Hari libur yang seharusnya digunakan rain untuk istirahat malah dipergunakan untuk mengintai seseorang yang berhubungan dengan vera. Tidak dipungkiri jiwa ke kepoannya membawanya pada setitik kebenaran yang dicari.
Pagi tadi saat eka berangkat ke sekolah, Rain sudah siap dengan pakaian serba hitam tak lupa pula kacamata dan masker ia kenakan untuk menyembunyikan wajahnya. Hari ini dan seterusnya rain sudah bertekad untuk mencari kebenaran dari masa lalu nya serta mengapa reyhan menyebutnya sebagai pembunuh saat itu.
"Mari kita lupakan para tokoh utama dan fokus pada pencarian kebenaran masa lalu rain. Karena entah kenapa gw ngerasa bakal pergi jauh."
"Gw harus buktiin ke Reyhan kalau gw bukan pembunuh. Dan gw bakal buat dia bertekuk lutut di hadapan gw. Tapi apa bisa? Si Reyhan psikopat gila itu mana mau berlutut dihadapan musuhnya sendiri. Gila kali lo!"
"Taksi!" Tangannya melambai ke arah taksi yang lewat.
Taksi berhenti tepat dihadapannya, rain masuk ke dalam."Manna house cafe pak"
"Siap mba."
"Busett, mba-mba gak tuh" batin rain.
Rain mengecek handphone-nya yang terus bergetar. 17 panggilan tak terjawab dari ayahnya,2 pesan dari nomor tidak dikenal dan 30 pesan dari grup Anak Sultan. Rain mengabaikan panggilan dari ayahnya dan memilih membuka chat dari nomor tidak dikenal itu.
+6285392...
|Woi
|Save bck
Sp?|
|Buset dingin amat lo
Bomat! Gk pntg auto block!|
|Eh...bentar dulu ngab, gw tony pacar lo yang ganteng seantero negeri.😘
Najisun|
|Dih bilangnya aja najis tapi waktu itu meluk gue.
Kepaksa|
|Gimana motor gw bagus gak?
Hm|
|Oh iya, si leon bilang lo satu sekolah sama dia. Bener cloud?.
Hm|
|Tunggu kejutan gw ya. Terus jangan lupa save no gw.
"Udah sampe mba" rain mengalihkan pandangannya dari handphone ke arah cafe di sampingnya. Rain turun dari taxi setelah membayar, kakinya melangkah masuk ke dalam cafe. Tidak banyak pengunjung yang datang seperti di tempat kerjanya, apa karena cafe ini teruntuk orang-orang berdompet tebal? entahlah itu hanya spekulasi dari yang rain lihat karena kebanyakan pengunjung cafe ini memakai jas layaknya pengusaha sukses.
Rain memilih meja di sudut agar lebih mudah mengintai. Pertama ia kembali melihat sosok yang vera temui di dalam ponselnya setelah itu ia kembali meneliti sekitarnya."gada tanda-tanda orang ini ada disini. Tapi mending gw nunggu bentar"
Satu jam...
Dua jam...
3 jam berlalu namun orang yang ditunggu masih belum menunjukkan batang hidungnya, jus yang dipesan rain sudah habis sejam yang lalu. Jam menunjukkan pukul 11.49 waktunya jam makan siang. Cafe mulai dipadati oleh karyawan kantor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonist Or Protagonist (END)
FantasyTerjebak di dunia novel hanya dengan mengandalkan ingatan yang samar. mampukah rain bertahan?
