Di lain tempat yang entah dimana, rain terbangun di ruangan yang gelap gulita. Kakinya melangkah mencari jalan keluar.
"Dimana ini? Hello ada orang?!" Teriaknya. Kakinya terus melangkah mencari jalan keluar, tak jauh dari sana ia melihat setitik cahaya yang sama seperti yang ia lihat di tebing. Ia berlari menuju ke arah cahaya itu, semakin dekat ia semakin terang pula cahaya itu. Tangannya menutup matanya saat ia telah keluar dari kegelapan.
Perlahan tangannya turun dan waw."indahnya"
Pemandangan indah menjadi hal pertama yang ia lihat.
"Hai rain,selamat datang di ruang dimensi" sapa seseorang dari belakang. Rain berbalik ke belakang.
"Siapa?" Tanyanya dingin.
"Rain Gilbert"
"Pasti kau bingung dengan semua ini, tapi yang pasti suara yang kau dengar adalah suaraku. Aku yang memanggil mu untuk menggantikan posisi ku. Kau adalah Rain dan aku juga adalah Rain. Kita adalah satu jiwa yang terpisah" lanjutnya.
"Tap-"
"Kehidupan yang akan kau hadapi berbeda dengan kehidupan mu yang dulu. Perbaiki apa yang perlu di perbaiki dan tinggalkan apa yang perlu di tinggalkan." Potong rain Gilbert sebelum rain menyelesaikan ucapannya. Tangannya perlahan terangkat menyentuh dahi rain. Cahaya biru keluar dan perlahan kesadaran rain menghilang.
"Itu adalah sedikit dari ingatanku dulu. Dan selamat tinggal" itu adalah kata-kata terakhir yang rain dengar sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.
.
.
.
Di dalam kamar yang penuh dengan nuansa pink. Seorang gadis tergeletak tak sadarkan diri setelah meminum obat tidur hingga overdosis. Tak ada yang mengetahui kejadian ini.
Perlahan mata dengan bulu mata lentik itu terbuka."Akh kepala gw" kedua tangannya menumpu pada lantai. Ditatapnya sekeliling kamar yang sangat luas kemudian pandangannya beralih pada obat yang berhamburan di sampingnya.
"Obat tidur? Dan kamar siapa ini? Warnanya menyakiti mata" ujarnya. Ia bersandar pada dinding dan berusaha mengontrol rasa sakit di kepalanya.
Tok tok
"Non bibi bawa makanan" ujar orang di balik pintu. Rain buru-buru menyembunyikan obat itu dibawah kasurnya.
"Masuk" ucapnya.
Cklek
"Non astaga! Non kenapa?" perempuan berumur itu panik saat melihat salah satu anak majikannya terduduk dilantai dingin. Ia segera menaruh nampan berisi makanan itu ke meja lalu membantu rain untuk berdiri.
"Ukh gak papa kok bi, cuma agak pusing dikit" balas rain canggung.
"Bibi panggilin dokter ya?"
"Gak usah bi" tolak rain lembut.
"Emm..Bibi bawa apa?" Rain menunjuk nampan di meja pink yang tak jauh darinya. Ingatkan rain untuk merenovasi kamar ini nanti. Sungguh warna pink membuat matanya sakit.
"Bibi bawa makanan non, dari kemarin non gak mau makan. Bibi khawatir non kenapa-kenapa" balas bi aisa lembut.
"Ouh..hehe lagi diet bi" ujar rain asal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonist Or Protagonist (END)
FantasyTerjebak di dunia novel hanya dengan mengandalkan ingatan yang samar. mampukah rain bertahan?
