Agracia Euna memang termasuk kategori orang aneh. Setelah mati tragis setengah bodoh karena menyebrang jalan sembari bermain ponsel, alih-alih bersedih, dia justru bahagia.
Memasuki tingkat kekonyolan baru, tidak cukup sebatas dikirim ke surga atau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Senandung kecil mengalun ditengah keheningan seiring gerakan berulang menyisir rambut ungu pastel sang gadis. Di hadapan meja rias, terpantul kedua wajah yang memiliki air kontras---Irish tenggelam dalam pikirannya dengan bordiran setengah jadi, sementara Chloe tersenyum bahagia menikmati surai nonanya yang begitu lembut.
Irish menghela napas panjang, ingin melanjutkan pekerjaannya yang baru setengah jalan tetapi hatinya sedang gundah. Pandangannya naik, bahkan kacamata bulat super imut milik pelayan pribadinya itu gagal memperbaiki mendung yang sedang merudungnya.
Karena ia sadar betul, satu minggu telah berlalu sejak Orion mengajukan proposalnya.
Dan malam ini, adalah malam dimana perjalanan sesungguhnya akan dimulai---Irish tidak yakin, ia telah berjanji pada ibu dari pemilik tubuhnya untuk tidak menemui akhir yang sama, lantas apakah dirinya mampu?
Irish bukannya takut, namun ia juga masih gadis biasa yang dapat merasa ragu. Sudah sejauh ini, tapi Stacy mampu menyusulnya ke dalam istana? Oh, Irish telah sepenuhnya yakin dengan rencana yang telah ia lalui meski sempat mempertanyakannya beberapa kali. Hanya saja, jika memang takdir telah digariskan mengikuti plot, apa iya Irish sungguh mampu melawannya?
Bagian paling membingungkan, Irish mampu mengubah beberapa hal namun sebagian lain tetap berjalan tanpa kendalinya.
Hal paling menantang adrenalin yang pernah seorang Agracia Euna lakukan adalah melakukan presentasi di depan umum---dan sekarang apa? Rasanya ia bisa gila.
"Chloe, apa menurutmu menghubungi Aries melalui surat masih terasa mustahil tanpa seorangpun tahu isinya?" Irish menyebut satu nama yang sedang paling ia butuhkan.
Aries dan tingkahnya, astaga, Irish tidak mengerti mengapa ia merasa seperti ini---yang jelas, adiknya itu selalu saja mampu meringankan pikirannya.
Chloe mmebasahi bibir, ragu-ragu balas menatap Irish yang tengah menyorotnya melalui pantulan kaca rias. Jujur saja, ia sendiri tengah memakai topeng cerah agar tidak memperkeruh suasana hati Irish---meski sebenarnya ia sendiri khawatir.
"Maaf nona, saya akan berusaha lebih keras untuk mencari celah." Chloe menjawab penuh sesal.
Gadis itu bisa saja menitipkan pesan melalui salah satu orang suruhan Cael yang merajalela---tapi ia sungguh tidak tahu yang mana. Jumlah mereka banyak memang, tapi tak satupun data diri yang Cael tunjukkan padanya---apalagi wajah?.
Irish tersenyum miris. "Menurutmu, apa yang sedang Aries lakukan?"
"Saya tidak tahu bila jadwal Tuan Muda bisa saja berubah kapanpun, namun sejauh yang saya ingat," Chloe menjeda kalimat, melirik hamparan langit yang telah menggelap. "Tuan Muda biasa menghabiskan waktu di ru---"
"Ruang kerja ayah, benar 'kan?" kedua gadis itu terkekeh geli setelah Irish melempar tebakan yang tepat.
"Astaga, Aries benar-benar!" Irish menggeleng tidak habis pikir, senyumnya terpatri penuh warna.