak setuju.
"Males," katanya lalu pergi meninggalkan kedua temannya.
Gadis itu dengan cepat turu ke bawah, sampainya di bawah dia baru membuka smartphone nya yang sedari kelas dia matikan, ada beberapa pesan dan panggilan dari Rama.
Dan sekarang terlihat panggilan masuk dari lelaki itu lagi, "Kenapa gak di angkat?" Suara dari belakang nya membuat gadis itu tersentak, hampir saja Handphone nya jatuh jika manusia yang mengagetkannya itu tidak menangkapnya.
Laras menoleh ke belakang, menemukan Rama sedang memegang smartphone milik Laras.
Bersambung...
Hai haiiii untuk novel Pak Pacar ini sudah bisa kalian order lewat akun shopee atau kalian cek di instagramnya Penerbit KataDepan yahhh :)
Versi novel lebih panjang dan jelas dari ini, banyak perbaikan dan tambahan di novel fisiknya oleh karena itu bab 28-50 (ending) bisa kalian baca di sana dengan lebih puas dan nyaman, apalagi dengan merc nya yang luchuu
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Pacar [TERBIT]
ChickLitCover by seelviyeo13 Laras tak habis pikir, entah sekenario apa yang sudah tuhan tuliskan untuknya, kenapa semakin rumit saja cobaan perkuliahan nya di semester yang semakin tua ini. "Ngapain kamu liatin saya begitu?" Suara berat itu membuat Laras s...
![Pak Pacar [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/267938254-64-k126466.jpg)