15. Engagement?

23.1K 2.8K 265
                                        


Tepat pukul 1 malam-disaat rembulan menggantung gagah di hamparan kanvas hitam-Louis bersidekap dada seraya mengetuk-ngetukkan sepatunya dengan tempo perlahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tepat pukul 1 malam-disaat rembulan menggantung gagah di hamparan kanvas hitam-Louis bersidekap dada seraya mengetuk-ngetukkan sepatunya dengan tempo perlahan. Ia menatap datar pemandangan yang sudah menjadi makanan sehari-harinya itu.

Adegan dimana Raymond De Alger-ayah kandungnya-bercumbu dengan salah satu dari banyak cadangan selirnya. Pria yang telah menginjak masa tua namun-sialnya-masih-tampan itu tengah berciuman dengan seorang wanita di pangkuannya, suara kecipak air liur menjadi satu-satunya melodi yang mengisi keheningan.

Hampir setengah jam yang lalu Louis dipanggil ke kamar ayahnya hanya untuk menontonnya bermesraan di kasur.

Louis melirik langit dari pintu balkon yang terbuka-mengira waktu yang tepat. Mendecak kesal, ia meraih pena berujung tajam dari saku celana piyama.

CRASS!

"AAAKKKHHH!!"

Dalam hitungan detik, pena itu meluncur bebas dan menancap tepat di kepala bagian belakang selir ayahnya. Bahkan ketika jeritan pilu menerbangkan burung-burung yang bertengger, Louis tidak mengubah ekspresinya.

Raymond membuka sedikit mulutnya tak habis pikir, membuang jijik mayat tak bernyawa di pangkuannya. "Ah, padahal yang ini favoritku. Sayang sekali~"

"Kau menggangguku, ayah."

Melompati genangan darah di dekat kasur, Raymond menepuk jubah tidurnya pelan seraya menghampiri Louis. "Aku ingin memberimu hadiah, katakan jika ingin sesuatu."

"Mati."

"Mati?"

"Aku ingin kau mati."

Kamar tidur mewah itu dilanda kesunyian sesaat sebelum Raymond menyemburkan tawa lebarnya. "Kau benar-benar tidak pernah berubah, Louis. Tapi sayang sekali, aku tidak sedang membicarakan nyawaku. Jika kau memang ingin menduduki takhta secara instan, kau butuh usaha lebih, mengerti?"

Dari sepanjang momen keduanya bertukar kata, tidak sedetikpun Louis mengubah ekspresinya.

"Kau yang tidak paham situasi, ayah."

Raymond mengerutkan alis, duduk di sofa dekat jendela dengan satu kaki menumpu yang lain. "Maksudmu?"

"Kau bukan apa-apa tanpaku."

"Begitukah?"

"Aku membawa pena lain."

Menelan ludah, Raymond tertawa canggung setelah memahami makna ucapan anaknya. Meski terkesan tak bermakna, Raymond paham betul terdapat unsur kesal sekilas terpancar dari tatapan Louis.

"Selain memenangkan teritori baru, kau juga melakukan hal yang menguntungkanku hari ini. Jadi, aku sungguh ingin memberikanmu hadiah, Louis-tapi tidak jika kau meminta nyawa."

Her Pathetic FateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang