Minggu ini rain isi dengan kegiatan merenung. Kembali mengingat kejadian yang jelas-jelas ia lalui dan rasakan. Buku novel yang sedari tadi ia pegang belum di buka sama sekali. Gadis itu terlalu gugup untuk membukanya.
"Gw takut kejadian yang gw alami itu ternyata nyata, gw bukannya bersyukur dengan kenyataan bahwa semua itu hanyalah mimpi semata tapi...akhh sudahlah"
Kembali merenung tentang alur novel yang ia rubah dan jalan cerita yang melenceng jauh. Rain kembali mengingat saat pertama kali memasuki novel yang sedang ia pegang itu.
Rasa rindu menyeruak kedalam hatinya. Rain rindu pada ke tiga sahabatnya, meski sebentar tapi mereka mampu mengisi kekosongan di hati rain.
"Gw rindu mereka"
"Setelah gw kembali kesini, apa yang terjadi pada mereka semua?"
"Gw terlalu takut untuk membuka novel ini, gw takut segala sesuatu yang terjadi disana juga mengubah alur asli pada novelnya."
Suasana kamar yang hening menjadi saksi bisu betapa gugupnya rain saat ini.
"Transmigrasi? Hahaha gw pasti udah gila!"
"Ini bukan dunia novel atau dunia watpadd yang kerjanya halu. Ini dunia nyata rain!" Tekannya pada diri sendiri.
"Jangan ikutan bodoh seperti mereka yang halu tentang transmigrasi ke dunia novel atau dunia paralel, pikir pakai logika! Jangan bodoh! Otak lo taro dimana rain hah?!"
"Gw gak bisa begini terus, bisa bisa gw jadi gila! Tapi...cuma di sana gw bisa ketemu Revan"
"Revan, gw gak tau apa maksud lo bisa muncul di dunia tempat gw kesasar dan apa tujuannya. Lo itu udah mati van! Gw cuma mau lo tenang di alam sana. Tapi kenapa lo samperin gw ke dunia itu sih?"
Rain merebahkan diri lalu menatap dinding kamarnya. "Tuhan, apa sebenarnya maksud dari semua ini. Jika itu benar mimpi lantas apa artinya? Jika itu nyata lalu kenapa aku bisa kembali hidup sebagai rain Abraham. Semua tidak akan terjadi tanpa ada maksud tertentu, tolong beri aku satu petunjuk saja."
Rain akhirnya tertidur tanpa mendapatkan jawaban sama sekali.
Hari berikutnya, rain sedang berada di perpustakaan. Memilih untuk melupakan semua kejadia gila yang ia alami.
Tapi telinganya tak sengaja mendengar percakapan beberapa gadis yang seusianya.
"Gw gak nyangka banget ternyata antagonis yang sesungguhnya itu si vera anjing" ucap gadis pertama.
"Ho'oh bisa-bisanya dia nipu semua orang termasuk Reyhan. Sumpah gw gak habis pikir sama tuh orang" balas gadis kedua.
"Jangankan lo berdua, gw aja udah greget pengen hajar tuh cewek." Timpal gadis ketiga
"Inti dari cerita ini adalah jangan percaya dengan wajah seseorang. Wajah bukan penentu mereka baik atau enggak. Dan jangan pandang seseorang sebelah mata. Ingat kata Boboiboy gak?"
Ketiga temannya menggeleng. Gadis keempat tadi kembali menatap para temannya."gini, kata Boboiboy itu. Pandang dari sudut berbeda, berpikir di luar kotak."
Di samping itu rain mengernyit heran dengan maksud perkataan gadis itu, begitu juga ketiga teman gadis tadi.
"Artinya?" Tanya gadis ke dua.
"Artinya, jangan memandang sesuatu dari satu sudut pandang tapi pandang dari segala sisi, dan jangan mengambil keputusan dengan satu pemikiran tapi berpikirlah seluas mungkin."
"Gw masih gak paham."
Gadis ke empat tadi merasa dongkol, apa tidak cukup penjelasan darinya? Ini cara penjelasannya yang sulit atau memang otak sahabatnya yang bodoh?
"Gini, lo jangan mandang dari sudut pandang satu orang saja, tapi cari tau juga apa yang di lihat orang lain terus pikirin mana yang memang benar-benar salah dongo!"
Dengan tampang tak berdosa nya, gadis ketiga tadi hanya cengengesan menampilkan giginya.
"Oh, gw ngerti"
"Pantasan aja si rey belain si ppb itu, toh si reyhan cuma lihat segala sesuatunya dari sudut pandang si veranjing. So mana mungkin reyhan tau siapa yang salah dan benar."
"Orang di sekitar rain juga gitu, menghakimi orang tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Emang devinisi orang goblok"
Gadis ke empat tadi kembali membuka suara saat ketiga sahabatnya terdiam."ending nya gimana? Gw belom baca"
Nah ini yang sedari tadi di tunggu oleh rain. Ending dari cerita itu apa? Jantung nya sudah seperti akan lepas dari tempatnya, bukti bahwa gadis itu tengah gugup bukan main.
"Sad ending"
"Loh?"
"Iya, rain ternyata mengidap kanker hati, itupun udah stadium akhir. Ayahnya tau pas rain siap-siap pulang dari rumah sakit, penyakitnya kambuh di tempat. Dan rain tiada saat operasi. Udah deh end"
"Ada baiknya sih rain mati, daripada hidup di tengah orang orang yang dulunya jahat ke dia. Gw juga gak terima rain hidup berdampingan sama si Reyhan. Gw gak sudi"
"Lo gak tau aja del. Si Reyhan bunuh diri pas tau rain mati"
"Lah kok bisa?"
Rain terkejut bukan main, kenapa alurnya semakin berantakan? Dan sejak kapan rain mengidap kanker? Apa-apaan semua ini? Gila!!
"Gatau, maybe dia menyesal."
Setelah puas mendengar apa yang ingin rain dengar. Gadis cantik itu pergi dengan pikiran yang berkecamuk. Sampai dirinya tak sadar telah berada di pinggir jalan yang ramai akan kendaraan.
Dari arah sampinng, motor melaju dengan bunyi klakson nya namun rain tak menyadarinya. Sedikit lagi motor itu menabrak rain tiba-tiba tangan kekar menariknya mundur.
Rain tersentak kaget. Kesadarannya kembali, sang pembawa motor berhenti lalu memarahi rain.
"Kalo di jalan jangan bengong mba. Kalo salah dikit saja tadi bisa kecelakaan kitanya. Kalo mbanya udah bosen idup, bunuh dirinya jangan nabrakin diri ke motor saya, tuh banyak kendaraan besar."
"Maaf pak saya salah" rain beberapa kali membungkuk.
"Lain kali hati-hati mba" setelahnya pengendara tadi pergi.
"Sekali lagi maaf pak"
Rain menghela nafas. Berbalik menatap pria yang menolongnya."terimakasih"
Pria yang menolongnya hanya tersenyum tipis. Lantas mengatakan hal aneh."jangan di pikirkan, semua telah berakhir dan itu sudah takdir. See you"
Pria itu pergi meninggalkan rain yang kembali mematung. Senyum tipis kembali terukir di bibir sang pria. "Akhirnya"
END
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonist Or Protagonist (END)
FantasyTerjebak di dunia novel hanya dengan mengandalkan ingatan yang samar. mampukah rain bertahan?
