Part 32

9.3K 806 41
                                        

Suasana kampus pagi ini sangat riuh, disertai teriakan dari orang orang yang mendukung pilihannya masing masing. Perkelahian terjadi antara rain dan Catherine. Kali ini Catherine hanya sendiri, mencoba menhadapi macan tutul semacam rain. Aksi jambak-jambakan pun tak luput dari aksi mereka.

Cara main ain berbeda dengan aksi jambakan yang dilakukan oleh Catherine, rain lebih suka adu jotos ketimbang hal semacam itu, tapi berhubung lawan yang di hadapinya monyet yang baru lepas kandang ya boleh boleh aja.
Permasalahan bermula kala rain menolong vera dari bulian Catherine, dan vera? Dia sudah pergi entah kemana meninggalkan rain dan monyet itu.

Tak ada yang berani menghetikan aksi mereka. Bahkan salah satu dari teman sekelas rain malah senang dengan pertengkaran itu. "rasakan itu, baru jadi mahasiswi baru aja udah songong banget. Mampus!!"

Perkelahian masih terus berlanjut, revan dan Stefan sama sekali tidak berniat menengahi hal tersebut. Katanya rain mampu membereskan dia. Tapi sedetik kemudian semua orang melongo kala Catherine menimpuk kepala rain menggunakan batu yang entah di ambil dari mana.

Telinga rain berdenging hebat, darah segar keluar dari kepalanya. Catherine menatap tak percaya pada apa yang ia lakukan, dia tidak berniat sampai segitunya. Tapi karena rasa kesalnya ia jadi melampiaskan semuanya pada rain. Catherine mundur dengan tangan bergetar.

Seseorang dengan cepat maju membawa rain keluar dari kerumuna. Entah dating darimana, reyhan berlari keluar mencari mobilnya dan membawa rain ke umah sakit terdekat. "tolong bertahanlah"

Setelah tiba, dokter dengan cepat melakukan pemiksaan pada rain. Sejam kemudian semua orang tengah berkumpul di ruang vvip yang di tempati rain. Rasa cemas menghampiri semua orang namun tatkala jari jemari rain bergerak, semua orang tesenyum bahagia menanti rain sadar dari pingsannya.

Eka,Jessie dan aliya juga turut hadir, mereka telah mengetahui bahwa rain yang kini tengah terbaring tak sadarkan diri di brankar rumah sakit adalah rain sahabat mereka yang dulu mereka kira telah tiada.

Dan juga para sahabat reyhan sama halnya dengan Jessie. Mereka awalnya heran dengan reyhan yang tiba-tiba bersikap aneh pada orang yang mereka kira rain yang lain.

Vera dan kedua orang tuanya juga trut hadir.
"eungh.."

"rain!!!" seru semuanya

"dimana ini? Kenapa kepalaku di perban?"

"akhhh rain gw kangen banget sama lo"

Rain menatap eka heran."eka? ngapain gw disin? Dan kenapa lo semua?khawatir gitu"

Semuanya saling menatap tak percaya, kecuali vera dan ibuya. Revan dan Stefan tersenyum dalam diam, akhirnya tugasnya akan selesai dan revan bisa kembali ke alam sana dengan tenang.

"lo inget gw ra?"

"loh emangnya gw lupa ingatan?"

"gak, lo gak lupa ingatan. Gausah ladenin tuh bocah sengklek" Jessie maju menarik eka menjauh dari rain.

Gilbert maju dan memeluk rain."terimakasih tuhan terimakasih"

Flashback

Saat rain tak sadarkan diri, di alam bawah sadarnya ia bertemu dengan sesorang wanita beumur yang teramat sangat cantik. Dan wanita itu adalah ibunya, selama disana ibunya menceritakan semua kehidupan rai sebagai rain Abraham dan rain gilbert dan alasan kenapa ia menggantikan posisi rain gilbert yang asli, alasannya hanya mereka berdua yang tahu.

Dan setelah ibunya pergi atau menghilang, kilasan memorinya sebangai rain Abraham dan rain gilbert perlahan memasuki kepalanya. Saat sadar rain berpura pura seakan-akan tidak mengetahui bahwa ia telah mengalami lupa ingatan.

Bersamaan dengan rain yang mengingat segalanya, ikatan arwah rain gilbert juga terlepas dari tubuhnya. ikatan yang mencegahnya menemui rain.

"hahahaha bebas akhirnya aku bebas hahahahahahaha, huhuy rainnn aku kembali padamu, selama ini kau pasti susah tidak ada aku kan?"

'matamu! Gw baik-baik aja tanpa kau.dan tolong jangan berisik, suara mu sangat-sangat mengganggu di telinga ku'

'gak. Gw baru bebas dan gw mau lo tau rasanya dikurung disana, huwaa sumpah ya rain selama lo gak inget siapa diri lo sendiri. Gw yang kena batunya, masa gw dikurung bareng hantu tersesat lainnya kan gak elit banget.'

'diam'

Okey kali ini rain gilbert diam.

Kembali ke dunia nyata, tangan revan perlahan memudar menjadi tembus pandang. Stefan menyadari hal itu, dengan cepat ia menarik tangan revan keluar dar sana.

"gapapa."

"apanya yang gapapa hah?!"

"tugas gw sudah hampir selesai. Dan saat itu tiba tolong jaga rain, tolong katakana padanya bahwa awannya akan selalu merindukan sang hujan. Sampai bertemu di garis takdir menurut sang pencipta. Gw pamit "

Bagaikan buih,perlahan tubuh revan menjadi transparan dan menghilang dari hadapan Stefan."selamat jalan revan, gw janji saat itu tiba rain akan baik-baik aja, ya sampai saat itu tiba dan semuanya akan berakhir"

Saat Stefan memasuki ruangan, aliya bertanya kemana perginya revan."revan mana?"

Stefan menatap rain, rain menggeleng dengan senyuman terpatri di wajahnya. Gadis itu sudah tahu bahwa revan hadir karena keinginannya, hal itu di ceritakan oleh rain gilbert.

Stefan mengangguk membalas snyuman rain."dia pergi, pergi yang jau sampai mata tak bias melihatnya"

Perkataan ambigu Stefan membuat semuanya kecuali rain heran.

Rain menatap ke luar jendela rumah sakit pada kumpulan awan yang berkumpul dengan indahnya. 'selamat tinggal awan, terimakasih telah menemaniku selama ini. Aku menyayangi mu"

Tbc.

Antagonist Or Protagonist (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang