Kini semua perhatian tertuju pada gadis yang berdiri di belakang rain. Jessie ikut berbalik melihat ke belakang.
Jessie berdiri dan bertanya pada rain."ada apa?"
Rain menyodorkan kalung yang berada di tangannya pada Jessie."ini punya lo kan?" Jessie segera meraba lehernya dan benar saja kalung itu sudah menghilang. Dengan cepat ia mengambil kalung itu lalu memakai nya.
"Terimakasih"
Rain masih berdiri kaku. Ia ingin bertanya soal nama perempuan itu."anu...gw boleh tau siapa nama lo?"
"Jessie"
Semua orang di meja itu masih menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tidak! Itu bukan halusinasi mereka tapi ini nyata. Gadis yang berbicara dengan jessie memang rain. Tapi pertanyaannya kenapa rain hanya menyapa Jessie dan anehnya lagi kenapa rain menanyakan nama Jessie.
Setelah mengetahui nama Jessie, rain bergegas pergi tak lupa ia pamit pada Jessie."ah terimakasih Jessie. Kalau begitu gw pamit"
Rain beralih menatap kumpulan remaja yang ia yakini teman-teman Jessie."maaf mengganggu" setelah nya ia memakai masker kemudian pergi dari sana.
Saat rain ingin menarik gagang pintu keluar, lonceng cafe berbunyi tanda seseorang juga masuk.
Kembali lagi, bak adegan slow motion keduanya saling melewati satu sama lain. Jika ini di dunia komik maka akan ada sepercik listrik yang menghubungkan mereka berdua.
Tanpa mereka berdua sadari benang merah yang telah lama putus kini kembali terikat di masing-masing jari kelingking mereka. Benang merah yang mengikat mereka pada takdir yang belum sempat mereka selesaikan.
Reyhan memasuki cafe dimana para sahabatnya berada. Namun langkahnya terhenti, ia menoleh kebelakang namun tak ada seseorang, entahlah hatinya merasakan hal aneh saat berpapasan dengan orang itu. Tak ingin ambil pusing Reyhan kembali melanjutkan langkahnya.
Tanpa ia sadari setelah ia melangkah. Rain juga menoleh ke arah pintu tempatnya berpapasan dengan orang yang tidak dikenalnya.
"Reyhan..." Gumamnya tanpa sadar. Setelah itu ia kembali melangkah menjauh dari tempat itu.
***
"Tampar gw sekarang"
Plak
"Shhh apa apaan sih lo, kok nampar gw?" Daniel memegang pipinya yang terasa panas.
Eka heran sendiri dengan manusia jelmaan kuda di hadapannya itu."lah lo sendiri yang minta di tampar"
"Tapi gak ditampar beneran kali! Sakit ini!" Eka mengangkat bahunya acuh."bodo amat"
"Ini gw gak mimpi kan tadi itu beneran Ra-mphhh lepwashin." zein membekap mulut daniel saat melihat Reyhan.
"diem! Ada Reyhan!" Suara rendah zein membungkam mulut semua orang.
Rey menatap aneh pada zein yang membekap mulut daniel dan keterdiaman semua orang. Sejujurnya Reyhan mendengar ucapan daniel tapi keburu di tahan oleh zein.
"Ra?" Ucapnya setelah duduk di samping bima.
Semuanya terdiam. Daniel sudah panas dingin di tempat nya saat mendapatkan tatapan tajam Reyhan dan semua temannya.
"Ra ra ra rancangan baju eka bagus banget! Gw gak mimpi kan?! Gw Jadi orang pertama yang ngeliat rancangan sebagus itu." Semua menghela nafas lega mendengar alasan tak masuk akal daniel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonist Or Protagonist (END)
FantasiaTerjebak di dunia novel hanya dengan mengandalkan ingatan yang samar. mampukah rain bertahan?
